HomeOpiniMembaca Pancasila dari Bawah

Membaca Pancasila dari Bawah

Oleh Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers
Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 September 2026

Kemajemukan bangsa ini secara politis-ideologis disatukan oleh Pancasila. Sejauh ini dari kelima sila itu pembahasan paling banyak ditekankan pada sila pertama Ketuhanan yang Mahaesa, untuk menciptakan kondisi yang harmonis dari sekian ragam pengikut agama dan kepercayaan yang ada.

Sangat disayangkan, sila terakhir dari Pancasila yang menjadi muaranya sangat kurang dibahas dan disosialisasikan oleh pemerintah. Padahal, implementasi Pancasila yang sangat mendesak saat ini adalah sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, yang tingkat keberhasilannya mudah diukur, berbeda dari sila ketuhanan.

Sila pertama Ketuhanan yang Mahaesa merupakan payung keberagamaan yang bersifat inklusif, mengakomodasi keragaman agama dan kepercayaan yang tumbuh subur di Indonesia. Kalaupun sekali-sekali terjadi konflik antarumat beragama, biasanya akar masalahnya bukan dari agama itu sendiri, melainkan faktor lain di luar agama.

Misalnya, perebutan kekuasaan politik yang kemudian emosi dan simbol agama ditarik-tarik untuk mencari dukungan massa dan justifikasi teologis. Ini sangat fenomenal setiap menjelang pemilu atau pilkada, di mana emosi dan simbol agama selalu dipolitisasi oleh aktor politik.

Politisasi agama secara kolosal juga pernah terjadi pada tragedi nasional tahun 1965. Akar masalahnya tak bisa dilepaskan dari persaingan politik-ekonomi antara Amerika Serikat pemimpin Blok Barat versus Blok Timur yang berpusat di Beijing dan Moskwa.

Di tingkat global isu komunisme adalah isu ideologi ekonomi-sosialisme melawan kapitalisme. Tetapi, ketika komunisme mencuat di Indonesia terjadi politisi diksi komunisme, yang kemudian lebih ditonjolkan pada aspek teologinya agar membangkitkan kemarahan dan mobilisasi kaum santri untuk menggilas dan menyembelih orang-orang yang dituduh anggota PKI yang anti-agama tanpa proses pengadilan.

Mungkin sekali ini skenario CIA. Mereka sangat paham bahwa emosi masyarakat Indonesia mudah sekali disulut dengan isu agama. Pemberangusan Komunisme oleh AS di Indonesia tahun 1965 merupakan proyek politik paling sukses dengan ongkos paling rendah. Bahkan, AS memperoleh banyak konsesi ekonomi di era Orde Baru.

Untuk menjaga kesatuan, kerukunan dan persatuan bangsa, ikatan paling kuat sesungguhnya dengan mewujudkan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia yang merupakan sila kelima dari Pancasila. Dengan demikian, agenda utama dan pertama bagi siapa pun yang memimpin Indonesia hari ini adalah mewujudkan sila kelima ini. Yaitu, seberapa jauh rakyat merasakan kesejahteraan dan keadilan setelah 81 tahun negara ini merdeka.

Melihat masih jauh jarak antara idealitas dan realitas, pasti ada yang tidak beres dalam melaksanakan Pancasila yang sesungguhnya juga merupakan GBHN (Garis Besar Haluan Negara). Sila pertama idealnya merupakan sumber mata air kebijakan bagi program empat sila berikutnya.

Dalam sila keempat dinyatakan, untuk meraih sila kelima terdapat jembatan emas: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Pertanyaannya, benarkah para pemimpin eksekutif dan wakil rakyat memiliki tradisi bermusyawarah dengan penuh hikmah dan bijaksana?

Kesan saya mereka mengalami defisit kebijaksanaan. Mereka seakan tutup telinga, enggan mendengar aspirasi rakyat yang dianggap berbeda. Perbedaan dan kritik dianggap musuh. Jangan-jangan mereka antikritik, lebih sibuk melakukan konspirasi memikirkan nasib diri dan partainya untuk mengejar kekuasaan jangka pendek ketimbang memikirkan rakyat.

Bahkan, tidak segan-segan membuat peraturan dan melakukan korupsi yang menyengsarakan rakyat. Akibatnya, persatuan Indonesia dan kemanusiaan yang adil dan beradab juga terabaikan. Keadilan dan keadaban ini merupakan pesan fundamental agama yang sifatnya universal dan menjadi acuan dari semua masyarakat yang beradab (civilized society).

Kualitas ruang publik merosot

Sekarang ini ruang publik semakin gaduh, isinya keluh kesah, pesimistis, dan kecewa terhadap pemerintahnya sendiri. Bagaimana dengan sila pertama, Ketuhanan yang Mahaesa? Realisasinya cenderung berhenti pada dimensi ritual, tidak berhasil mendorong terwujudnya pesan dan prinsip keempat sila lainnya.

Korupsi terjadi di hampir semua lini birokrasi. Kerukunan, gotong royong, persatuan bangsa, dan keadilan sosial tercabik-cabik dan goyah. Ritual agama seakan menjadi instrumen teologis mekanisme penyucian dosa, sementara akar masalah dari dosa struktural yang merusak kehidupan berbangsa tidak mendapatkan penyembuhan selayaknya.

Saat ini perusahaan pers berjalan gontai. Sementara ruang publik semakin terbuka luas bagi lalu lintas informasi akibat munculnya peran teknologi digital yang memfasilitasi tampilnya media sosial yang pada urutannya semakin dominan mengendalikan perilaku dan emosi rakyat.

Ketika ruang publik semakin terbuka bebas bagi pengguna media sosial, yang disayangkan adalah keterbukaan dan kebebasan ini tidak disertai kualitas yang edukatif. Bahkan, banyak beredar hoaks, disinformasi, bahkan doxing. Emosionalitas mengalahkan rasionalitas.

Media sosial lebih mendorong bersikap emosional ketimbang berpikir kritis. Dengan media sosial banyak politisi yang bersaing memperebutkan jabatan publik saling mempromosikan diri dengan menjatuhkan yang lain.

Memburuknya ruang publik pada urutannya akan memperburuk kualitas demokrasi. Bayangkan, tingkat pendidikan dan ekonomi masyarakat yang rendah, akan menjadi lahan empuk bagi hoaks sehingga keterpilihan pemimpin dan wakil rakyat sangat mungkin juga dipengaruhi oleh informasi yang tidak benar.

Dengan demikian, kebebasan ruang publik dan dominasi media sosial bisa menjadi pendorong kualitas demokrasi, tetapi bisa juga justru membuat busuk buah dan hasil demokrasi.

Saat ini saya merasakan terdapat jarak yang menganga antara kehendak baik Presiden dan respons masyarakat. Jurang yang menganga ini mestinya tidak terjadi jika para menterinya gesit dan cerdas menterjemahkannya ke dalam tindakan dan program nyata dan dirasakan langsung manfaatnya oleh rakyat.

Lebih dari itu hendaknya Presiden menghindari statemen atau candaan dalam mimbar kenegaraaan yang memancing cemohan dan salah paham dari rakyat. Tidak elok rasanya ketika melihat media sosial berisi cemohan rakyat pada sosok presidennya atau para menterinya sendiri.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di ...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI),...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...