HomeBeritaMenggali Nilai Ketakwaan dari...

Menggali Nilai Ketakwaan dari Kisah Korban

Dok. AIDA – Para peserta dan Tim Perdamaian berfoto bersama dalam Pelatihan Penguatan
Perspektif Korban Terorisme di Kalangan Tokoh Agama di Bandung (13/8/2017).

 

“Korban bisa sampai memaafkan pelaku teorisme, menurut saya inilah orang-orang yang bertakwa. Salah satu ciri orang bertakwa adalah wal kadzimin al-gaidha wal afina anin nas, mampu menahan amarah dan sanggup memaafkan kesalahan orang lain.”

Demikian kesan yang disampaikan seorang peserta Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme di Kalangan Tokoh Agama di Bandung, 12-13 Agustus 2017. Setelah mendengarkan penuturan kisah korban dia mengaku mendapatkan pencerahan baru tentang ketakwaan.

Dalam kegiatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) dihadirkan Tim Perdamaian -yang terdiri atas penyintas dan mantan pelaku terorisme yang telah berekonsiliasi- untuk mengajak peserta melestarikan kedamaian sekaligus mewaspadai ancaman paham-paham prokekerasan.

Anggota Tim Perdamaian dari unsur mantan pelaku, Kurnia Widodo, mengaku telah terpapar ideologi ekstrem sejak bersekolah di bangku SMA. Dia didoktrin untuk melakukan kekerasan dengan dalih membela agama. Setelah menjalani hukuman atas kasus kepemilikan bahan peledak dan perencanaan teror dia mulai menyadari kesalahan dan berkomitmen untuk meninggalkan dunia kekerasan.

Salah satu faktor yang meyakinkannya untuk tidak kembali ke kelompok teroris adalah pertemuannya dengan korban terorisme. Dia mengaku selalu merasa bersalah ketika mendengarkan kesaksian korban saat mengalami sakit luar biasa akibat ledakan bom. “Saya jadi mikir apa yang kita pahami dulu itu salah. Dulu kita nggak peduli karena kita menganggap mayoritas umat Islam di Indonesia ini bukan Islam. Tapi, setelah mendengarkan kisah-kisah korban itu, jadinya kita zalim,” ujarnya.

Sementara itu anggota Tim Perdamaian dari pihak korban, Endang Isnanik, berbagi kisah hidupnya sepeninggal suami, alm. Aris Munandar, yang menjadi salah satu korban tewas Bom Bali 2002. Penderitaan dan kepedihan mendalam dia rasakan setelah sang tulang punggung keluarga tiada. Meskipun demikian, dia mengaku bersyukur dapat mengambil hikmah dari cobaan yang menimpanya.

Hari-hari pertama pascakejadian Endang sering terbangun dini hari kemudian membuka pintu seakan-akan menyambut suaminya datang. Seketika dia pun sadar bahwa suaminya telah meninggal. “Itu terjadi setiap hari sehingga akhirnya saya ambil air wudu dan mencoba mendekatkan diri kepada Allah,” ucapnya. Dengan mendekatkan diri kepada Tuhan dia mengaku semakin bersemangat untuk bangkit dari musibah.

Kurnia secara pribadi telah meminta maaf kepada Endang lantaran pernah terlibat kelompok teroris yang menyebabkan para korban menderita. Endang pun berbesar hati telah memaafkannya. Setelah rekonsiliasi terbentuk mereka berkomitmen untuk mengampanyekan perdamaian bersama AIDA.

Dalam Pelatihan juga diadakan sesi ‘Silaturahmi dengan Korban’. Mulyono, korban Bom Kuningan 2004, dan Tamin, korban Bom JW Marriott 2003, berbagi kisah hidup mereka saat mengalami peristiwa teror. Mulyono menderita luka parah di rahangnya. Rasa sakit akibat ledakan bom dia rasakan menjalar ke saraf-saraf di kepala dan hingga kini masih sering muncul. Sementara itu, Tamin meskipun badannya tidak mengalami luka namun secara mental dia sangat terpukul menyaksikan ledakan disertai sambaran api yang sangat besar menghampiri mobil yang dikendarainya.

Saat kejadian, Tamin mengantarkan atasannya untuk makan siang di Restoran Syailendra di Hotel JW Marriott Jakarta. Karena lalu lintas padat lajunya terhalang beberapa mobil di depannya. Posisinya waktu itu hanya sekitar 15 meter dari mobil pembawa bom. “Tadinya saya mau marah sama mobil yang menghalangi saya itu. Ternyata setelah kejadian saya baru … astaghfirullah al-adzim, kalau nggak ada mobil itu saya nggak bisa ngebayang (pasti terkena ledakan-red),” ucapnya.

Usai penuturan kisah korban para peserta mengutarakan kesan. Sebagian menyampaikan simpati dan mendoakan agar musibah yang dialami para korban dapat menggugurkan dosa-dosa mereka. Seorang peserta menanyakan bagaimana perasaan korban setelah mengetahui bahwa pelaku teroris beragama Islam. “Apakah tidak yunqisul iman, mengurangi keimanan, begitu?” ujarnya.

Menanggapi hal itu Mulyono menerangkan bahwa sejak kecil dia dibesarkan dalam keluarga yang mengajarkan bahwa Islam agama yang damai, indah, dan baik. Dia juga diajarkan untuk tidak membenci agama lain. Dia menganggap aksi teror yang menimpanya sebagai ujian Tuhan bagi hamba-Nya yang ingin berkembang menjadi lebih baik. “Kalau kita mau naik tingkat, mau naik kelas, pasti diuji akan dapat cobaan. Itu yang saya yakini bahwa kalau kita dapat cobaan terus kita masih marah-marah sama Allah, kita nggak terima, ya kita belum naik kelas,” kata dia.

Selain materi inti penguatan sudut pandang korban, para peserta Pelatihan juga mendapatkan materi pengayaan dari narasumber pakar, di antaranya Marzuki Wahid, dosen dan peneliti IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Sofyan Tsauri, pengamat jaringan terorisme, dan Imam B. Prasodjo, sosiolog Universitas Indonesia.

Pelatihan diikuti oleh 26 aktivis dakwah dari berbagai ormas Islam dan pondok pesantren di wilayah Bandung Raya, di antaranya Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persatuan Islam, Majelis Ulama Indonesia, dan Pusdai Jawa Barat. [MLM]

 

 

 

*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA “Suara Perdamaian” edisi XIV Oktober 2017.

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education; Pengajar Program Doktoral Psikologi Universitas Surabaya Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Juli 2026 Anak bungsu saya memasuki halaman sekolah dengan langkah kecil yang diberani-beranikan. Maklum, pagi di pengujung musim panas itu adalah hari pertama...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...