Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan. Ada serpihan benda asing yang tertinggal di matanya. Pilihan satu-satunya bagi Sudirman adalah menjalani operasi pengangkatan serpihan. Jika tidak dilakukan, mata sebelah kanannya berisiko ikut terkena infeksi.
Nyatanya, bukan hanya operasi pengangkatan serpihan yang harus dijalani Sudirman. Karena serpihan itu terlalu kecil, dokter hanya punya pilihan mengangkat seutuh-utuhnya bola mata kirinya. Ia berusaha menerima kenyataan tersebut dengan ikhlas, menjalani hidup dengan hanya memiliki satu mata. Pascaoperasi, untuk menyamarkan kondisi matanya, tim dokter memasangkan bola mata palsu yang terbuat dari plastik. Namun yang terjadi kemudian tak seperti yang diharapkan. Bola mata palsu tersebut sering jatuh ketika dia berjalan.
Sudirman pun kembali ke dokter. Hasil pemeriksaan sungguh mengejutkan. Dia divonis mengalami trauma otak. Untuk mengatasinya, sungguh berat. Selain harus menjalani operasi demi operasi lainnya, dia diwajibkan meminum beberapa macam obat hingga waktu yang tidak bisa ditentukan. Pernah suatu masa Sudirman nekat berhenti minum obat. Akibatnya, dia merasakan sakit kepala yang luar biasa hingga pingsan. Sejak itu dia memilih untuk menaati nasihat dokter, rutin mengonsumsi obat. Sampai sekarang. Dan, ia tak tahu akan sampai kapan harus menjalaninya.
Baca juga: Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota (Bag. 1)
Seiring waktu, secara perlahan ia memilih berdamai dengan kondisi tubuhnya, meniti hidup dengan ikhlas dan penuh rasa syukur.
Pantang menyerah. Semangat itu yang coba ia gelorakan di dalam dirinya. Dia bergerak untuk bangkit dari penderitaan dan keterpurukan. Upaya itu dirasakannya bisa membantu membawa raga dan jiwanya ke arah yang positif dan produktif. Bila terus merasa sakit dan terkurung pada memori yang mengenaskan, menurutnya, badan dan psikisnya bisa terjerembab ke hal-hal yang serba negatif dan keputusasaan.
Sudirman mengatakan, faktor yang membuatnya bangkit adalah keinginan untuk membahagiakan orang tuanya.
Baca juga: Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik
Terkait perasaannya terhadap pelaku teror yang menyakitinya, Sudirman mengatakan sudah sejak lama memaafkan mereka. Menurutnya, para pelaku terorisme hanya orang-orang yang khilaf dan keliru dalam memahami agama. Marah dan dendam, katanya, tak mengembalikan apa pun darinya. Ia memilih melanjutkan hidup agar tercipta perdamaian. Karena baginya, perdamaian bukan tanggung jawab pelaku dan bukan tanggung jawab korban, tapi tanggung jawab seluruh bangsa.
