HomeOpiniMemudarnya Keadaban Publik

Memudarnya Keadaban Publik

Akhir-akhir ini, hujatan, hinaan, makian bahkan ancaman demikian mudah ditemui di sembarang tempat pada ranah publik di sejumlah wilayah negeri tercinta ini. Di media sosial, banyak orang bahkan sebagian di antara mereka dari kalangan yang mengenyam pendidikan tinggi mengunggah foto, karikatur, ungkapan, atau lainnya yang merepresentasikan atau dapat memicu kebencian dan ketersinggungan.

Di jalanan pun nyaris setali tiga uang. Tidak sedikit pengendara (entah mobil atau motor) yang seenaknya sendiri menjalankan kendaraannya tanpa memperhatikan keselamatan dan kenyamanan pengendara lain atau dan terutama pejalan kaki. Pada saat yang sama, kekerasan dan kejahatan di ruang publik juga menguat dan meningkat dari sisi kuantitas maupun kualitas.

Semua itu memperlihatkan betapa keadaban publik di masyarakat kita sudah mengalami pemudaran yang cukup parah. Sebagian dari kita atau kelompok tertentu bukan hanya sudah tidak menghormati orang dan kelompok lain, tetapi justru menganggap rendah, menghina, dan mengancam orang dan kelompok lain sebagai sesuatu yang biasa. Memang tidak semua anggota masyarakat kita sudah kehilangan sikap dan perilaku yang mencerminkan keadaban. Akan tetapi, ironisnya, mereka terkadang memilih bersikap diam dalam menyikapi fenomena menyedihkan itu.

Suatu kemestian

Pembiaran terhadap ketidaksopanan (incivility) dipastikan akan berdampak jauh bagi Indonesia. Pengabaian terhadap fenomena ini bukan mustahil akan berdampak jauh bagi kehidupan bangsa dan negara di masa depan.

Sampai kapan pun, keadaban publik sejatinya selalu menjadi hajat-kebutuhan intrinsik dalam kehidupan. Memodifikasi ungkapan Faclav Havel (Politics, Morality, Civility), jika kita tidak berhasil membumikan keadaban publik, hal itu akan berdampak sangat buruk bagi Ibu Pertiwi, dan bahkan bangsa. Bukan tidak mungkin, negara tinggal menunggu kehancurannya, dan bangsa ini akan menggali kuburan mereka sendiri.

Manakala keadaban di ranah sosial memudar, maka yang akan terjadi bukan sekadar hilangnya nilai dan sikap saling menghormati, pudarnya saling menghargai, dan sejenisnya. Demikian pula bukan sekadar pengabaian hingga pelecehan orang lain akan menjadi realitas hidup keseharian. Namun, lebih dari itu, rasa egoisme dan lunturnya kepekaan sosial akan mengental di setiap individu yang pada gilirannya dapat berkembang menjadi sikap menghalalkan tindakan apa pun yang dilakukan.

Persoalan akan memorakperandakan kita, bangsa ini, manakala hilangnya keadaban terus berkelanjutan dan dianggap sebagai sesuatu yang biasa serta berkembang menjadi fenomena kelompok, organisasi, dan partai politik. Pada saat itu, demi meraih kepentingan sempit, demi memperoleh kekuasaan sesaat, mereka tak segan-segan menyebarkan fitnah, melakukan pembunuhan karakter, bahkan melakukan kekerasan terhadap kelompok lain dan sejenisnya tanpa perasaan berdosa sedikit pun.

Titik kritis persoalan akan mencapai puncaknya saat penyebaran fitnah dan tindak kekerasan yang dilakukan, mereka menggunakan simbol dan bahasa agama atau juga simbol dan lambang-lambang negara. Merekamembiaskan semua itu untuk mendukung kepentingan sempit dan sesaat mereka. Agama sebagai sumber moral dipangkas menjadi justifikasi tindakan mereka. Simbol negara sebagai pemersatu dijadikan tempat berlindung untuk gerakan yang rentan memecah belah bangsa.

Penyelesaian holistik

Kondisi semacam itu nyaris tidak menyisakan lagi nilai kehidupan yang luhur. Bukan hanya keadaban publik yang lenyap, melainkan kedamaian telah menjadi serpihan dan remah kecil yang demikian rapuh, mudah terempas, dan lenyap saat ada terpaan angin gejolak sosial, sekecil apa pun embusannya. Hidup bukan lagi untuk dinikmati dan disyukuri bersama, tetapi dijadikan ajang kalah dan menang.

Indonesia saat ini memang tidak berada pada puncak titik kritis sebagaimana yang digambarkan sebelum ini. Namun, probabilitas ke arah sana sangat berpeluang untuk terjadi jika kita menganggap remeh fenomena yang berkembang saat ini. Dalam ungkapan lain, jika kita tidak ingin negara ambruk dan bangsa hancur, kita urgen untuk segera mengurai permasalahannya, dan merumuskan strategi holistik yang kemudian dibarengi dengan tindakan konkret.

Senyatanya, krisis keadaban ini berpulang pada masalah yang relatif kompleks, dari kehidupan sosial ekonomi yang tidak kondusif, kehidupan budaya yang komersial, hingga penegakan hukum setengah hati. Simpul-simpul persoalan itu yang perlu diurai satu per satu, kemudian digali akar persoalannya. Setelah itu dicarikan strategi menyeluruh yang dapat memangkas akar semuanya tersebut. Misalnya, fenomena kehidupan sosial ekonomi yang cenderung meminggirkan kelompok masyarakat yang tidak berpunya.

Hal ini tidak bisa dilepaskan dari meminjam ungkapan Herry Priyono (Basis, Mei-Juni 2004) cara liberalisasi progresif yang diusung neoliberalisme. Model ini membuat orang yang tidak bisa membeli tidak berhak mendapatkan kebutuhan yang mendasar sekalipun, yang mengakibatkan kelompok-kelompok miskin semakin tersingkir. Keterbelengguan mereka untuk meraih kehidupan yang layak menjadikan mereka berusaha untuk dapat hidup dengan cara apa pun.

Kehidupan budaya juga perlu didekati dengan pola semacam itu. Fenomena yang berkembang menunjukkan betapa kearifan lokal yang salah satunya direpresentasikan dalam tradisi masyarakat cenderung dikembangkan sebagai komoditas semata. Keluhuran nilai yang ada di balik tradisi kemudian hanya berwujud sebagai sandiwara yang tidak berlabuh dalam kehidupan konkret. Penegakan hukum yang berkembang tampaknya tidak jauh berbeda dengan aspek-aspek kehidupan yang lain. Pada satu waktu, ada pembiaran terhadap pelanggaran-pelanggaran hukum yang terjadi di masyarakat, dan pada lain waktu, ada penegakan yang tampak kuat hangat-hangat tahi ayam, atau jual beli hukum dan sejenisnya. Hal ini tentu berdampak pada sulitnya pembumian kesadaran hukum di kalangan masyarakat. Aspek-aspek kehidupan lain tampaknya juga berada dalam posisi seperti itu.

Dari semua akarpersoalan itu lalu dirumuskan kebijakan strategis yang menyeluruh. Di sini tentu diperlukan dasar pijakan yang benar-benar kuat dan mampu merangkaikan derivasi kebijakan itu secara utuh dan menyatu. Untuk itu, nasionalisme yang berjati diri Indonesia yang religius dan multikultural tampaknya merupakan satu-satunya pilihan yang harus ditoleh. Melalui pengembangan kebijakan di atas nasionalisme ini, kearifan lokal yang sarat dengan nilai-nilai luhur dan nilai-nilai agung yang lain akan membumi kokoh di bumi pertiwi.

Menyoal pendidikan

Berbicara tentang memudarnya keadaban publik, satu hal yang sama sekali tidak bisa diabaikan adalah pendidikan. Dalam ungkapan lain, incivility yang kian menguat saat ini selain merujuk pada aspek-aspek kehidupan sebagaimana diangkat di atas, juga terkait dengan dunia pendidikan dalam beberapa dasawarsa terakhir yang belum sepenuhnya sesuai dengan harapan kita, dan tujuan pendidikan itu sendiri. Realitas menunjukkan, tidak sedikit anak dan pemuda hasil dunia pendidikan kita yang menampakkan diri, sampai batas tertentu, sebagai generasi yang kurang memiliki kecerdasan moral yang memadai.

Akibatnya, persoalan-persoalan yang menghadang mereka memojokkan mereka ke dalam kegamangan yang membuat mereka tidak tahan banting, mudah terombang-ambing, dan mudah bersikap pragmatis. Bahkan, kehidupan global yang menantang terkadang melunturkan identitas dan jati mereka sebagai bangsa yang religius, ramah, mandiri, dan sejenisnya.

Hal itu, sekali lagi, mendesak kita untuk meletakkan nasionalisme religius kita sebagai dasar kebijakan dalam perumusan, pengembangan, dan penguatan agenda bangsa ke depan. Dunia pendidikan seutuhnya harus berada dalam bingkai kokoh ini. Semua ini menuntut kesungguhan kita untuk segera melangkah. Kehidupan tidak pernah berhenti, atau bangsa ini akan mati suri.

*Artikel ini pernah dimuat di harian Kompas edisi 7 Februari 2017. [SWD]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...

Berusaha Tegar dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga menjadi pukulan sangat berat bagi Ni Luh Erniati, salah satu janda korban bom Bali 2002. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta Bali,...

Perdamaian Harus Dijaga

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati mengajak generasi muda untuk terus menjaga perdamaian. Menurut dia perdamaian harus tetap dijaga karena perdamaian itu indah. “Untuk bisa menjaga perdamaian diperlukan kesabaran. Kita harus mampu berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan,”...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education; Pengajar Program Doktoral Psikologi Universitas Surabaya Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Juli 2026 Anak bungsu saya memasuki halaman sekolah dengan langkah kecil yang diberani-beranikan. Maklum, pagi di pengujung musim panas itu adalah hari pertama...