HomeBeritaWartawan Harus Cermat Meliput...

Wartawan Harus Cermat Meliput Teror

Aliansi Indonesia Damai – Pemberitaan intensif media massa atas aksi terorisme bisa menjadi sarana untuk menyebarkan informasi yang positif kepada publik, namun sekaligus bisa menebarkan pesan ketakutan. Situasi demikian menuntut kecermatan wartawan dalam setiap peliputan terorisme.

Hal tersebut disampaikan oleh Agus Sudibyo, Anggota Dewan Pers, dalam kegiatan Short Course Daring Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme, yang dilaksanakan AIDA  pada 15-17 Desember 2020. Kegiatan diikuti oleh jurnalis dari puluhan media massa cetak maupun elektronik.

Baca juga Pernyataan Pers Aliansi Indonesia Damai (AIDA) Tentang Hak-Hak Korban Terorisme

Agus mencontohkan pemberitaan serangan terorisme di Mumbai India tahun 2008 yang ternyata berdampak  fatal. Saat itu para pelaku melakukan penyanderaan terhadap warga sipil. Salah satu stasiun televisi melakukan siaran langsung atas upaya aparat keamanan melumpuhkan pelaku teror. Hal itu justru menjadi bumerang karena pergerakan polisi diketahui.  Walhasil sejumlah polisi tertembak oleh para pelaku teror.

Menurut Agus, tugas jurnalisme dilindungi oleh Undang-Undang Pers, di mana aparat penegak hukum sulit melarang wartawan untuk meliput serangan terorisme. “Secara hukum yang dilakukan oleh wartawan itu tidak salah. Tapi yang benar belum tentu baik. Dalam konteks Mumbay kebebasan pers justru lebih memperbanyak korban kemanusiaan,” katanya.

Baca juga Urgensi Peliputan Terorisme Berperspektif Korban

Jika tidak cermat dalam memberitakan terorisme, media massa dan terorisme justru bisa menciptakan simbiosis mutualisme. Media massa membutuhkan peristiwa yang besar untuk disiarkan, sementara kelompok teror membutuhkan sarana untuk menebar propagandanya sekaligus mencari informasi untuk dapat mengelabui aparat penegak hukum.

Lebih dari itu, pemberitaan media massa juga bisa menjadi sarana komunikasi simbolis antarsel terorisme. “Media harus berhati-hati terhadap seluruh informasi dan selalu curiga terhadap individu yang memberikan informasi,” ujar Agus mengimbau para peserta.

Dalam hemat Agus, kebebasan pers harus dijadikan sarana untuk memberitakan mengenai kemanusiaan dan keadilan. Wartawan tidak perlu fanatik terhadap kebebasan pers, karena hal itu bukan tujuan paling tinggi dalam pemberitaan terorisme. “Tujuan paling penting dalam pemberitaan adalah kemanusiaan, keadilan, dan demokrasi,” ucapnya. [NOV]

Baca juga Media Harus Terlibat Membangun Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....