Home Berita Meretas Jalan Damai di Lapas
Berita - 25/01/2018

Meretas Jalan Damai di Lapas

Peserta dan Tim Perdamaian Berfoto Bersama Usai Kedekatan di Surabaya
Peserta dan Tim Perdamaian Berfoto Bersama Usai Kedekatan di Surabaya. Dok. AIDA

Matanya tampak memerah. Air mata bergulir membasahi pipinya yang tersaput bedak tipis. Suaranya serak namun masih terdengar cukup jelas. Perempuan berjilbab itu mengaku sedih namun salut atas ketegaran jiwa para korban terorisme.

Saya sangat bersyukur bisa bertemu dengan teman-teman korban. Mereka dapat ikhlas menerima keadaan berat. Saya sendiri pernah mengalami musibah berat ketika bertugas di Lapas (lembaga pemasyarakatan-red), namun ternyata itu belum apa-apa,” ujarnya sambil beberapa kali menyeka air matanya dengan tisu.

Ungkapan tersebut disampaikan oleh salah satu peserta Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Bagi Petugas Pemasyarakatan Wilayah Jawa Timur di Surabaya, awal Februari lalu. Kegiatan ini hasil kerja sama Aliansi Indonesia Damai (AIDA) dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen Pas) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Tiga orang korban terorisme yang hadir membagikan kisahnya dalam kegiatan ini adalah Ni Luh Erniati (penyintas Bom Bali 2002), Nanda Olivia Daniel (penyintas Bom Kuningan 2004), dan Agus Suaersih (penyintas Bom JW Marriott 2003). Dalam penuturannya, Erni, demikian sapaan akrab Erniati, sempat sangat sedih, terpukul, dan marah karena harus menjadi single parent bagi dua buah hatinya saat dia berusia 30 tahun. Suaminya, Gede Badrawan, menjadi salah satu korban meninggal dalam tragedi Bom Bali 2002. “Setengah jiwa saya hilang, yang membuat hidup saya terasa mengambang. Setiap malam saya menangis,” ujar Erni.

Untuk memulihkan kondisi psikisnya, Erni rutin mengikuti program konseling dengan psikiater. Selain itu, ia merintis usaha konveksi bersama sejumlah rekannya sesama janda korban Bom Bali berkat bantuan modal dari seorang dermawan. Erni berupaya untuk berlapang dada menerima kenyataan tersebut. “Saya akan sakit selamanya kalau saya marah. Kalau saya meminta mereka (pelaku teror-red) dihukum berat pun, suami saya juga tak akan kembali. Lebih baik saya memaafkan dan menerima satu sama lain sehingga beban dalam hati hilang,” katanya.
Sementara itu, Nanda dan Agus Suaersih mengisahkan perjuangan mereka menjalani proses penyembuhan fisik dan psikis akibat aksi teror bom di Jakarta. Keduanya menjalani serangkaian operasi untuk memulihkan kondisi fisik.

Peserta dari Lapas Lamongan mengucapkan terima kasih kepada AIDA karena telah membuka tabir hidup korban-korban terorisme. Ia juga meminta maaf kepada para korban karena sebagian saudaranya sesama warga Lamongan terlibat dalam aksi-aksi teror. “Perbuatan saudara-saudara saya telah mengakibatkan Anda semua menderita, menjadikan anak-anak menjadi yatim, saya mohon maaf,” ucapnya.

Seorang peserta lainnya, petugas Lapas Malang, berpandangan bahwa para korban terorisme perlu dihadirkan secara rutin ke dalam Lapas untuk dipertemukan dengan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Kisah korban dapat menjadi alternatif pembinaan WBP

terorisme. “Supaya mereka melihat langsung hasil ‘karyanya’ yang melukai dan membuat menderita saudaranya sendiri, sehingga berpikir ulang jika nanti akan terlibat lagi dengan aksi-aksi kekerasan,” ujarnya.

Tugas Berat Lapas

Pelatihan ini melibatkan 17 orang petugas perwakilan dari 14 Lapas yang menampung WBP terorisme di wilayah Jawa Timur. Direktur Bina Narapidana dan Latihan Kerja Produksi (Binapi Latkerpro) Ditjen Pas Kemenkumham, Ilham Djaya, mengecek langsung masing-masing delegasi Lapas yang hadir.

Dalam sambutannya, Ilham mengungkapkan bahwa kegiatan AIDA menuai apresiasi dari sejumlah lembaga negara. Dalam beberapa forum koordinasi lintas instansi, Ilham kerap menyampaikan pendekatan AIDA yang mempertemukan korban terorisme dengan WBP terorisme.

Secara pribadi, Ilham mengaku salut atas kebesaran hati para korban terorisme karena berkenan membagikan kedukaan dan perjuangan kebangkitannya kepada para petugas Lapas. “Saya harap teman-teman petugas Lapas dapat mengambil pelajaran dari kisah korban,” kata dia.

Menurut Ilham, kecenderungan jumlah WBP terorisme terus meningkat. Saat ini ada ratusan tahanan terorisme yang siap disebarkan ke Lapas-Lapas di Indonesia. “Kita harus mengantisipasinya. Karenanya kegiatan penguatan seperti ini sangat penting,” ucapnya.

Ahli terorisme dari Universitas Indonesia, Solahudin, berpandangan saat ini banyak WBP terorisme yang baru masuk ke Lapas adalah para pendukung kelompok teror Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS), dan mereka bersikap tidak kooperatif kepada petugas. Sebelum masuk Lapas, saat berada di Rutan, mereka tidak mendapatkan program deradikalisasi. Tentu ini menjadi tugas berat bagi petugas Lapas. Melihat kondisi Lapas yang seluruhnya overpopulasi dengan jumlah petugas yang tidak sebanding, sebenarnya hampir mustahil mencegah radikalisasi dalam Lapas.

Akan tetapi, jika dicermati, demikian Solahudin menerangkan, setidaknya ada tiga hal yang berperan besar dalam proses radikalisasi di Lapas, yaitu ideologi, logistik, dan proteksi. Karenanya, dibutuhkan tiga strategi kontraradikalisasi yaitu dengan memutus penyebaran ideologi, aliran logistik, dan proteksi dari luar Lapas. [MSY]