HomeSuara KorbanKiat Menjadi Generasi Tangguh...

Kiat Menjadi Generasi Tangguh ala Penyintas

ALIANSI INDONESIA DAMAI – Aliansi Indonesia Damai (AIDA) terus bergerak untuk mengajak masyarakat menjaga dan menumbuhkan perdamaian. Sejak didirikan pada 2013 hingga kini AIDA telah melakukan safari kampanye perdamaian ke berbagai wilayah di seluruh Tanah Air. Salah satu pihak yang terlibat dalam kampanye perdamaian AIDA adalah para penyintas aksi teror. Mereka tak kenal lelah berbagi pengalaman kepada masyarakat agar perdamaian di Indonesia terpelihara baik.

Salah satu di antara penyintas terorisme yang terlibat dalam kegiatan AIDA adalah Sudirman A. Talib. Mas Dirman, sapaan akrab dari orang-orang terdekatnya, ialah korban selamat dari ledakan bom di Kedutaan Besar Australia di Jl. HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan pada 9 September 2004 silam.

Pemuda asal Bima, Nusa Tenggara Barat, itu sedang bekerja sebagai petugas keamanan di kantor Kedutaan Besar Australia saat aksi bom terjadi. Kekuatan ledakan dari bom yang dibawa mobil boks saat itu amat besar. Akibat ledakan bom, Sudirman menderita luka di sekujur tubuh. Salah satu cedera serius yang dideritanya adalah di bagian matanya. Ia menjadi cacat seumur hidup, sebelah bola matanya tidak lagi berfungsi karena tertusuk serpihan bom. Selain itu, saraf tangan kirinya terganggu dan harus menjalani terapi serta mengonsumsi obat secara rutin hingga hari ini.

“Saya kehilangan mata kiri saya. Tangan saya juga mengalami gangguan syaraf, yang sampai hari ini pun masih harus meminum obat untuk pengobatan saraf,” kata Dirman dalam satu kegiatan AIDA.

Pengalaman pahit dalam hidup tak membuatnya patah arang. Secara berangsur ia mencoba untuk ikhlas dan tabah menerima kenyataan takdir. Kini ia aktif menyebarkan pesan-pesan damai kepada masyarakat. Meskipun prosesnya panjang, Sudirman berhasil melawan rasa sakit dan mengambil hikmah dari peristiwa yang ia alami. Bahkan ia mengaku tidak menyimpan dendam terhadap para pelaku teror.

“Saya tidak lagi menyimpan dendam di hati, karena kekerasan bukan untuk dilawan dengan kekerasan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa memendam rasa benci serta dendam di hati hanya akan menambah beban hidup. Dalam setiap kegiatan AIDA untuk mengampanyekan perdamaian, Sudirman memberikan kiat-kiat kepada masyarakat, khususnya pemuda, agar menjadi generasi tangguh.

Iwan Setiawan Dari Kiri: I Wayan Sudiana (Penyintas Bom Bali), Iswanto (Mantan Napiter), Sudirman A. Thalib (Penyintas Bom Kuningan), Iwan Setiawan (Penyintas Bom Kuningan), dan Ali Fauzi (Mantan Napiter). Dok. AIDA
Kebersamaan para penyintas terorisme dan mantan pelaku dalam kegiatan AIDA. Sudirman berada di tengah. Dok. AIDA

Kiat menjadi generasi tangguh menurut Dirman ada enam. Pertama, menempatkan diri sebagai pribadi yang selalu bersyukur dan berpikiran positif. Pikiran positif menurutnya adalah pembuka pintu-pintu kesulitan. Kedua, saling berbagi, menghargai, dan menghormati sesama. Saling menghormati sesama manusia menurutnya modal yang amat penting dimiliki setiap orang dalam hidup di masyarakat yang penuh akan keberagaman.

Resep agar menjadi pribadi tangguh yang ketiga, menurut Sudirman, adalah tidak takut bermimpi. Karena, kata dia, bermimpi itu gratis. Mimpi tentang kehidupan yang ideal sesuka hati atau cita-cita setinggi langit yang dimiliki generasi muda bisa dan sangat mungkin diwujudkan bila diiringi dengan keyakinan. Ia mendorong para pemuda Indonesia untuk berjuang sekuat tenaga agar bisa mewujudkan mimpi menjadi kenyataan.

Keempat, apabila terjatuh segera bangkit. Sudirman mengingatkan generasi muda agar tidak sekali-kali berputus asa saat ditimpa musibah. Dalam agama, kata dia, putus asa itu tidak dibenarkan. Ajaran agama menganjurkan setiap pemeluknya untuk mengupayakan perbaikan dari suatu keadaan yang buruk. Para nabi dan rasul dalam kitab-kitab suci juga dihadapkan pada banyak tantangan kehidupan namun berusaha untuk mengubahnya menjadi lebih baik.

Kelima, Dirman berpesan agar generasi muda bangsa tidak pernah menjadi pendendam. “Jadilah pemaaf,” tegasnya. Ia menekankan pentingnya sikap ini. Baginya rasa dendam tak hanya berdampak negatif untuk diri sendiri, namun juga bagi orang lain. Yang terakhir, kiat menjadi generasi tangguh menurut Sudirman adalah menjadi pegiat perdamaian. Dengan sibuk menyuarakan perdamaian ia meyakini bahwa tubuh dan jiwanya juga terilhami untuk selalu menjadi pribadi yang tenang, tidak mudah marah kepada orang lain, dan selalu menghindari penggunaan kekerasan dalam berbagai persoalan. “Jadilah duta perdamaian,” ujarnya memungkasi.

Oleh: Khayun Ahmad Noer

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 1)

Setiap orang butuh rumah. Baik dalam arti fisik, tempat di mana ia berasal dan menuju pulang, maupun secara substantif ruang di mana ia selalu diterima dan dicintai oleh keluarga. Choirul Ihwan, pria asal Madiun, Jawa Timur, ialah satu dari sekian orang yang merasa kehilangan rumah itu sejak...

Syariat Allah Memerintahkan Kebaikan

Aliansi Indonesia Damai- Syariat Allah Swt itu memerintahkan umat manusia untuk berbuat kebaikan bukan keburukan atau kejahatan. Siapa pun yang melakukan kejahatan atau keburukan maka telah melanggar syariat Allah Swt. Demikian pernyataan mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery...

Tangguh Menghadapi Ujian

Oleh Nur Aliyah, pengasuh Ponpes Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten* Dalam kehidupan ini, ujian dan cobaan adalah keniscayaan. Ia datang silih berganti, tanpa pernah memandang waktu, usia, atau status sosial. Sebagai muslim, kita diajarkan untuk tidak sekadar pasrah, melainkan tangguh. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: ketangguhan macam apa yang seharusnya...

Tidak Larut dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Agus Kurnia, penyintas bom Thamrin 14 Januari 2016, mengaku sejak menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta, dirinya memutuskan untuk tidak larut dalam kesedihan dan kemarahan. Menurutnya, apa yang sudah terjadi tidak mungkin kembali seperti semula. Pada 14 Januari 2016, Agus...

Santri Belajar Perdamaian dari Penyintas dan Mantan Pelaku

Aliansi Indonesia Damai- “Perasaan saya setelah mengikuti kegiatan ini bangga. Bangga kenapa? Bangga karena tidak ikut-ikutan jadi teroris.” Seorang santri Pondok Pesantren Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten menyampaikan kesan tersebut saat mengikuti Pengajian & Diskusi dengan tema ‘Menyerap Ibroh dari Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme’ beberapa waktu lalu. Dalam...

Pentingnya Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Berdamai dengan diri sendiri merupakan hal yang sangat penting karena apabila tidak bisa berdamai dengan diri sendiri maka tidak akan bisa berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan. Pernyataan tersebut disampaikan penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama...

Substansiasi Hijrah

Abd Rohim Ghazali, Senior Fellow Maarif Institute Artikel ini berasal dari mediaindonesia.com yang terbit pada 19 Juni 2026 MUHARAM kembali hadir. Seperti biasa, media sosial pun dipenuhi narasi tentang meninggalkan kebiasaan buruk menuju kehidupan yang lebih baik. Komunitas-komunitas keagamaan mengajak masyarakat memperbarui komitmen spiritual mereka. Fenomena itu tentu menggembirakan. Itu...

Membalas Kekerasan dengan Kasih

Aliansi Indonesia Damai- Meski kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga, namun Ni Luh Erniati, penyintas bom Bali 2002, tidak ingin membalas dendam kepada pelaku/mantan pelaku terorisme. Ia pun tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam...