HomeSuara KorbanMemaafkan untuk Membangun Indonesia...

Memaafkan untuk Membangun Indonesia Damai

Namanya Iswanto Kasman. Pria asal Wonogiri, Jawa Tengah itu sedang bekerja di Kedutaan Besar Australia di Jakarta saat ledakan bom terjadi di Jl. HR Rasuna Said kawasan Kuningan, 9 September 2004. Saking kuatnya ledakan, dia terpental hingga empat meter, serpihan logam dan kaca menancap di sekujur tubuh dan mata sebelah kanan tak terselamatkan.

Ayah dua anak ini harus menjalani beberapa kali operasi pengambilan benda-benda asing yang tertanam di badan akibat ledakan bom. Selain itu, dia juga menjalani terapi untuk menyesuaikan diri hidup dengan indra penglihatan yang tak lagi sempurna.

Setahun setelah mengalami ledakan bom, Iswanto Kasman dihadirkan sebagai saksi persidangan pelaku teror Bom Kuningan. Secara fisik Iswanto menyatakan tidak ada ketakutan kalau harus bertemu pelaku, namun dia mengakui secara mental ada perasaan yang menggejolak lantaran akibat serangan itu ia dan rekan-rekannya mengalami cacat permanen dan terancam tak bisa bekerja lagi.

“Dalam sidang itu saudara terdakwa menjabat tangan saya dan meminta maaf. Saya sempat terdiam cukup lama. Memang tidak diwajibkan saya menjawab permintaan maaf itu, tapi akhirnya muncul juga dari perasaan hati saya bahwa manusia tidak luput dari salah,” ujarnya dalam Pelatihan “Belajar Bersama Menjadi Guru Damai” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Yogyakarta, Mei 2016.

Dia mengatakan, memaafkan pelaku kejahatan adalah tantangan yang tidak mudah. Dibutuhkan kekuatan mental yang luar biasa besar bagi korban untuk menghadapi apalagi memaafkan orang yang telah menyebabkan diri atau orang-orang tercintanya menderita.

Satu dekade lebih berlalu, Iswanto dihadapkan lagi dengan pengalaman serupa, yaitu bertemu orang yang pernah terlibat dalam kelompok teror. “Dalam kegiatan AIDA di Tangerang Selatan saya dipertemukan dengan Pak Ali Fauzi,” kata dia. Ali Fauzi ialah mantan anggota jaringan teroris internasional dan sempat mengenyam pelatihan militer di wilayah Filipina Selatan.

Meskipun Ali Fauzi tidak terlibat dalam aksi teror yang menimpanya, namun tetap tak mudah bagi Iswanto untuk bertemu. Sebagian pelaku teror Bom Kuningan tak lain adalah murid atau rekan Ali Fauzi dahulu ketika masih tergabung dengan kelompok teror. “Tapi tekad saya bulat, ini untuk perdamaian, dan alhamdulillah setelah kami berproses, dua hari kami berbagi cerita, berbagi perasaan, kami berdamai dan menyuarakan perdamaian,” ungkapnya.

Setelah terjalin rekonsiliasi korban dan mantan pelaku tersebut, Iswanto dan Ali Fauzi melakukan kampanye perdamaian kepada generasi muda di daerah Tangerang Selatan. Mereka mengajak generasi muda bangsa selalu menanamkan budaya cinta damai serta menghindari kekerasan dalam menghadapi setiap tantangan kehidupan. (MLM)[SWD]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...