HomeTajukPuasa dan Perdamaian

Puasa dan Perdamaian

Sejarah peradaban Islam mencatat, beberapa peristiwa penting terkait perdamaian terjadi pada bulan puasa. Di antaranya, pertama, ayat Alquran diwahyukan pertama kali kepada Nabi Muhammad Saw. -sebagai pedoman dan petunjuk menjalankan kehidupan bagi umat manusia- pada bulan ini (QS. 2: 185). Alquran itu sendiri kemudian menjadi rujukan utama umat Islam di seluruh dunia untuk mewujudkan kehidupan yang damai. Bahkan, kerasulan Muhammad Saw. pun bertujuan sebagai rahmat bagi sekalian alam (QS. 21: 107).

Kedua, Fathu Makkah (pembebasan Mekah) yang terjadi pada 630 M atau bertepatan pada tanggal 10 Ramadan tahun 8 H. Rasulullah Saw. bersama pasukan muslim bergerak dari Madinah menuju Mekah, dan membebaskannya dari penguasa Quraisy dengan damai, tanpa ada pertumpahan darah.

Dengan belas kasihnya yang luas, beliau memaafkan dan membebaskan orang-orang yang pernah memusuhi dakwah Islam. Nabi Saw. menjamin keamanan setiap orang di kota suci itu. “Siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan maka ia aman, siapa yang menyerahkan senjatanya, ia aman, dan siapa yang menutup pintu rumahnya, maka ia aman.” Demikian ucapan beliau yang populer ketika memasuki Mekah (lihat Sahih Muslim, hadis No. 1780). Padahal, dalam sejarahnya, Abu Sufyan merupakan seorang pembesar Quraisy yang sangat keras menampakkan permusuhan kepada Nabi dan umat Islam.

Ketiga, adalah hari kemerdekaan Republik Indonesia yang bertepatan pada bulan Ramadan 1364 H. Dalam bayang-bayang penjajahan Jepang serta ancaman kembalinya penjajah Belanda yang membonceng Sekutu, para pendiri bangsa kita memproklamirkan Indonesia sebagai negara yang merdeka. Sikap para pendiri bangsa terkait perdamaian sangat jelas tertuang dalam mukadimah konstitusi kita, Undang-Undang Dasar 1945. Di sana tertulis, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.” Di samping itu, disebutkan bahwa salah satu tujuan pendirian negara Indonesia adalah “ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.”

Peristiwa-peristiwa bersejarah tersebut menjadi bukti keistimewaan Ramadan. Disebut istimewa karena semangat puasa -yang diwajibkan kepada setiap orang beriman pada bulan tersebut- mendorong terwujudnya perdamaian di tengah kehidupan manusia. Terkhusus bagi umat muslim, semangat Ramadan sudah semestinya mewujud menjadi semangat untuk menyuburkan perdamaian. Agama Islam sendiri secara kebahasaan berasal dari kata salam yang berarti perdamaian.

Dalam sebuah riwayat hadis, Nabi Muhammad Saw. mengatakan, “Apabila satu di antaramu berpuasa, maka jangan berkata kotor lagi kasar. Bila ada yang mencela atau memusuhi, hendaknya berkata: saya sedang berpuasa.” Nasihat Rasulullah tersebut mengandung makna yang dalam, yang menganjurkan kepada setiap yang berpuasa agar menahan diri sekaligus menjaga kedamaian. Ramadan menjadi bulan yang penuh berkah, pengampunan, dan perdamaian di mana umat Islam di seluruh negara berlomba dalam amal kebaikan, dengan menjalankan puasa dan mengharap ampunan dari Allah Swt.

Dengan ibadah puasa, manusia diuji sejauh mana mampu mengambil hikmah dan hakikat dari kehidupan, tak terkecuali anjuran untuk melestarikan kedamaian. Oleh karena itu, membangun dan mengukuhkannya harus senantiasa diprioritaskan. Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadan 1440 H, dengan penuh kasih sayang dan kedamaian.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...

Menjaga Relevansi Program Studi lewat Transformasi

Oleh Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Mei 2026 Setiap tahun perguruan tinggi Indonesia meluluskan sekitar 1,9 juta sarjana. Namun, banyak di antaranya kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai. Wacana penataan program studi yang dilontarkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek)...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah mengaku ia bersama rekan-rekannya di komunitas Yayasan Lingkar Perdamaian aktif merangkul dan mengajak mereka yang masih berpemikiran ekstrem untuk kembali ke jalan perdamaian. “Saya berusaha supaya mereka tidak melakukan aksi kekerasan lagi, bahkan yang masih...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menerima banyak tantangan saat hijrah dari pemikiran ekstrem ke pemikiran moderat (wasathiyah) dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu kami terjerumus ke pemikiran radikal, terus kembali atau berubah pemikirannya,...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...