HomeBeritaDua Tahun Bom Thamrin,...

Dua Tahun Bom Thamrin, Korban Ketuk Perhatian Negara

Dok. AIDA - Para penyintas Bom Thamrin berjalan bergandengan tangan menuju pos polisi di perempatan Sarinah, Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat dalam rangka peringatan 2 tahun Bom Thamrin (14/1/2018).
Dok. AIDA – Para penyintas Bom Thamrin berjalan bergandengan tangan menuju pos polisi di perempatan Sarinah, Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat dalam rangka peringatan 2 tahun Bom Thamrin (14/1/2018).

Sahabat Thamrin, komunitas korban aksi teror di Jl. MH Thamrin Jakarta Pusat, beserta para korban terorisme yang tergabung dalam Yayasan Penyintas Indonesia (YPI) berkumpul di Jakarta, Minggu (14/1/2018) untuk memperingati peristiwa teror yang terjadi tepat dua tahun sebelumnya.

Mereka berkumpul untuk saling menguatkan dan memotivasi untuk terus bersemangat menatap kehidupan meski sebagian masih harus menjalani pengobatan. Di samping itu mereka juga secara bersama-sama mendorong pemerintah sebagai representasi negara agar segera memenuhi hak-hak korban terorisme.

Mereka mengetuk kepedulian pemerintah agar pemenuhan hak-hak korban yang diamanatkan dalam UU No. 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dan UU No. 31 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban diberikan secara sempurna. Salah satu yang disorot adalah hak kompensasi atau ganti rugi negara terhadap korban aksi terorisme.

“Melalui aksi ini, kami sangat berharap sekali bahwa hak kompensasi mutlak diberikan kepada korban tanpa perlu melalui pengadilan melainkan melalui putusan lembaga negara yang terkait dengan persoalan terorisme,” ujar Dwi Siti Rhomdoni, salah satu korban Bom Thamrin.

Sepuluh menit lepas dari pukul 10 pagi, para korban bergandengan tangan berjalan ke tengah persimpangan Jl. MH Thamrin di depan pusat perbelanjaan Sarinah. Sebagian yang lain tampak membawa karangan bunga. Pemandangan tersebut menarik perhatian para pejalan kaki yang sedang menikmati hari bebas kendaraan (car free day) pagi itu.

Di tengah perempatan tersebut mereka mengheningkan cipta untuk mengenang para korban, serta memanjatkan doa agar tragedi kemanusiaan tak lagi terulang di Indonesia. Doa dipimpin oleh Direktur Aliansi Indonesia Damai (AIDA), Hasibullah Satrawi.

“Bagi keluarga korban Bom Thamrin dan korban bom secara umum, ini adalah peristiwa yang traumatik. Namun, keluarga Bom Thamrin selalu meneguhkan dirinya untuk melakukan peringatan seperti ini, untuk menjadi peringatan bagi kita semua agar tidak ada lagi orang yang melakukan aksi kekerasan,” kata Hasibullah.

Usai doa bersama Dwi yang ditunjuk mewakili Sahabat Thamrin membacakan pernyataan sikap terkait Peringatan Bom Thamrin. Setelah itu, para korban melakukan tabur bunga di taman di dekat pos polisi di tengah perempatan.

Dua tahun sebelumnya, 14 Januari 2016, aksi teror bom disertai baku tembak antara teroris dengan aparat keamanan terjadi di tempat tersebut. Pos polisi yang berada di tengah perempatan dan sebuah kedai kopi di sudut perempatan adalah lokasi terparah yang diserang teroris. Peristiwa itu menimbulkan 4 korban jiwa, puluhan luka, dan meninggalkan trauma mendalam bagi orang-orang yang mengalami peristiwa itu. [SWD]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...

Berusaha Tegar dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga menjadi pukulan sangat berat bagi Ni Luh Erniati, salah satu janda korban bom Bali 2002. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta Bali,...

Perdamaian Harus Dijaga

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati mengajak generasi muda untuk terus menjaga perdamaian. Menurut dia perdamaian harus tetap dijaga karena perdamaian itu indah. “Untuk bisa menjaga perdamaian diperlukan kesabaran. Kita harus mampu berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan,”...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education; Pengajar Program Doktoral Psikologi Universitas Surabaya Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Juli 2026 Anak bungsu saya memasuki halaman sekolah dengan langkah kecil yang diberani-beranikan. Maklum, pagi di pengujung musim panas itu adalah hari pertama...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...