HomeBeritaSetahun Bom Surabaya, Duka...

Setahun Bom Surabaya, Duka Korban Masih Nyata

Aliansi Indonesia Damai- Hari ini, 13 Mei 2019, tepat setahun aksi teror bom di Surabaya terjadi. Duka para korban masih ada. Bagi Ari Setiawan (41), ingatan kolektif masa lalu itu masih sulit dilupakan. Ari saat itu bertugas sebagai petugas keamanan (satpam) untuk mengamankan kelancaran ibadah di gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela (SMTB), Ngagel, Surabaya. Pagi itu ia bersama anggota Polsek Gubeng, Iptu Ahmad Nurhadi (45) dan seorang relawan gereja Aloysius Bayu Rendra Wardhana (37) tengah menunaikan tugas pengamanan.

Ari yang berjaga di luar gerbang gereja sembari mengatur lalu lintas tak pernah menyangka peristiwa nahas akan terjadi di dalam hidupnya. Tidak ada yang aneh pagi itu. Lalu lintas terpantau berjalan lancar sebelum kedatangan sebuah motor dengan dua orang pengendara melintas di depan gereja itu. Ari mengaku tidak melihat wajah pelaku. “Keduanya memakai penutup kepala dan menggunakan pakaian hitam. Tidak terlihat wajahnya. Kalau dari posturnya, masih anak-anak,” kata Ari sebagaimana dilansir IDN Times, Senin (13/5/2019).

Dari jarak sekitar 3 meter, Ari yang saat itu tengah membantu seorang jemaat menyeberang jalan melihat terjadi percekcokan kecil antara rekannya dan para pelaku. Kedua pelaku kemudian tampak menarik sebuah pemicu di tubuh mereka. Tak disangka, ledakan dahsyat mengguncang tempat itu. Terhitung dua ledakan beruntun terjadi. Asap hitam membubung tinggi mencemari angkasa. Kaca-kaca di gereja pecah dan beberapa bangunan rusak. Sejumlah orang yang ada di kompleks gereja menjadi korban.

Tubuh Ari terpental dengan telinga berdenging kencang. Ari mengaku lupa bagaimana tubuhnya terpental karena ledakan itu amat keras. Sebagian besar anggota tubuhnya mengalami luka ringan hingga berat. Bahkan hingga saat ini Ari mengaku masih merasakan sisa sakit dari ledakan itu. “Punggung saya luka. Gigi saya rontok empat, mata sebelah kiri juga luka. Sampai sekarang rasanya masih sakit. Kelopak mata seperti kelilipan,” terangnya.

Bom setahun silam itu terjadi mulai sekitar pukul 07.30 WIB. Secara masif bom diledakkan di tiga gereja secara beruntun. Mulai dari Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela (SMTB) di Jalan Ngagel, Gereja Kristen Indonesia di Jalan Diponegoro, dan terakhir Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jalan Arjuna.

Teror bom di tiga gereja kemudian disusul peledakan bom di kompleks Rumah Susun Wonocolo di Taman, Sidoarjo sekitar pukul 20.00 WIB. Keesokan harinya, Senin 14 Mei 2018, teror bom kembali terjadi, menyasar markas Polrestabes Surabaya. Dua hari berturut-turut Surabaya dihujam teror.

Dari rangkaian peristiwa pengeboman itu, sedikitnya 18 warga sipil tewas menjadi korban. Di antara korban meninggal dunia adalah dua anak kakak beradik, Nathan dan Evan, putra pasangan Erry dan Wenny Hudojo. Sementara itu, korban luka mencapai puluhan orang.

Di GPPS, pelaku teridentifikasi bernama Dita Oepriyanto (48). Bom menempel di tubuhnya. Keterangan polisi menyebut, Dita yang tinggal di Kecamatan Rungkut merupakan bagian dari kelompok jaringan Jamaah Ansharud Daulah (JAD). Dia melibatkan istrinya, Puji Kuswati (43) dan keempat anaknya, yakni FR (9), FS (12), FH (16), dan YF (18). Semuanya terlibat bom bunuh diri di tiga gereja itu. Pelaku peledakan dan pemilik bom di Rusun Wonocolo Sidoarjo yang meledak pada malam hari setelah teror tiga gereja, adalah satu keluarga Anton Febriantono. Sementara itu, pelaku serangan di Mapolrestabes Surabaya pada Senin (14/5/2018) juga dilakukan oleh satu keluarga inti, yaitu Tri Murtiono beserta istri dan tiga anak mereka. Hasil investigasi polisi menyebut bahwa ketiga keluarga pelaku aksi teror di Surabaya adalah saling terhubung, diduga satu forum kajian keagamaan yang sama. [TH]

Most Popular

2 COMMENTS

  1. Aliansi Indonesia Damai- Hari ini, 13 Mei 2019, tepat setahun aksi teror bom di Surabaya terjadi. Duka para korban masih ada. Bagi Ari Setiawan (41), ingatan kolektif masa lalu itu masih sulit dilupakan. Ari saat itu bertugas sebagai petugas keamanan (satpam) untuk mengamankan kelancaran ibadah di gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela (SMTB), Ngagel, Surabaya. Pagi itu ia bersama dua rekan sesama satpam gereja ditemani dua anggota Polsek Gubeng, Iptu Ahmad Nurhadi (45) dan Aloysius Bayu Rendra Wardhana (37) tengah menunaikan tugas pengamanan.

    Kakak saya bukan anggota Polsek Gubeng atau satpam gereja. Aloysius Bayu Rendra Wardhana seorang Relawan Gereja.
    Tolong berita nya direvisi ya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman...

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016,...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...