HomeBeritaPemerintah Pakistan Cepat Tangani...

Pemerintah Pakistan Cepat Tangani Korban Terorisme

Kelompok teror yang menyebut diri sebagai Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) belum berhenti mengancam keamanan dan perdamaian dunia. Aksi terakhir yang cukup signifikan adalah teror bom bunuh diri di sebuah masjid di Sindh, Pakistan, Kamis (16/2/2017).

Melihat kasus terakhir berskala besar tersebut, publik dibuat semakin yakin bahwa target serangan NIIS adalah acak, bisa menyasar siapa dan di mana saja, tak terbatas pada pihak-pihak yang disimbolkan sebagai Barat atau kafir. Kelompok teroris itu juga menyasar orang-orang di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Sebelum melakukan serangan di Sindh, kelompok NIIS mengklaim bertanggung jawab atas ledakan bom di Madinah, Arab Saudi tahun lalu.

Dalam konteks lokal di Pakistan sendiri, serangan terhadap sebuah masjid di Provinsi Sindh, wilayah selatan Pakistan, terjadi hanya selang dua hari setelah teror di sebuah pusat perbelanjaan di kota Lahore, Selasa (14/2/2017). Bom bunuh diri di sebuah mall tersebut menewaskan 15 orang. Jamaat-ul-Ahrar, kelompok militan Taliban, mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom tersebut. Ledakan bom itu terjadi hanya tiga hari setelah kelompok tersebut mengumumkan akan melakukan serangkaian serangan terhadap instalasi pemerintah di Pakistan.

Dua hari berikutnya, Kamis (16/2), teror bom bunuh diri kembali terjadi, kali ini menyasar sebuah acara umat muslim Syiah di tempat suci Lal Shahbaz Qalandar, Provinsi Sindh. Tempat suci Lal Shahbaz Qalandar merupakan makam dari Syed Muhammad Usman Marwandi, seorang filsuf terkemuka bagi kaum sufi yang didirikan pada tahun 1356. Penyerangan tersebut mengakibatkan 88 orang tewas dan 250 orang luka-luka, seperti dilaporkan CNN. Seorang dokter yang menangani mengatakan 24 di antara para korban adalah anak-anak dan 16 dari mereka perempuan.

Kamis malam (16/2) pascaserangan, Khadim Hussain Rind, Inspektur Jenderal Kepolisian Hyderabad, mengatakan afiliasi ISIS di Afghanistan dan Pakistan, yakni The Islamic State of Khorasan mengklaim bertanggungjawab atas serangan tersebut.

Rasool Bux, seorang pejabat tinggi kepolisian, mengatakan ledakan itu terjadi sekitar pukul 19.00 waktu setempat. Seorang pengebom bunuh diri memasuki Lal Shahbaz Qalandar dari arah gerbang yang dipadati orang. Ia meledakkan diri di tengah-tengah sekelompok orang yang sedang melakukan Dhamal (tari Sufi) di dalam kompleks rumah suci tersebut.

Perdana Menteri Pakistan, Nawaz Sharif mengutuk serangan itu dan memerintahkan departemen-departemen terkait untuk memberikan perawatan sebaik mungkin bagi para korban luka.

“Saya telah mengarahkan semua lembaga negara untuk memobilisasi semua sumber daya yang ada untuk penyelamatan dan bantuan setelah serangan teror brutal ini pada tempat ziarah Lal Shahbaz Qalandar,” kata Sharif.

Esok harinya, Jumat (17/2) pihak militer Pakistan segera mengerahkan sejumlah helikopter berkemampuan penglihatan malam dari Angkatan Laut dan satu pesawat C-130 untuk mengangkut korban luka ke beberapa rumah sakit di Karachi, ibu kota Provinsi Sindh.

Seperti dikutip Reuters, Perwira Polisi Senior Sindh, Shabbir Sethar, mengabarkan bahwa mayoritas korban mengalami luka bakar akibat ledakan yang besar.

Seluruh korban tewas dan luka-luka dibawa ke rumah sakit terdekat. Namun, pihak rumah sakit Sehwan mengaku kewalahan menangani pasien yang memenuhi tempat tidur rumah sakit itu. Sementara, banyak korban yang telah dipindahkan ke rumah sakit yang lebih besar di kota-kota lain di Provinsi Sindh, kata dr. Zahid Hussain, dikutip dari CNN.

Korban luka parah ditransfer dengan ambulans ke Jamshoro dan Hyderabad, sekitar dua jam perjalanan dari RS Sehwan. Sementara itu pihak militer mengatakan, helikopter angkatan laut yang mampu terbang di malam hari akan dikirim untuk mengangkut korban yang mengalami kondisi kritis. (AM) [SWD]

 

sumber: detik.com dan antaranews.com cnnindonesia.com

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...