HomeBeritaCinta, Maaf dan Pantang...

Cinta, Maaf dan Pantang Menyerah

Demikian petikan lirik lagu Ternyata Cinta dari grup band Padi yang sering dilantunkan Endang Isnanik kala mengenang suaminya, Aris Munandar (alm) yang menjadi korban Bom Bali 2002. Dalam sepi menjalani tantangan kehidupan sepeninggal suami, Endang punya cara tersendiri agar selalu kuat mendidik dan membesarkan ketiga anaknya. Ia selalu menanamkan semangat tawakal dalam setiap langkah hidupnya. Sebagai manusia biasa, ia hanya mengusahakan segala kebaikan hidup bagi diri dan keluarganya. Di atas tekad dan usahanya, ia menyandarkan hasilnya pada ketentuan Tuhan.

Endang menuturkan kisahnya itu dalam kegiatan Pelatihan Tim Perdamaian Aliansi Indonesia Damai (AIDA) pada 22-23 Agustus 2015 di Kota Malang, Jawa Timur. Bersama sejumlah korban serta seorang mantan pelaku aksi terorisme, Endang bersatu untuk mengkampanyekan pentingnya perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kepada para pelajar di Malang.

Dalam kegiatan tersebut, Endang berbagi kisah tentang perjuangannya membesarkan anak-anaknya setelah aksi teror di Bali tiga belas tahun silam merenggut nyawa suami tercinta. Beberapa jam sebelum tragedi, Endang sempat bersenda gurau dengan suami dan ketiga anaknya. “Saat di rumah, dia banyak cerita. Dia bilang kepada saya kok kamu putih sekali. Lalu saya balas ah ada-ada saja, tumben kamu merayu aku, Mas. Lalu dia cium kening saya. Kita makan bareng, dia menyuapi saya. Dia memperlakukan saya sangat istimewa malam itu,” ujarnya bercerita.

Setelah melakukan sembahyang berjamaah dan makan malam bersama, suami Endang meninggalkan rumah untuk bekerja. Endang sama sekali tidak menyangka kepergian sang suami malam itu adalah perpisahan terakhir kalinya. Suaminya yang merupakan wirausahawan bisnis transportasi turut menjadi korban ledakan bom 12 Oktober 2002 di kawasan Kuta, Legian, Bali.

Kepergian sang suami sungguh menjadi pukulan berat bagi Endang. Saat dirinya sedang sakit, suami yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga meninggalkannya. Kendati demikian, Endang tak mau berlama-lama dirundung kesedihan. Ia mengumpulkan segenap tenaga untuk segera bangkit dan menggantikan peran suami untuk membesarkan ketiga putranya. Bersama para janda korban Bom Bali, Endang bekerja di bisnis konveksi. Dari pekerjaannya itu ia sukses mendidik anak-anaknya.

“Ini bentuk cinta saya kepada suami saya, Mas Aris, bentuk tanggung jawab saya kepada dia juga, saya besarkan anak-anak walau tanpa dia. Sekarang anak pertama sudah hampir wisuda Sekolah Tinggi Desain Bali, anak kedua baru masuk Sekolah Tinggi Pariwisata, anak ketiga kelas 1 SMA umur 15 tahun,” ujarnya.

Mendengarkan kisah Endang, mantan pelaku terorisme, Ali Fauzi, merasakan kesedihan mendalam. Dengan penuh penyesalan, Ali menyadari aktivitas kelompoknya pada masa lalu telah menimbulkan penderitaan yang dalam bagi orang-orang tak bersalah, seperti Endang dan keluarganya. Dengan segala kerendahan hati, ia memohon maaf kepada para korban atas aksi teror yang dilakukan kelompoknya pada masa lalu.

Tidak berhenti pada permintaan maaf, Ali juga merasa sangat bersyukur dapat terlepas dari ikatan kelompok teroris dan kini bersama-sama para korban terorisme berdiri satu barisan menebarkan perdamaian kepada generasi muda. Bagi dia, pengalaman menjadi anggota Tim Perdamaian AIDA merupakan kesempatan berharga untuk membina persaudaraan dengan para korban terorisme.

“Sekarang saya bersyukur punya teman-teman korban bom yang menguatkan saya. Saya berada di komunitas baru yang lebih baik dan lebih mendamaikan. Percayalah, kami ada dan kami siap untuk bersama-sama menjadi duta perdamaian. Saya dan teman-teman tidak mengharapkan ada bom lagi. Kami yang sudah keluar sekarang menjadi sasaran mereka dan dimusuhi mereka, serta dapat ancaman. Bahkan, saya sudah dikafirkan mereka. Perjuangan untuk mendakwahkan perdamaian lebih mulia daripada mengajak pada kerusakan,” Ali menjelaskan.

Anggota Tim Perdamaian AIDA lainnya, Iwan Setiawan, juga membagi kisahnya dalam kegiatan siang itu. Seperti rekan-rekannya sesama Tim Perdamaian, ia bercerita pengalaman dirinya menjadi penyintas dari peristiwa bom 9 September 2004 di depan Kedutaan Besar Australia di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Yang unik dari Iwan, ia banyak menceritakan semangat dan ketangguhan dirinya untuk tegar dan tidak terpuruk akibat aksi teror yang telah menghilangkan sebagian anugerah yang ia miliki. Ia menanamkan ‘mental petinju’ dan ‘filosofi tukang parkir’ dalam dirinya agar tidak terpuruk dalam kesedihan. Seorang petinju, menurut Iwan, semangat hidupnya tinggi. Apabila terpukul dan jatuh, ia bangkit lagi, jatuh lagi dan bangkit lagi. Sedangkan tukang parkir, lanjutnya, punya kelapangan hati. Tukang parkir selalu ikhlas ketika kendaraan yang dititipkan kepadanya diambil oleh pemiliknya. Demikian pula hidup dengan segenap anugerahnya ini, kata Iwan.

“Sekarang saya jadi wirausahawan komputer dan tempat usahanya saya beri nama Bombom Computer. Itu saya ambil dari peristiwa bom yang menimpa saya dan istri saya. Alasannya, bom itu kan besar kekuatannya, jadi harapan saya usaha nanti suatu saat bisa menjadi besar juga,” ujarnya.

Pada kegiatan pelatihan Tim Perdamaian AIDA di Malang, setiap anggota menyiapkan bahan presentasi untuk disajikan menjadi pesan perdamaian kepada para pelajar di 5 SMA Negeri di kota berhawa sejuk itu. Mereka juga berlatih metode penyampaian presentasi yang baik dan efektif sehingga pesan perdamaian dapat diterima para pelajar dengan baik.

Endang Isnanik mendapatkan kesempatan menyampaikan presentasi kampanye damai di SMAN 5, sedang Iwan Setiawan di SMAN 2. Tiga korban terorisme lainnya berkampanye di sekolah lain, yaitu Sudarsono Hadisiswoyo (korban Bom Kuningan) di SMAN 1, Eko Sahriyono (korban Bom Bali) di SMAN 4, dan Tita Apriyantini (korban Bom JW Marriott) di SMAN 3. Anggota Tim Perdamaian AIDA dari unsur mantan pelaku, Ali Fauzi, juga turut menguatkan pesan perdamaian para korban di setiap sekolah. [MLM] (SWD)

 

Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA, edisi VI Oktober 2015.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...