HomeBeritaBangkit dari Keterpurukan

Bangkit dari Keterpurukan

Dok. AIDA – Sudarsono Hadisiswoyo, penyintas bom Kuningan 2004, menyampaikan kisahnya dalam Dialog Interaktif Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh di Bima, Nusa Tenggara Barat (20/11/2017).

 

Akhir November 2017 lima sekolah di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat menjadi tuan rumah Seminar Kampanye Perdamaian yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) dan didukung oleh Direktorat Pembinaan SMA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Lima sekolah tersebut adalah SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3, SMAN 4, dan SMAN 5 Kota Bima. Di setiap sekolah tak kurang dari 50 siswa mengikuti kegiatan yang mengambil tema “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”.

Tim Perdamaian AIDA, yang terdiri dari penyintas dan mantan pelaku terorisme yang telah berekonsiliasi, berbagi pengalaman kepada para siswa peserta seminar. Anggota Tim Perdamaian yang hadir dalam kesempatan di Bima ialah Chusnul Chotimah (penyintas aksi teror Bom Bali 2002), Sudarsono Hadisiswoyo (penyintas aksi teror Bom Kuningan 2004), dan Iswanto (mantan anggota kelompok teroris).

Chusnul, Sudarsono, dan Iswanto secara bergantian mengisahkan pengalaman hidup masing-masing. Saat aksi teror terjadi di daerah Legian, Bali, Chusnul sedang berada di tepi jalan membeli nasi bungkus. Bom bermuatan lebih dari satu ton serta bercampur bensin itu merusak dan membakar segala yang ada di sekitar lokasi kejadian. Dia mengalami luka bakar serius di sekujur tubuhnya. Hampir satu tahun ia menjalani masa pengobatan dan harus menahan rasa sakit yang luar biasa.

Sempat hampir berputus asa, Chusnul bertahan dan kini bangkit mengalahkan berbagai tantangan hidup. Dia telah menghilangkan rasa dendam dalam hati. Termasuk kepada orang-orang yang pernah terlibat terorisme, dia memilih untuk berbesar hati memaafkan kesalahan ketimbang meyimpan dendam. “Saya dapat banyak masukan bahwa dendam itu tidak menyelesaikan masalah. Perlahan-lahan saya renungkan itu dan akhirnya dendam bisa hilang,” ujarnya.

Tim Perdamaian dari unsur mantan pelaku, Iswanto, juga berbagi kisah dalam Seminar Kampanye Perdamaian. Dia menceritakan, saat bergabung dengan kelompok teroris sering menerima doktrin untuk membenci dan menimpakan keburukan kepada umat yang beragama non-Islam.

Setelah beberapa waktu muncul kesadaran dalam dirinya untuk mengevaluasi cara pandang kelompoknya dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Kesadarannya semakin menguat setelah gurunya menasihati agar menghentikan cara-cara kekerasan dalam menyampaikan dakwah di masyarakat. Pertemuannya dengan korban aksi teror juga memantapkan hatinya untuk aktif mengampanyekan bahaya paham terorisme.

Para siswa peserta Seminar Kampanye Perdamaian merespons positif kegiatan. Seorang siswi SMAN 3 mengatakan bahwa pengalaman hidup korban aksi teror sangat menyedihkan namun mengandung banyak pelajaran berharga. Sesuai dengan tema kegiatan “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”, dia menyimpulkan makna ketangguhan dari penuturan kisah Tim Perdamaian. Menurut dia, agar menjadi generasi yang tangguh pelajar Indonesia harus menanamkan semangat pantang menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan.

“Dari sebuah keterpurukan, bukan berarti harus berhenti berjuang, justru harus bangkit dari keterpurukan tersebut,” kata dia.

Di kesempatan terpisah seorang siswa SMAN 4 menyampaikan kesan mengikuti seminar. Selain mengaku senang karena mendapatkan wawasan baru dari kegiatan, dia menyerap banyak pengetahuan yang bermanfaat. Salah satunya adalah sikap menjadi pemaaf atas kesalahan orang lain. “Saya banyak mendapat pelajaran dari Bu Chusnul, kita bisa belajar bagaimana memaafkan seseorang walaupun orang tersebut sudah berbuat jahat kepada kita,” dia menuturkan. [F]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...

Menjaga Relevansi Program Studi lewat Transformasi

Oleh Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Mei 2026 Setiap tahun perguruan tinggi Indonesia meluluskan sekitar 1,9 juta sarjana. Namun, banyak di antaranya kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai. Wacana penataan program studi yang dilontarkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek)...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah mengaku ia bersama rekan-rekannya di komunitas Yayasan Lingkar Perdamaian aktif merangkul dan mengajak mereka yang masih berpemikiran ekstrem untuk kembali ke jalan perdamaian. “Saya berusaha supaya mereka tidak melakukan aksi kekerasan lagi, bahkan yang masih...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menerima banyak tantangan saat hijrah dari pemikiran ekstrem ke pemikiran moderat (wasathiyah) dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu kami terjerumus ke pemikiran radikal, terus kembali atau berubah pemikirannya,...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...