HomeBeritaDialog Siswa MAN 1...

Dialog Siswa MAN 1 Bandar Lampung dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menggelar “Dialog Interaktif Virtual: Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di MAN 1 Bandar Lampung, Senin (17/01/2022). Kegiatan dimaksudkan untuk menebar nilai-nilai ketangguhan di kalangan generasi muda. 55 siswa berpartisipasi secara daring.

Salah satu narasumber yang hadir yaitu Iswanto, mantan pelaku ekstremisme kekerasan. Iswanto menceritakan kisah perjalanannya dari awal mula terpapar paham ekstremisme hingga bertobat. Setelah menyesali perbuatannya di masa lalu, Iswanto menebusnya dengan aktif mengampanyekan perdamaian kepada khalayak luas.

Baca juga Dialog Siswa SMAN 4 Tasikmalaya dengan Mantan Ekstremis

Seorang siswa bertanya tentang sikap apa yang harus diambil ketika ada teman yang terindikasi paham ekstrem. Menurut Iswanto, orang yang seperti itu seharusnya tidak dijauhi, tetapi harus dirangkul. Karena sejatinya, ia butuh dialog.

“Pertemanan itu tidak akan bisa lepas. Jika ada teman kita yang sudah terindikasi seperti itu, dekati dia, lalu nasehati. Kalau memang kita tidak mampu, ajak dia ke pengajian atau ustaz yang yang bisa memberikan pemahaman kepadanya. Harus kita ajak dialog,” tutur Iswanto.

Baca juga Pesan Ketangguhan Pelajar Serang (Bag. 1)

Siswa lain bertanya, bagaimana cara mengetahui bahwa guru ataupun teman memiliki indikasi terpapar ekstremisme? Pengetahuan itu sebagai bekal kewaspadaan. Iswanto pun menjabarkan ciri-ciri orang yang sudah terpapar paham kekerasan sesuai pengalamannya.

“Pertama kita lihat dari sikap kesehariannya. Yang kedua, ada tidak dia terjun ke aktivitas masyarakat di sekitarnya, sekadar untuk ikut kerja bakti atau kegiatan sosial lainnya. Terus yang ketiga, lihat pola pikirnya. Dari situ akan ketahuan (terpapar atau tidak),” ujar Iswanto.

Baca juga Pesan Ketangguhan Pelajar Serang (Bag. 2)

Keterpaparan seseorang tidak bisa hanya dilihat dari kata-kata atau pengakuannya. Iswanto menceritakan pengalamannya terkait hal ini. Ketika dirinya bertobat, ia tidak koar-koar mengatakan sudah berubah, karena orang tak mudah percaya. “Tapi saya tunjukkan dengan sikap yang baik dan ramah kepada masyarakat. Ada kegiatan sosial, saya ikuti. Dari situ masyarakat menilai kalau saya sudah mendukung perdamaian,” ujar Iswanto.

Pertanyaan lain tentang atribut fisik yang kerap diidentikkan dengan ekstremisme. Siswa tersebut menanyakan mengapa orang yang memakai busana muslim tertentu, seperti cadar dianggap sebagai teroris. Secara bijak, Iswanto menegaskan bahwa ciri-ciri penganut ekstremisme tidak bisa dilihat dari apa yang tampak dari luar. Stereotip terhadap cadar dan busana muslim lainnya adalah imbas dari perbuatan kelompok teror.

Baca juga Dialog Siswa SMAN 1 Manonjaya dengan Penyintas Bom Bali

“Sebenarnya itu imbas dari perbuatan kelompok teror, karena rata-rata mereka memang memakai busana seperti itu. Tapi sekali lagi, itu tidak bisa menjadi tolok ukur. Jangan dilihat apa yang tampak. Yang dilihat itu pola pikirnya, sikapnya, karakternya, kepada siapa dia mengaji, dan kepada siapa dia berteman,” ucap Iswanto tegas. [FAH]

Baca juga Dialog Penyintas Bom Kuningan dengan Siswa SMAN 5 Tasikmalaya

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....