HomeBeritaPenyintas Menyoal Visi Capres...

Penyintas Menyoal Visi Capres Tentang Terorisme

Aliansi Indonesia Damai– Debat perdana Pilpres 2019 usai digelar oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (17/1/2019). Tema debat pertama adalah hukum, hak asasi manusia, korupsi, dan terorisme.

Baik pasangan Jokowi-Ma’ruf maupun Prabowo-Sandi menegaskan komitmen untuk melawan dan menyelesaikan persoalan terorisme. Namun demikian, keduanya dinilai tidak menyentuh persoalan korban yang sampai saat ini masih banyak yang belum mendapat perhatian layak dari Negara.

Salah seorang korban Bom Kuningan 2004, Sucipto Hari Wibowo, berharap siapa pun presiden yang terpilih akan lebih memperhatikan nasib para penyintas terorisme. Sebab, penanganan terorisme di Indonesia yang selama ini dilakukan dinilai belum optimal melindungi korban. Menurutnya, sejak terjadi peristiwa teror bom terbesar di Bali pada tahun 2002, masih banyak korban yang belum menerima hak-haknya.

“Siapa pun presidennya, mohon perhatian, khususnya untuk hadir kepada korban. Karena sejak terjadi Bom Bali tahun 2002, JW. Marriott 2003, Kuningan 2004 dan peristiwa bom lainnya sampai saat ini, negara belum hadir kepada korban bom lama. Dalam hal ini negara harus memberikan perhatian, suatu pengakuan, atau suatu pengayoman kepada penyintas,” ujar Sucipto saat diwawancara jurnalis Metro TV, Kamis (17/1/2019).

Ia menambahkan, pada bulan Juni 2018 pemerintah telah mengesahkan undang-undang (UU) Nomor 5 Tahun 2018 yang mengatur pemenuhan hak korban terorisme. Meskipun demikian, menurutnya, UU itu masih membutuhkan aturan turunan berupa Peraturan Pemerintah (PP) untuk mengatur mekanisme pengajuan dan pemberian bantuan, termasuk kompensasi, bagi korban lama sebelum UU itu disahkan. Ia berharap PP itu segera dibuat sebagai wujud kehadiran Negara kepada para penyintas.

“Memang di tahun 2016 Negara sudah hadir dan merealisasikan bantuan kepada sebagian korban melalui UU LPSK. Di sana ada bantuan medis, psikologis dan psikososial. Namun, untuk kompensasi kita masih menunggu Peraturan Pemerintah yang mengatur kompensasi korban. Kami terus mendorong penerbitan PP itu,” katanya.

Sucipto juga mengingatkan bahwa terorisme adalah musuh bersama bangsa Indonesia. Ia menilai terorisme bukan dari ajaran agama karena tidak ada satu pun agama yang menganjurkan umatnya untuk melakukan tindakan teror. “Kita harus kasih aspek pemahaman kepada seluruh lapisan masyarakat bahwa terorisme adalah musuh bersama. Tidak ada agama apa pun yang memerintahkan untuk melakukan tindakan-tindakan kekerasan atau pun tindakan radikal seperti terorisme,” tegas Ketua Yayasan Penyintas Indonesia itu.

Sucipto Hari Wibowo (ketiga dari kanan)
Dari Kiri Ke Kanan – Agus Kurnia (Penyintas Bom Thamrin), Ni Luh Erniati (Penyintas Bom Bali) Hasibullah Satrawi (Direktur AIDA),  Sucipto Hari Wibowo (Penyintas Bom Kuningan), Nanda Olivia Daniel (Penyintas Bom Kuningan), dan  Jihan Thalib (Penyintas Bom Kampung Melayu).

 

Secara terpisah Direktur Aliansi Indonesia Damai (AIDA), Hasibullah Satrawi, mengatakan bahwa persoalan terorisme di Indonesia yang paling dibutuhkan saat ini adalah penyelesaian, baik persoalan korban maupun persoalan mantan pelaku teroris. Negara diminta untuk menyelesaikan nasib para korban terorisme yang belum tersentuh bantuan dan juga nasib para mantan teroris agar bisa hidup normal di tengah kehidupan masyarakat.

Hasibullah juga mengingatkan bahwa terorisme nyata dan siapa pun bisa terpapar paham ekstrem. Ia mengajak masyarakat untuk menjaga diri, masyarakat, dan lingkungan dari paham-paham yang membahayakan itu. “Yang paling dibutuhkan saat ini adalah visi penyelesaian. Kita harus menyadari bersama bahwa terorisme itu adalah ril. Terorisme ada di antara kita. Oleh karena itu, kita harus bersama-sama menjaga agar tidak terpapar oleh paham-paham semacam ini,” pungkasnya. [AH]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag menyatakan negara telah hadir untuk mendukung pondok pesantren. “Kita melihat bukti-bukti negara telah hadir di pondok pesantren,” ujar Basnang saat berbincang dengan redaksi di kantornya Jakarta dua pekan lalu.Basnang menjelaskan bukti...

Orientasi Pesantren Terwujudnya Indonesia Harmoni

Aliansi Indonesia Damai- Ke depan setiap pesantren siapa pun pendirinya harus selalu berorientasi pada terwujudnya Indonesia yang harmoni, Indonesia yang damai, Indonesia yang toleran.Pernyataan tersebut ditegaskan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag saat berbincang dengan redaksi di kantornya...

Mungil-mungil Tangguh

Oleh Susi Afitriyani Mungil-mungil tangguh,Kau begitu kuat saat cobaan harus menghantam hidupmu,Kau yang masih begitu mungil, tapi kau mengajariku cara untuk tetap semangat dan tersenyum,Meski tubuhmu terlihat lemah akan tetapi jiwamu begitu tangguh,Haii,,, kau si mungil tangguh yang kelak akan menjadi penggantiku,Aku percaya jiwamu lebih kuat dari diriku,Dan...

Puasa dan Kedermawanan Otentik

Oleh Asyari, Guru Besar Ekonomi, Ketua Pusat Kajian Pengembangan Ekonomi Umat, FEBI UIN BukittinggiArtikel ini sudah terbit di Kompas.id, 17 Februari 2026Kasus bunuh diri YBS (10), siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pada 29 Januari 2026 dan sebelumnya, AA (44), seorang...

Arsitektur Pendidikan Tinggi Indonesia

Oleh Badri Munir Sukoco, Guru Besar Manajemen Strategi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis; Founder, Center for Dynamic Capabilities Universitas AirlanggaArtikel ini terbit di Kompas.id, 13 Februari 2026Atensi Presiden Prabowo Subianto pada pembangunan sumber daya manusia Indonesia sangatlah besar, terutama pendidikan tinggi. Belum setahun, Presiden telah melakukan tiga kali...

Tetap Tangguh di Era Bencana

Dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia dilanda musibah. Banjir, cuaca ekstrem (hujan disertai badai), tanah longsor, kebakaran hutan, abrasi laut, gempa bumi dan pergeseran tanah menimpa masyarakat di sejumlah daerah.Bencana datang silih berganti menghantam beberapa wilayah, menelan korban jiwa, menghancurkan rumah dan infrastruktur yang menimbulkan kerugian materil yang...

Belajar Berkesadaran

Oleh Doni Koesoema A, Pemerhati Pendidikan, Mahasiswa Doktoral Universitas Negeri JakartaArtikel ini terbit di Kompas.id, 06 Februari 2026 Belajar berkesadaran adalah kunci keberhasilan pendidikan berkualitas. Bila belajar diibaratkan sebuah perjalanan, ini adalah langkah pertamanya. Sayangnya, langkah pertama ini sering kali terlewatkan.Transformasi belajar yang lebih fundamental inilah yang dilakukan...

Santri Diingatkan untuk Mempertahankan NKRI

Aliansi Indonesia Damai - Ketua Yayasan Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, Jawa Tengah KH Saefudin Zuhri mengingatkan santri-santriwatinya untuk tidak menjadi pemberontak maupun teroris. Menurut dia, akidah ahli sunnah wal jamaah melarang menjadi pemberontak dan teroris kepada pemerintah yang sah.“Haram ya jangankan menjadi teroris, memberontak kepada pemerintah yang sah...

Membangun Semangat Perdamaian di Kalangan Santri

Aliansi Indonesia Damai - Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan alumni Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama ustazah menyelenggarakan Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Pondok Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, Jawa Tengah pada Sabtu (31/01/2026). Sebanyak 60 santri...

Menebar Benih Perdamaian di Jepara

Aliansi Indonesia Damai- Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan alumni Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama ustaz Hery Huzaery menyelenggarakan Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Muhammadiyah Blimbingrejo Jepara, Jawa Tengah pada Sabtu (17/01/2026). Sebanyak 56 asatidz/asatidzah...