HomeSuara Korban"Anak-anak Jadi Pengobat Luka"

“Anak-anak Jadi Pengobat Luka”

Wayan Leniasih
Wayan Leniasih, janda korban Bom Bali 12 Oktober 2002. [Dok. AIDA]
Wayan Leniasih, 39, ialah janda korban Bom Bali 2002. Suaminya, Kadek Sukerna, menjadi salah satu korban tewas dalam ledakan besar di Jl. Legian tak jauh dari objek wisata populer Pantai Kuta pada 12 Oktober 2002.

Sepeninggal suami, suka duka kehidupan, termasuk tantangan dalam membesarkan putra-putrinya, harus dia hadapi seorang diri. Waktu itu, putra bungsunya baru berusia 2 bulan. Dia sempat terpuruk dalam kesedihan hingga tak mampu menyusui. Seiring waktu secara perlahan dia mengesampingkan kepedihan dan berusaha bangkit menyambut masa depan.

Dia menjadi pengajar di sebuah taman kanak-kanak (TK) di Denpasar untuk mendapatkan rezeki. Berinteraksi dengan anak-anak, menurutnya, bisa menjadi pelipur lara kala dia sedang sedih.

“Kadang-kadang kalau melihat murid-murid saya, itu rasanya seperti melihat anak-anak saya sendiri. Jadi, itu bisa mengobati luka saya,” ujarnya dalam sebuah kegiatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Surabaya pada Oktober 2016.

Leniasih merasakan dampak terorisme selain merenggut nyawa suaminya, juga memengaruhi perilaku anak-anaknya. Sebelum tragedi, putri sulungnya sudah terbiasa merasakan kehangatan kasih seorang ayah. Dia perhatikan putrinya menjadi sering murung, mengambek, dan marah tanpa sebab setelah ayahnya tiada.

Dampak yang kurang lebih sama juga terlihat dalam diri putra bungsunya. Leniasih mengingat, saat belajar di sekolah putranya tak mau bergaul dengan teman-teman sebaya. Sang putra lebih banyak menghabiskan waktu sendiri. Leniasih mengaku sempat khawatir terhadap tumbuh kembang si anak yang sering dilanda kesedihan dalam usianya yang masih sangat muda.

“Suatu waktu saya ajak dia untuk curhat begitu, kenapa kok sering bersedih, sebenarnya apa yang dia mau. Lalu dia bilang kalau dia mau seorang ayah. Dia mau ibunya cari laki-laki untuk jadi ayah bagi dia. Biar jelek juga nggak apa-apa, begitu kata dia,” ungkap Leniasih mengenang.

Secara perlahan Leniasih berusaha untuk menyadarkan sang putra bahwa ayahnya telah meninggal dunia menjadi korban tragedi Bom Bali 2002. Dia hanya bisa menghibur sebisanya ketika anaknya merajuk meminta sesuatu yang sulit dia berikan. Dan, dia tak pernah lelah untuk terus memberikan motivasi untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya.

Sebagai ahli waris korban terorisme, Leniasih berharap pemerintah menunjukkan kepedulian kepada keluarganya. “Minimal jaminan kesehatan dan beasiswa untuk pendidikan anak-anak saya itu yang penting,” kata dia. Saat ini putri sulungnya sudah lulus sekolah dan sedang bersiap untuk kuliah di perguruan tinggi, sedangkan putranya masih bersekolah di bangku SMA.

Aksi Bom Bali 2002 adalah insiden terbesar dalam sejarah terorisme di Indonesia. Dua kafe di Jl. Legian, Paddy’s Pub dan Sari Club, yang setiap malam dipadati banyak wisatawan asing menjadi sasaran para teroris. Peledak ditambah dengan bahan bakar bensin membuat efek bom tak hanya merusak tetapi juga membakar apa saja yang ada di sekitar lokasi ledakan. Insiden itu menewaskan 202 orang -164 di antaranya adalah warga negara asing- dan 209 lainnya mengalami luka-luka.

Almarhum suami Leniasih sedang bekerja sebagai karyawan di Sari Club saat peristiwa terjadi. Jenazah suaminya baru bisa diidentifikasi beberapa hari setelah kejadian. Itu pun, Leniasih mendapati jenazah suaminya sudah tidak utuh lagi. Selaras dengan tradisi umat Hindu di Bali, jasad suaminya beserta para korban lainnya dimakamkan dengan sebelumnya dilakukan upacara adat. [MLM]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 1)

Setiap orang butuh rumah. Baik dalam arti fisik, tempat di mana ia berasal dan menuju pulang, maupun secara substantif ruang di mana ia selalu diterima dan dicintai oleh keluarga. Choirul Ihwan, pria asal Madiun, Jawa Timur, ialah satu dari sekian orang yang merasa kehilangan rumah itu sejak...

Syariat Allah Memerintahkan Kebaikan

Aliansi Indonesia Damai- Syariat Allah Swt itu memerintahkan umat manusia untuk berbuat kebaikan bukan keburukan atau kejahatan. Siapa pun yang melakukan kejahatan atau keburukan maka telah melanggar syariat Allah Swt. Demikian pernyataan mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery...

Tangguh Menghadapi Ujian

Oleh Nur Aliyah, pengasuh Ponpes Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten* Dalam kehidupan ini, ujian dan cobaan adalah keniscayaan. Ia datang silih berganti, tanpa pernah memandang waktu, usia, atau status sosial. Sebagai muslim, kita diajarkan untuk tidak sekadar pasrah, melainkan tangguh. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: ketangguhan macam apa yang seharusnya...

Tidak Larut dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Agus Kurnia, penyintas bom Thamrin 14 Januari 2016, mengaku sejak menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta, dirinya memutuskan untuk tidak larut dalam kesedihan dan kemarahan. Menurutnya, apa yang sudah terjadi tidak mungkin kembali seperti semula. Pada 14 Januari 2016, Agus...

Santri Belajar Perdamaian dari Penyintas dan Mantan Pelaku

Aliansi Indonesia Damai- “Perasaan saya setelah mengikuti kegiatan ini bangga. Bangga kenapa? Bangga karena tidak ikut-ikutan jadi teroris.” Seorang santri Pondok Pesantren Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten menyampaikan kesan tersebut saat mengikuti Pengajian & Diskusi dengan tema ‘Menyerap Ibroh dari Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme’ beberapa waktu lalu. Dalam...