HomeBeritaDialog Siswa SMAN 1...

Dialog Siswa SMAN 1 Manonjaya dengan Penyintas Bom Bali

Aliansi Indonesia Damai – Ni Kadek Ardani, penyintas Bom Bali 2005, menjadi salah satu narasumber dalam kampanye perdamaian bertajuk “Dialog Interaktif Virtual: Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”. Kegiatan ini diselenggarakan atas kerjasama AIDA dengan SMAN 1 Manonjaya, Tasikmalaya, Jawa Barat, akhir tahun 2021 lalu. Sebanyak 49 siswa berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini.

Kadek membagikan kisahnya saat menjadi korban dalam peristiwa ledakan 1 Oktober 2005 silam. Saat itu, ia sedang bekerja sebagai pramusaji di Menega Café, Pantai Jimbaran, Bali. Posisi Kadek hanya berjarak 15 meter dari sumber ledakan.

Baca juga Pesan Ketangguhan Pelajar Serang (Bag. 1)

Akibat peristiwa nahas itu, Kadek mengalami cedera pada pipinya, pahanya sobek, dan beberapa gotri dan material bom bersarang di tubuhnya. Bahkan 14 tahun setelah kejadian bom itu, tepatnya di tahun 2019, Kadek baru menjalani operasi lanjutan karena masih ada sisa gotri yang bersarang di ketiaknya.

Salah seorang peserta bertanya kondisi di kawasan tempat kejadian setelah ledakan terjadi dan apakah tidak ada ketakutan dalam diri Kadek setelah menjadi korban Bom. Kadek menjawab, selama beberapa bulan aktivitas di sana lumpuh karena lokasi perlu disterilkan untuk keperluan penyidikan dan keamanan. “Teman-teman saya tidak bekerja karena lokasi juga perlu diupacarai (didoakan: red). Saya juga waktu itu tidak bekerja selama 8 bulan,” kata Kadek.

Baca juga Dialog Penyintas Bom Kuningan dengan Siswa SMAN 5 Tasikmalaya

Selama 8 bulan tidak bekerja, Kadek harus menjalani perawatan sekaligus mengikis traumanya. Akibatnya, kondisi ekonomi keluarganya memburuk. “Waktu itu saya hanya mengandalkan dari kakak dan keluarga saya,” ujar Kadek.

Kadek mengaku, ia juga mengalami ketakutan untuk kembali beraktivitas di luar rumah. Pikirannya dibayangi was-was jika peristiwa bom terjadi lagi. “Karena kondisi saya masih trauma jadi berpengaruh pada kesehatan saya. Bahkan saat awal saya memberanikan diri untuk bekerja kembali, kesehatan saya tidak stabil. Seminggu saya bekerja, seminggu lagi saya sakit. Masih takut,” katanya.

Baca juga Pesan Ketangguhan Pelajar Tasikmalaya (Bag. 1)

Ia bersyukur berkat konseling psikis dan dukungan keluarga, kondisinya berangsur membaik. Kadek mulai bangkit dan mengikis traumanya. Kini Kadek berwirausaha. Ia membuka warung makanan untuk menyambung kehidupan keluarganya.[LADW]

Baca juga Pesan Ketangguhan Pelajar Tasikmalaya (Bag. 2)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...