HomeBeritaKelapangan Hati Penyintas Tragedi...

Kelapangan Hati Penyintas Tragedi Christchurch

Aliansi Indonesia Damai- “Hari yang kelam” bagi warga Selandia Baru. Pada Jumat  (15/3/2019) lalu terjadi penembakan brutal terhadap warga yang berada di kompleks Masjid Al Noor dan sebuah masjid di Linwood di kota Christchurch, sekitar 450 km arah barat daya dari ibu kota Selandia Baru, Wellington. Tercatat 50 orang meninggal dunia –salah satunya adalah Lilik Abdul Hamid, seorang warga negara Indonesia– dan puluhan lainnya terluka. Di tengah kepedihan luka dan kehilangan orang-orang terkasih, penyintas aksi teror di Christchurch menunjukkan kelapangan hati yang luar biasa, yang layak dijadikan inspirasi warga dunia.

Di antara yang selamat dari serangan penembakan di Masjid Al Noor ialah Fariduddin Ahmad (59). Ia menuturkan kisah kehilangannya atas pasangan hidupnya, Husna Ara Parvin (42). Husna adalah imigran asal Bangladesh. Ia ditembak ketika hendak menyelamatkan suaminya, Fariduddin yang lumpuh dan duduk di kursi roda. Pasangan suami istri ini sudah menetap di Selandia Baru sejak tahun 1990.

Pada saat penembakan berlangsung, secara heroik Husna berusaha menyelamatkan anak-anak dan perempuan ke tempat aman. Setelah berhasil mengeluarkan para perempuan dan anak-anak, ia memutuskan untuk kembali ke masjid guna menyelamatkan sang suami dari maut. Namun sayang seribu sayang, di pintu masjid Husna kepergok pelaku yang secara membabi buta menembaki orang-orang di luar masjid. Husna pun tertembak dan meninggal dunia karena terkena sejumlah peluru.

Fariduddin amat sedih atas kepergian Husna karena sebenarnya istri tercintanya itu hendak menyelamatkannya dari ancaman kematian. Ia menilai istrinya adalah pahlawan sejati. Sebab, ia telah menolong banyak orang dari aksi penembakan itu. “Dia kembali lagi ke masjid untuk mencari saya karena saya memakai kursi roda. Dia sibuk menyelamatkan nyawa orang lain, tetapi melupakan keselamatan dirinya,” kata Fariduddin seperti dilansir Republika, Senin (18/3/2019).

Meskipun musibah besar tengah menimpa, namun Fariduddin mengaku tidak menyimpan rasa dendam kepada pelaku. Ia ingin menyayangi pelaku penembakan karena sejatinya, menurutnya, si pelaku adalah seorang manusia biasa sebagaimana manusia lainnya. Fariduddin bahkan berdoa agar pelaku kelak menjadi orang yang lebih baik.

Menurut Fariduddin, dalam situasi seperti itu, memaafkan adalah cara terbaik untuk ditempuh, daripada menyimpan rasa dendam kepada pelaku. Ia berharap pelaku teror bisa merasakan apa yang dirasakannya, agar ia tahu betapa jalan kebaikan adalah jalan terbaik dalam hidup. “Memaafkan adalah jalan terbaik, sebenarnya saya tidak terima dengan apa yang telah dilakukan oleh pelaku penembakan kepada istri saya. Namun, yang terbaik adalah memaafkan dan bersikap positif,” ujarnya.

Setelah situasi di Christchurch berangsur aman, warga Selandia Baru berbondong-bondong menampakkan dukungan kepada para korban dan umat muslim di sana. Di media sosial, viral sebuah video yang menunjukkan ratusan mahasiswa Universitas Canterbury berkumpul di halaman Masjid Al Noor, dengan tenang dan penuh penghormatan, mendengarkan azan yang berkumandang. Aksi tersebut adalah dukungan warga nonmuslim di Selandia Baru, khususnya di kota Christchurch, terhadap warga minoritas muslim bahwa kebebasan beragama setiap entitas di kota itu terjamin. Video lain menampakkan sejumlah warga nonmuslim yang berjaga melindungi umat muslim yang sedang menjalankan ibadah salat.

Sebelumnya, sesaat setelah kejadian, juga viral sebuah video yang memberitakan seorang perempuan paruh baya yang menolong beberapa korban yang tertembak di Masjid Al Noor untuk dilarikan ke rumah sakit agar segera mendapatkan penanganan lebih lanjut dari tim medis.

Saat ini, pelaku penembakan di Masjid Al Noor serta empat orang terduga teroris penembakan di Christchurch lainnya, sudah dibekuk dan diamankan oleh pihak berwajib. Pelaku diduga merupakan anggota kelompok ekstrem-kanan anti-imigran, anti-Islam. Dilaporkan sejumlah media massa bahwa si pelaku pernah menulis semacam manifesto yang isinya menunjukkan kebenciannya terhadap para imigran, serta orang-orang muslim. [ANM]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso,...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah mengaku ia bersama rekan-rekannya di komunitas Yayasan Lingkar Perdamaian aktif merangkul dan mengajak mereka yang masih berpemikiran ekstrem untuk kembali ke jalan perdamaian. “Saya berusaha supaya mereka tidak melakukan aksi kekerasan lagi, bahkan yang masih...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menerima banyak tantangan saat hijrah dari pemikiran ekstrem ke pemikiran moderat (wasathiyah) dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu kami terjerumus ke pemikiran radikal, terus kembali atau berubah pemikirannya,...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...