HomeBeritaDialog Mahasiswa UIN Padang...

Dialog Mahasiswa UIN Padang dengan Penyintas Bom

Aliansi Indonesia Damai- “Sabar ya, Uni. Semangat terus dan sukses terus untuk Uni Nanda. Karena semua adalah pemberian Allah.” Pernyataan ini terlontar dari salah seorang peserta pengajian daring bertajuk “Generasi Milenial dan Pembangunan Perdamaian” yang digelar AIDA, Sabtu (5/12/2020). Ungkapan itu bentuk empati dan dukungan kepada Nanda Olivia Daniel, korban Bom Kuningan 2004.

Akibat peristiwa pengeboman di depan kantor Kedutaan Besar Australia di Jakarta pada September 2004, perempuan berdarah minang ini harus menderita luka serius pada telapak tangannya, gendang telinga robek, dan luka terbuka di bahunya. Karena cederanya yang parah, ia harus menjalani serangkaian operasi dan pemulihan yang lama. Walhasil kuliahnya yang sudah tingkat akhir terbengkalai.

Baca juga Muslim Milenial dalam Pembangunan Perdamaian

Serangkaian operasi tentu membutuhkan dana. Salah seorang  peserta  menanyakan mengenai pembiayaan dan peran pemerintah dalam proses pemulihan para korban terorisme, khususnya Bom Kuningan.

Nanda menjelaskan, semua biaya pengobatan di masa kritis ditanggung oleh pemerintah. Saat menjalani perawatan di rumah sakit, ia mendapatkan kunjungan dari korban Bom Marriott. Berdasarkan pengalaman mereka, biaya pengobatan dari pemerintah hanya berlaku sesaat setelah kejadian bom. Sehingga apabila korban yang belum pulih betul memaksakan diri pulang, maka untuk berobat lagi harus memakai biaya sendiri. Hal itulah yang membuatnya bersabar menjalani pengobatan hingga benar-benar pulih, meski harus 3 bulan menginap di RS.

“Saya juga dikunjungi pihak Kedutaan yang menawarkan penanganan lebih baik di Australia dengan semua biaya ditanggung kedutaan. Saya menjalani operasi rekonstruksi jari di sana,” katanya.

Baca juga Jihad untuk Perdamaian

Selain menderita secara fisik, peristiwa tersebut juga mengganggu psikis Nanda. Sejak 2004 hingga 2015, setiap kali ia bercerita tentang pengalamannya menjadi korban bom, ceritanya tidak pernah usai karena berakhir dengan isak tangis. Saat bersamaan, ketika melihat berita penangkapan teroris atau teroris yang mati dan jenazahnya tidak diterima oleh masyarakat, ia merasa senang. “Akhirnya keluarga pelaku ikut merasakan apa yang saya dan korban lainnya rasakan,” katanya mengenang emosinya dulu.

Pada tahun 2015, untuk pertama kalinya ia bertemu dengan seorang mantan teroris yang telah bertobat. Amarahnya tak terbendung dan terluapkan begitu saja saat itu. “Akhirnya saya putuskan untuk melakukan konseling, karena ada sesuatu dalam diri saya,” ujarnya.

Baca juga Generasi Milenial Duta Perdamaian

Seorang peserta lain menanyakan tentang upaya Nanda menghapus dendam. Ia mengungkapkan, setelah pertemuannya dengan mantan teroris, perlahan rasa dendamnya justru terkikis. Malah timbul rasa prihatin dan kasihan.

Ia juga menyadari bahwa  amarah dan dendam tidak akan pernah bisa mengembalikan tangannya berfungsi normal seperti sedia kala. “Saya memutuskan untuk memaafkan mantan pelaku dan semua yang telah terjadi pada dirinya. Agar saya bisa menjalani hidup lebih baik lagi,” katanya. [FL]

Baca juga Ketulusan dalam Pemaafan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS,...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....