HomeBeritaKekerasan Jangan Dibalas dengan...

Kekerasan Jangan Dibalas dengan Kekerasan

Matanya berbinar, kata-katanya tegas. Siswa berjilbab dari SMAN 1 Bolo, Kabupaten Bima, NTB itu mengakui kesalahannya berpandangan bahwa kekerasan yang mengatasnamakan agama adalah bagian dari jihad.

“Dulu saya berpikir orang yang bukan dari agama Islam harus dibunuh. Sekarang saya sadar, pemahaman itu salah,” ujarnya usai mengikuti Seminar dan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Bima, Kamis (17/12/2015).

Pandangannya kini berubah. Menurut dia, kekerasan bukanlah solusi dalam berdakwah. Ada jalan yang lebih layak ditempuh, yaitu perdamaian. Gadis remaja ini berpesan kepada para rekan sebayanya. “Kita ini semua saudara. Ketika teman kita bukan dari Islam, ayo kita mendakwahi mereka, bukan malah menyakiti mereka,” ucapnya.

Dalam acara seminar yang diikuti 95 siswa dari SMAN 1 Bolo, SMAN 2 Bolo, SMA Muhammadiyah Bima, dan MAN 3 Bima itu Sudirman A. Thalib sebagai narasumber menyampaikan pengalamannya tentang dampak kekerasan.

Dalam kegiatan AIDA yang didukung Direktorat Pembinaan SMA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu, Sudirman mengisahkan pengalaman hidupnya menjadi korban Bom Kuningan di depan Kedutaan Besar Australia di Jakarta sebelas tahun silam.

“Posisi saya sekitar 10 meter di depan mobil pembawa bom. Hanya mukjizat Allah yang bisa menyelamatkan saya. Saya terlempar beberapa meter, lalu spontan mengucapkan Allahu Akbar tiga kali dan membaca ayat-ayat Alquran. Takbir dan ayat Alquran itu memberikan ketenangan batin kepada saya,” ujarnya.

Belajar dari pengalamannya, Sudirman berpesan kepada para siswa yang hadir agar tidak membalas kekerasan dengan kekerasan, karena hal itu pasti menimbulkan kebencian tak berujung.

Narasumber lain dari unsur mantan pelaku kekerasan, Iswanto, menyatakan bahwa mengidentikkan jihad dengan berperang adalah pemahaman sepenggal yang tidak sempurna. “Setelah saya mengkaji bermacam literatur, ternyata jihad bukan hanya perang, tapi juga menuntut ilmu dan mencari nafkah bagi keluarga,” ujarnya.

Iswanto mengakui dirinya pernah mendapatkan pemahaman jihad yang selalu identik dengan aksi kekerasan. Kala itu, ia berkeyakinan bahwa membunuh orang non-muslim adalah jihad. Kebenciannya pada umat agama lain sangat kuat. Pada saat bersamaan, ia didoktrin bahwa mencegah kemungkaran dan menyeru kebajikan boleh dilakukan dengan kekerasan.

Namun, pemahaman tersebut memudar seiring waktu. Iswanto memutuskan untuk meninggalkan kelompok kekerasan dan kembali pada kehidupan sosial yang normal. Is, sapaan akrabnya, menelaah kembali literatur Islam terutama yang berkaitan dengan jihad. Ia mendapatkan pemahaman bahwa amar ma’ruf nahi munkar tidak boleh dilaksanakan dengan cara kekerasan karena menimbulkan malapetaka baru.

Sejak berhenti dari dunia kekerasan, Is memutuskan melanjutkan jenjang pendidikan formalnya dan lantas menjadi guru di sebuah SMA swasta di Jawa Timur. Ia percaya, mengajar adalah bagian dari jihadnya. “Saya kembali ke dunia pulpen. Saya harus memintarkan anak bangsa agar mereka tidak terlibat jaringan ekstremisme,” ucapnya mantap.

Menurut dia, agama adalah ajaran perdamaian, bukan permusuhan. Ia pun berpesan kepada para siswa peserta seminar agar menjadi agen perdamaian yang mengantarkan negara menuju kemakmuran. Is juga meminta agar para remaja belajar agama secara mendalam.

“Adik-adik semua perlu berhati-hati. Ilmu kurang, semangat tinggi, mental yang labil akan mudah terpengaruh ajaran kekerasan atas nama agama. Maka perbanyak belajar, dalami ilmu agama, bersikaplah kritis saat diajak melakukan kekerasan,” katanya.

Pesan senada juga disampaikan oleh Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi. Menurut dia, memahami pesan Alquran tak bisa sepenggal, melainkan harus menyeluruh, dari ayat pertama hingga terakhir. Dalam penelitiannya, hanya ada sekira 300 ayat dalam Alquran yang berbicara tentang kekerasan. Itu pun harus ditafsirkan dalam implementasinya. Sementara di sisi lain, terdapat ribuan ayat yang berbicara tentang perdamaian. “Maka tidak adil meninggalkan sebagian ayat demi sebagian ayat yang lain karena Alquran satu kesatuan,” katanya.

Para guru dan kepala sekolah yang turut menghadiri seminar memberikan respons positif terhadap acara ini. Mereka menilai kegiatan ini sangat bermanfaat karena menghadirkan korban terorisme dan mantan pelaku kekerasan sehingga semua pihak bisa mempelajari ketangguhan yang dicontohkan Sudirman dan Iswanto saat bangkit dari keterpurukan masa lalu. (MSY)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Membalas Kekerasan dengan Kasih

Aliansi Indonesia Damai- Meski kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga, namun Ni Luh Erniati, penyintas bom Bali 2002, tidak ingin membalas dendam kepada pelaku/mantan pelaku terorisme. Ia pun tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam...

Dukungan Sesama Korban Membantu Kebangkitan

Aliansi Indonesia Damai- Tasdik Saputra, penyintas Bom Kampung Melayu 2017, mengaku dukungan dari sesama korban terorisme sangat besar pengaruhnya bagi proses kebangkitan dirinya. Menurut dia dukungan sesama korban telah menguatkan dirinya untuk tidak terus larut dalam trauma, mampu bangkit dari keterpurukan, bahkan bisa memaafkan mantan pelaku terorisme. “Awalnya...

Pendidikan Kekalahan

Oleh Ridho Pratama Satria, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Juni 2026 Dalam perkembangan dunia pendidikan sekarang, pelajar yang berprestasi bukan hanya pelajar yang tinggi nilai akademiknya. Pelajar yang punya catatan juara juga layak disebut pelajar berprestasi. Catatan juara ini...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun berkecamuk, mengorbankan 60.000 warga sipil berdasarkan data kantor komisaris tinggi PBB untuk urusan hak asasi manusia. Gaza telah lama rata dengan tanah, membinasakan sedikitnya 72.000 jiwa dan melukai 170 ribu lainnya, menurut data otoritas kesehatan di...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...