HomeInspirasiAspirasi DamaiIbu, Inspirasi Damai Penyintas...

Ibu, Inspirasi Damai Penyintas Terorisme

ALIANSI INDONESIA DAMAI – Ibu adalah pahlawan bagi anak-anaknya. Ia rela berkorban demi kebahagiaan buah hati tanpa mengharap balasan. Ibu merupakan sosok yang penuh kasih tanpa batas. Ada kalanya anak berbuat salah, namun hati jauh lebih luas sehingga mampu meleburkan kesilapan itu. Ia adalah pendidik pertama dan utama bagi anak. Melalui kasih sayangnya, anak dapat merasakan nikmatnya kedamaian. Tak berlebihan bila penulis beranggapan bahwa ibu sumber perdamaian.

Sangat disayangkan, ibu atau kaum perempuan secara umum tak jarang menjadi korban kekerasan. Berbagai kasus seperti pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, konflik komunal, atau terorisme sangat potensial mengancam keselamatan ibu dan kaum perempuan.

Dalam tulisan ini penulis akan mengulas semangat perdamaian yang ditunjukkan dua orang ibu yang merupakan penyintas dari aksi terorisme. Mereka adalah Nanda Olivia Daniel, korban langsung serangan teror bom di Jl. HR Rasuna Said kawasan Kuningan, Jakarta Selatan pada 9 September 2004, dan Ni Luh Erniati, janda korban bom di Legian, Bali pada 12 Oktober 2002.

Dok. AIDA - Nanda Olivia Daniel
Dok. AIDA – Nanda Olivia Daniel

Nanda terkena dampak ledakan Bom Kuningan 2004 di bagian tangan. Gendang telinganya mengalami kerusakan dan jari-jari tangan kanannya tidak bisa difungsikan normal akibat peristiwa itu. Fakta bahwa tangannya menjadi cacat membekaskan trauma berat pada kondisi psikisnya.

Saat kejadian, ia adalah seorang ibu satu anak. Ia tinggalkan buah hati di rumah untuk pergi ke kampusnya, STIE Perbanas, yang berlokasi di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, karena ada keperluan bimbingan skripsi. Seperti biasa ia naik bus kota untuk pergi ke kampus. Saat hampir sampai di tujuan, ia pun berdiri untuk bersiap turun. Di luar dugaan ledakan amat keras mengguncang. Ia merasakan bus kota yang ditumpanginya terangkat ke atas kemudian jatuh dengan keras membentur aspal. Ia dan beberapa orang jatuh tersungkur keluar kendaraan.

Nanda merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya. Kepanikannya semakin menjadi saat mengetahui jari tangannya mengeluarkan banyak darah dengan luka yang cukup lebar. Pengobatan dan pemulihan luka harus ia jalani di dalam dan luar negeri. Meskipun segala upaya pengobatan medis telah dilakukan, kondisi jari-jari tangannya tidak bisa dikembalikan seperti sedia kala.

Ia mengaku hampir berputus asa menerima kenyataan itu. Rasa malu dan kekhawatiran bila harus bersalaman dengan orang lain dengan kondisi tangannya yang tak sempurna selalu menggelayuti pikiran. Di tengah segala beban pikiran itu dukungan semangat dari ibundanya terus mengalir. Ia mengatakan bahwa bila saat itu sang ibu tidak selalu ada untuk mendampingi dan menyemangati, mungkin dirinya telah benar-benar akan berputus asa.

Perempuan berkaca mata ini pun merenung, mencoba untuk mengikhlaskan kejadian yang menimpa. Ia teringat akan nasihat ibunya bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan hamba-Nya. Ibunya terus menyemangati bahwa ia adalah pribadi yang kuat.

Seiring waktu Nanda juga memahami bahwa dirinya juga seorang ibu. Buah hatinya masih membutuhkan kasih sayang yang lebih. Bila ia berputus asa tentu akan berdampak tidak baik bagi tumbuh kembang si anak. Secara perlahan akhirnya Nanda mampu ikhlas, melampaui kesedihan dan kepedihan akibat aksi teror.

Dok AIDA - Ni Luh Erniati membacakan puisi karyanya saat peringatan 13 tahun Bom Bali.
Dok AIDA – Ni Luh Erniati membacakan puisi karyanya saat peringatan 13 tahun Bom Bali.

Inspirasi yang kurang lebih sama ditunjukkan oleh Ni Luh Erniati. Erni, sapaan akrabnya, kehilangan suami tercinta, alm. Gede Badrawan, akibat ledakan bom di kawasan Legian, Bali pada 12 Oktober 2002. Kepergian suami memaksa Erni menghadapi berbagai tantangan hidup seorang diri dengan dua anak yang masih sangat belia.

Kesedihan yang ia rasakan tak berhenti di situ. Setelah kehilangan suami, Erni juga terancam akan dipisahkan dari anak-anaknya. Tradisi yang diyakini orang-orang di Bali cenderung bersifat patrilineal yang memungkinkan seorang ibu kehilangan hak perwalian anak bila bapak dari sang anak telah meninggal dunia. Pada saat yang sama, ia harus bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhannya dan anak-anak. Ia bersyukur bisa melalui berbagai tantangan hidup dalam membesarkan anak-anaknya dengan baik.

Terluka, sakit, trauma, dan berbagai penderitaan yang diakibatkan dari aksi teror tidak lantas membuat Nanda dan Erni ingin membalas dendam. Dalam kegiatan Aliansi Indonesia Damai (AIDA), mereka dipertemukan dengan mantan pelaku terorisme, orang-orang yang dahulu pernah terlibat dengan jaringan teroris sebelum akhirnya meninggalkan dunia kekerasan. Dua ibu itu mengakui memang tidak mudah melupakan kesedihan yang muncul akibat aksi-aksi yang dilancarkan para teroris. Namun, mereka memilih untuk memaafkan ketimbang membenci mantan pelaku.

Erni mengatakan bahwa menyimpan kebencian dan dendam di hati hanya akan menambah beban hidup. Senada dengan itu, Nanda menegaskan bahwa tidak ada manfaatnya bila kekerasan dibalas dengan kekerasan. Andai pun ia menimpakan kekerasan serupa seperti yang telah dialaminya kepada mantan pelaku, hal itu tidak akan bisa mengembalikan tangannya menjadi normal.

Semangat perdamaian semacam itu juga mereka tanamkan kepada anak-anak mereka untuk tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Mereka meyakini bahwa balas dendam hanya akan menimbulkan kekerasan-kekerasan berikutnya, sedangkan dengan memaafkan, mereka berharap bisa tercipta kedamaian untuk masa depan.

Oleh: Septika Wahyu D

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...