HomeBeritaMenyemai Damai di Kalangan...

Menyemai Damai di Kalangan Pelajar di Serang

ALIANSI INDONESIA DAMAI – “Saya bangkit karena anak-anak kami, yang waktu itu masih kecil-kecil. Saya tidak mau pupuskan masa depan anak-anak saya,” ujar I Wayan Sudiana. Istrinya, alm. Widawati, meninggal dunia menjadi korban ledakan Bom Bali I pada tahun 2002 silam.

Meskipun peristiwa itu telah berlalu lama, sesungguhnya tidak mudah bagi Wayan untuk menceritakan ulang kisahnya di hadapan siswa-siswi SMKN 5 Kota Serang, Jumat (25/1/2019). Dalam kegiatan Dialog Interaktif bertema “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) itu, Wayan menceritakan semangatnya menjalani hidup demi membesarkan anak-anaknya.

Tidak kurang dari 50 pelajar SMKN 5 Serang mengikuti kegiatan pagi itu. Beberapa siswa tampak terharu dan menitikkan air mata saat menyimak kisah Wayan dengan khidmat. Meskipun tidak mengalami langsung ledakan bom, namun kehilangan orang tersayang dengan cara yang tidak wajar menimbulkan kesedihan yang hebat dalam diri Wayan. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai pemandu wisata itu mengaku sempat hampir berputus asa. Ia menjadi pemurung dan enggan beraktivitas seperti biasa, seperti mendampingi wisatawan yang hendak menggunakan jasanya berwisata di Pulau Dewata.

Wayan Sudiana, Penyintas Bom Bali 2002, Berbagi Semangat Ketangguhan Bersama Siswa SMKN 5 Kota Serang, Banten
Wayan Sudiana, Penyintas Bom Bali 2002, Berbagi Semangat Ketangguhan Bersama Siswa SMKN 5 Kota Serang, Banten

 

“Saya mengalami dampak dari ledakan bom itu, hampir 6 bulan lamanya saya tidak berani keluar rumah. Setelah penguburan atau ngaben (jenazah istri) saya tidak berani bertemu banyak orang. Saya mudah lari kalau bertemu orang,” ujar Wayan.

Seiring waktu Wayan mampu mengalahkan kepedihan masa lalu. Ia mengaku bisa bangkit dari keterpurukan karena salah satu penyemangatnya adalah anak-anaknya yang masih kecil. Ia menyadari bila tak segera bangkit dari musibah maka akan berdampak negatif bagi tumbuh kembang anak.

Setelah berdamai dengan masa lalu, Wayan dipertemukan oleh AIDA dengan mantan pelaku terorisme. Dalam pertemuan itu mantan pelaku menyampaikan permohonan maaf kepada Wayan. Meskipun tak mudah, Wayan mampu memaafkan. Sejak momen maaf memaafkan itu Wayan dan mantan pelaku terbentuk menjadi Tim Perdamaian AIDA.

Bersama-sama mantan pelaku dalam Tim Perdamaian AIDA, Wayan aktif melakukan kampanye perdamaian di berbagai sekolah di Indonesia. Salah satunya adalah kegiatan Dialog Interaktif di SMKN 5 Serang pada akhir Januari lalu.

“Generasi muda adalah generasi penerus bangsa, mari kita saling menghormati antarsesama dan mencegah kekerasan. Mari saling memaafkan, termasuk kepada yang menyakiti kita,” pesannya kepada para siswa peserta Dialog Interaktif.

Selain Wayan, Dialog Interaktif di SMKN 5 Serang juga menghadirkan Kurnia Widodo, seorang mantan pelaku terorisme. Ketika bergabung dengan kelompok teroris, ia mengaku tak pernah terpikir bahwa aksi teror akan menimbulkan penderitaan panjang bagi orang-orang yang menjadi korban. Namun, setelah menjalani masa hukuman kemudian dipertemukan dengan korban, ia tersadar. Saat berinteraksi dengan para korban dan menyaksikan dampak nyata terorisme, ia merasakan begitu kejinya perbuatan kelompok teroris. Dari kisah para korban ia mengaku semakin yakin untuk meninggalkan jalan kekerasan.

Dalam kegiatan di SMKN 5 Serang Kurnia mengulang permintaan maafnya kepada Wayan sebagai perwakilan korban terorisme. “Korban bercerita tentang sakitnya luka bakar di tubuhnya, dari situ saya tahu dampak besar dari perlakuan ikhwan-ikhwan (teman-temannya di jaringan). Saya mewakili para ikhwan, meminta maaf setulus-tulusnya kepada para korban” ujarnya.

Seperti halnya Wayan, Kurnia  kini tergabung menjadi Tim Perdamaian AIDA untuk mengampanyekan perdamaian.

Wakil Kepala SMKN 5 Kota Serang mengapresiasi penyelenggaraan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”. Ia berharap agar siswa-siswi yang mengikuti kegiatan bisa mengambil pelajaran berharga dari pengalaman hidup Tim Perdamaian AIDA.

“Anak-anak, kami harap setelah pertemuan ini ada pelajaran yang membekas hingga bisa diamalkan. Kami berdoa mudah-mudahan anak-anak bisa mengaplikasikan ilmunya bagi bangsa, negara dan agamanya,” katanya.

Direktur Aliansi Indonesia Damai (AIDA), Hasibullah Satrawi, dalam kegiatan menyatakan bahwa aksi terorisme bagi korbannya adalah takdir kehidupan yang penuh dengan pembelajaran. “Pertama, keluasan hati korban untuk memaafkan mantan pelaku dengan tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Dari sisi mantan pelaku tidak membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan lainnya,“ pungkas Hasibullah. [MSH]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...

Menjaga Relevansi Program Studi lewat Transformasi

Oleh Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Mei 2026 Setiap tahun perguruan tinggi Indonesia meluluskan sekitar 1,9 juta sarjana. Namun, banyak di antaranya kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai. Wacana penataan program studi yang dilontarkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek)...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah mengaku ia bersama rekan-rekannya di komunitas Yayasan Lingkar Perdamaian aktif merangkul dan mengajak mereka yang masih berpemikiran ekstrem untuk kembali ke jalan perdamaian. “Saya berusaha supaya mereka tidak melakukan aksi kekerasan lagi, bahkan yang masih...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menerima banyak tantangan saat hijrah dari pemikiran ekstrem ke pemikiran moderat (wasathiyah) dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu kami terjerumus ke pemikiran radikal, terus kembali atau berubah pemikirannya,...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...