HomeBeritaKisah Mantan Pelaku, dari...

Kisah Mantan Pelaku, dari Senjata ke Pulpen

ALIANSI INDONESIA DAMAI – “Dulu saya sering memegang senjata, sekarang saya banyak memegang pulpen,” ujar Iswanto dalam Seminar dan Bedah Buku Jangan Putus Asa: Ibroh dari Kehidupan Teroris & Korbannya di Universitas Jember akhir April 2018.

Iswanto ialah seorang mantan pelaku terorisme. Bertahun-bertahun dia hidup dalam ideologi kekerasan, menjadi anggota kelompok teroris internasional Jemaah Islamiyah. Setelah menyadari banyak doktrin kelompoknya yang bertentangan dengan ajaran Islam, dia memutuskan untuk meninggalkan dunia kekerasan.

Pemuda asal Lamongan, Jawa Timur ini merombak ulang pemahamannya tentang jihad. Dia mengatakan itu bukan hal mudah, sebab sejak remaja dia diajari oleh guru-gurunya bahwa jihad adalah perang, mengangkat senjata, melakukan kekerasan terhadap pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh Islam. Termasuk di antara yang dianggap musuh dalam pemahaman yang diajarkan kepadanya adalah pemerintah Indonesia yang dianggap tidak berdasarkan Islam. Kelompoknya dahulu memang ingin mengubah sistem negara Indonesia menjadi berlandaskan Islam.

“Dulu waktu sekolah kalau hari Senin saya selalu cari alasan untuk tidak ikut upacara bendera karena saya diajarkan untuk tidak suka dengan bendera merah putih. Saya juga sering bolos mata pelajaran kewarganegaraan,” kata dia.

Keraguannya pada ideologi yang diajarkan guru-gurunya muncul ketika dia diminta untuk merahasiakan sepak terjang kelompoknya di dunia kekerasan kepada keluarga. Bahkan, saat anggota keluarganya meninggal dunia, dia tidak diberitahu.

Iswanto mulai meninggalkan jalan kekerasan setelah disadarkan oleh gurunya yang dahulu merekrutnya untuk bergabung dengan kelompok kekerasan. Beberapa tahun setelah itu dia dipertemukan dengan penyintas aksi teror dalam kegiatan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Lamongan. Dia mengaku semakin kukuh tekadnya untuk meninggalkan dunia kekerasan setelah menyaksikan dampak aksi teror pada diri penyintas.

Selain itu, keputusannya keluar dari kelompok teroris juga dilatari oleh keinginannya untuk melanjutkan studi yang sempat terbengkalai selama bergelut dengan kelompok kekerasan.

“Inspirasi saya keluar dari jaringan ini, saya sekolah lagi. Saya ikuti ujian persamaan untuk mendapat ijazah SMA, kemudian saya lanjut ambil S1 dan S2,” ujar Iswanto. Dia memperkaya bacaan dan mengkaji ulang makna jihad, di mana disebutkan bahwa makna jihad sangat luas, tidak terbatas pada perang. Iswanto meyakini bahwa menuntut ilmu dengan niat tulus ikhlas juga merupakan jihad.

Tak lagi hidup di dunia kekerasan, Iswanto kini menjadi guru profesional bahkan telah lulus sertifikasi. Selain itu dia pun turut serta menjadi Tim Perdamaian AIDA untuk mempromosikan perdamaian dan menolak segala bentuk ideologi berbasis kekerasan.

Berjihad melalui perjuangannya dalam menuntut ilmu menjadi titik balik kehidupan Iswanto. Kesungguhannya mempelajari ilmu dari banyak guru, tidak cuma seorang, membuat sudut pandang keagamaannya semakin kaya. Berdasarkan pengalamannya, doktrin-doktrin kekerasan dari kelompoknya dulu membentuknya sangat anti terhadap pemerintah dan umat pemeluk agama lain. Namun, setelah mengkaji ulang kitab-kitab rujukan yang sahih, dia kini memahami bahwa Islam tidak melarang umat muslim berbuat baik kepada pemeluk agama lain sebatas tidak melakukan kezaliman.

Usaha Iswanto untuk memperkaya pemahamannya dengan belajar lagi menyelesaikan pendidikan bahkan hingga jenjang magister, mengingatkan kita pada perintah Allah tentang mencari ilmu yang akan mengangkat derajat hamba-Nya.

“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis’, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberikan kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: ‘Berdirilah’, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Mujadilah: 11).

Firman Allah di atas mengandung seruan kepada setiap orang yang beriman tentang kewajiban menuntut ilmu, tidak terbatas ilmu agama tetapi juga pengetahuan atau sains secara umum. Hendaknya juga kita memberikan kemudahan bagi orang lain dalam memperoleh ilmu, sebab Allah Swt. akan memudahkan urusan dunia dan akhirat bagi yang memudahkan kesulitan orang lain. Orang yang beriman dan berilmu akan diberikan derajat yang tinggi di sisi-Nya. [MSH]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...