HomeOpini”Noise in Education”: Kegaduhan...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran

Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026

Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya mengenai lokasi pendiriannya, sasarannya, perekrutan gurunya, dan hak-hak istimewa yang didapatkan di sekolah ini. Namun, dari banyaknya isu tersebut, melalui riset saya itu, ada dua hal yang menarik untuk dibahas. Pertama, mengenai institusi yang memayunginya. Kedua, mengenai kurikulumnya.

Mengapa pendidikan kita dikelola banyak instansi?

Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar mengenai Sekolah Rakyat, yang jelas program ini termasuk upaya intervensi di sektor pendidikan yang menyasar pada masyarakat miskin desil 1 dan 2 yang memiliki anak belum atau putus sekolah. Tujuannya mulia, sasarannya jelas, tetapi implementasinya memantik tanya.

Saat ini, terdapat 166 Sekolah Rakyat yang telah diresmikan dan beroperasi di 34 provinsi dan 131 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Sekolah Rakyat menampung total 15.954 siswa yang dibina dan didampingi oleh 2.218 guru. Namun, yang perlu dikritisi di bagian pertama ialah penanggung jawab dari seluruh proses belajar-mengajar di Sekolah Rakyat. Sekolah Rakyat dikelola di bawah kementerian sosial, di mana artinya ini semakin memperlihatkan betapa tidak seriusnya kita mengelola rakyat.

Kementerian Sosial (Kemensos) merupakan kementerian kelima yang mengurus pendidikan di negara kita. Keempat kementerian lain adalah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang mengelola pendidikan dari tingkat PAUD hingga SMA (bahkan mengurus beasiswa unggulan untuk mahasiswa); Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) yang mengurus kampus-kampus kita; Kementerian Agama (Kemenag) mengurus perguruan tinggi keagamaan; serta Kementerian Pertahanan (Kemenhan) yang mengurus Universitas Pertahanan.

Kita seperti kabur, hilang arah, dan tidak lagi bisa melihat dengan serius pengelola pendidikan terbaik ialah satu kementerian yang namanya kementerian pendidikan.

Apakah kita kekurangan orang-orang kapabel untuk mengurus pendidikan di kementerian tersebut atau kita sebenarnya kekurangan kepercayaan kepada mereka? Apakah karena nama serupa lantas kita merasa Kementerian Pertahanan berhak memonopoli Universitas Pertahanan?

Pengotak-kotakan semacam ini yang membuat pendidikan kita jelas tidak punya konsistensi mengenai orientasi pendidikan. Yang dikhawatirkan dari pengkotak-ngotakan ini ialah meningkatnya kepercayaan diri oleh mereka yang tidak layak bicara pendidikan. Seseorang yang tidak paham proses mendidik, mengevaluasi, mengelola kelas, dan memancing gairah belajar justru berpotensi melahirkan orang yang tidak kompeten pula. Akumulasi manusia tidak kompeten itu akan terus terjadi dan pada akhirnya kenormalan itu pun diterima.

Padahal, dengan satu kementerian saja kita masih punya masalah besar, apalagi ketika pendidikan ditangani oleh banyak kementerian. Kementerian tersebut jelas memiliki luaran masing-masing yang mengindikasikan unsur pragmatisme akan mudah lahir, sementara fungsi pendidikan sendiri semakin jauh dari fitrahnya. Sekolah dan kampus hanya akan menjadi perusahaan model baru.

Sementara soal kurikulum, Sekolah Rakyat menggunakan Kurikulum Merdeka Kemendikdasmen dan tailor made multientri multiexit dari Kemensos. Setiap kita pasti sadar dengan fenomena ”ganti menteri, ganti kurikulum”. Kurikulum yang digagas oleh kementerian pendidikan saja dalam lima tahun terakhir dapat dikatakan gagal, lalu bagaimana mungkin kita bisa percaya rancangan kurikulum dari kementerian yang notabene tidak benar-benar mengurus pendidikan. Keliru sekali ketika kita melakukan trial and error pada 15.000 lebih anak-anak Indonesia itu.

Isu kurikulum itu bukan polemik baru. Setiap pemilihan selesai dan menteri baru ditunjuk, guru-guru seantero Nusantara bertanya-tanya, gebrakan kurikulum apalagi yang akan terjadi. Alih-alih kita memperbaiki kurikulum dan mengadopsi sistem pendidikan seperti Finlandia (15 tahun sekali evaluasi kurikulum) atau Singapura (jarang sekali mengganti kurikulum, hanya mengevaluasi implementasinya setiap tahun), justru kita terjebak untuk terus berusaha melahirkan legacy alias warisan politik. Seolah-olah tanpa sebuah warisan politik bernama kurikulum baru, menteri pendidikan tidak bekerja.

Apa yang berbahaya dari dua isu tersebut? Ketidakjelasan mengenai arah pendidikan kita.

Di mana ada pertimbangan di situ pasti ada kegaduhan, begitulah premis dasar buku Noise yang di tulis Dahniel Kahneman, Olivier Sibony, & Cass R Sunstein. Ketika pertimbangan dan aktor yang mempertimbangkan begitu banyak, potensi terjadi kegaduhan hasil dan ketepatan putusan adalah konsekuensi mahal darinya. Kita tentu tidak mengharapkan hasil buruk dari pendidikan kita, sayangnya sukar sekali untuk menyembunyikan kekhawatiran tersebut.

Pengelolaan pendidikan yang beragam justru akan memunculkan diferensiasi dalam pendidikan, di mana isu-isu seperti gengsi, privilese, relasi disosiatif menyeruak ke permukaan. Sebagai contoh bayangkan seorang mahasiswa di Universitas Pertahanan berdebat dengan mahasiswa universitas umum alih-alih mempertajam argumen yang terjadi justru ”Anda tahu apa belajar? Kami langsung dari Kementerian Pertahanan.” Sebaliknya pun begitu ”Kamu, kan, dari pertahanan mana tahu kedelai.” Akibatnya konflik terbentuk, sementara kolaborasi jarang terjadi.

Jika seluruh sekolah dan kampus kita diurus satu kementerian saja, kegaduhan itu akan minim terjadi. Konsistensi arah pendidikan lebih bisa diukur karena sejak PAUD hingga pendidikan tinggi kita dapat menyusun keselarasan kebijakan pendidikan. Konsistensi penyelenggaraan, ide kurikulum, dan sebagainya lebih mudah tercapai jika kekuasaan atas pendidikan diurus oleh kementerian pendidikan itu sendiri. Transformasi pendidikan seharusnya dimulai dengan memindahkan penyelenggaraan pendidikan dikontrol langsung oleh kementerian pendidikan, bukan pada setiap kementerian.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 1)

Setiap orang butuh rumah. Baik dalam arti fisik, tempat di mana ia berasal dan menuju pulang, maupun secara substantif ruang di mana ia selalu diterima dan dicintai oleh keluarga. Choirul Ihwan, pria asal Madiun, Jawa Timur, ialah satu dari sekian orang yang merasa kehilangan rumah itu sejak...

Syariat Allah Memerintahkan Kebaikan

Aliansi Indonesia Damai- Syariat Allah Swt itu memerintahkan umat manusia untuk berbuat kebaikan bukan keburukan atau kejahatan. Siapa pun yang melakukan kejahatan atau keburukan maka telah melanggar syariat Allah Swt. Demikian pernyataan mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery...