HomeOpiniKeniscayaan Perdamaian

Keniscayaan Perdamaian

Oleh Muhammad Saiful Haqq
Alumni Madrasah Al-Qur’an Tebuireng Jombang

Sukron Makmun dalam bukunya, Moderatisme Islam dalam Konteks Indonesia Kekinian, menceritakan obrolannya dengan Fertiana Santy, mahasiswi program doktoral di Institut d’Études Politiques d’Aix-en-Provence, Perancis. Mahasiswi Indonesia tersebut mengisahkan pengalamannya melihat Perancis yang “kebanjiran” imigran asal negara-negara Timur Tengah, seperti Suriah, Irak, Yaman dan lainnya. Mayoritas mereka beretnis Arab dan beragama Islam.

Pertanyaan menggelitik kemudian timbul di benak penulis. Mengapa para imigran muslim tersebut mengungsi ke Perancis yang sebagian besar penduduknya beragama Nasrani dan Yahudi? Menjadi pertanyaan besar karena mereka meminta pelindungan negara lain dan meninggalkan tanah asal mereka.

Baca juga Arif Menyikapi Bencana

Tentu jika bisa memilih, para imigran tersebut akan tetap tinggal negara mereka. Karena di sana lah tanah air mereka. Namun konflik yang berkecamuk membuat mereka angkat kaki daripada hidup di tengah peperangan. Ketiadaan perdamaian membuat mereka harus menyandang gelar musafir tanpa rumah.

Peperangan dan kekerasan tidak pernah menghasilkan solusi, sekali pun dilakukan dengan tujuan yang mulia. Misalnya Suriah. Cita-cita ISIS menegakkan khilafah Islam yang memberlakukan syariat secara kafah memang tampak mulia. Namun karena diupayakan dengan cara-cara keji, penuh kekerasan, dan tidak berperikemanusiaan, membuat kelompok tersebut menjauhi nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin.

Baca juga Mendakwahkan Akhlak

Bagi penulis, apa yang dilakukan ISIS merupakan hal yang sia-sia, karena mengkhianati agama yang mereka perjuangkan. Wajah Islam adalah wajah yang teduh, damai, sehingga membuat orang yang memandangnya berbondong-bondong ingin bersahabat dengannya. Pemeluk agama lain hanya melihat perilaku kita sebagai muslim. Perilaku kita adalah wajah Islam.

Meneladani Rasul

Berkaca dari fakta tersebut, kita harus menjadikan perdamaian sebagai keniscayaan. Terlebih kita di Indonesia yang jumlah penduduk muslimnya terbesar di dunia, namun juga hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain. Walhasil menjadikan damai sebagai keniscayaan meneguhkan image building Islam sebagai agama damai (dinus salam). Contoh ideal tentu saja adalah Rasulullah Muhammad SAW.

Rasulullah dalam mendakwahkan Islam lebih menjadikan damai sebagai prioritas daripada kekerasan atau peperangan. Kita tentu sudah akrab mendengar kisah pilu Rasulullah di bukit Thaif. Penduduk Thaif memerlakukan beliau dengan perlakuan begitu kasar. Kata-kata kotor dan caci-maki diarahkan kepada beliau. Segerombolan orang bahkan melemparinya dengan batu dan tanah. Namun beliau tidak memohon kepada Allah agar membinasakan mereka. Justru malah mendoakan penduduk Thaif diberikan petunjuk.

Baca juga Berjihad Mesti dengan Ilmu

Bahkan dalam sebuah hadis disebutkan Allah telah mengutus malaikat untuk membalas penduduk Thaif dengan membalikkan gunung ke arah penduduk Thaif. Namun Rasulullah merespons, “Bahkan aku menginginkan semoga Allah berkenan mengeluarkan dari anak keturunan mereka generasi yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.“

Memang dalam sejarah, Rasulullah terlibat perang saat menyebarkan agama Islam. Namun perang tersebut adalah solusi akhir yang ditempuh umat Islam zaman itu. Surat Al-Baqarah ayat 190 jelas menerangkan bahwa perang adalah mekanisme defensif, bukan ofensif. Ketika berperang, Rasul tidak mengedepankan cara-cara yang keji, melainkan tetap berprinsip akhlak mulia.

Baca juga Kerendahan Hati Membangun Perdamaian

Dari kisah Rasulullah di atas kita bisa mengambil pelajaran bahwa menyebarkan syariat Islam memang keharusan, namun bila ditolak kita tidak perlu memaksa apalagi sampai menggunakan cara-cara kekerasan hingga menimbulkan konflik. Karena Islam tidak mengajarkan demikian. Terlebih bila konflik itu justru lahir di daerah berpenduduk muslim. 

Konflik tidak akan menghasilkan solusi, bahkan tidak jarang membuat masalah semakin besar. Konflik tidak hanya merugikan kita sendiri, namun khalayak luas. Mari kita bersama-sama menjadikan damai sebagai prioritas dalam hidup beragama dan berbangsa. Agar kita tidak perlu meninggalkan tanah air kita hanya untuk merasakan kehidupan aman dan damai.

Baca juga Keutamaan Bersikap Kaya

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Urgensi Pendidikan Perdamaian

Oleh: Muhammad Saiful HaqLulusan Fakultas Psikologi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Salah satu...

Menyemai Empati untuk Mengekalkan Perdamaian

Empati merupakan salah satu unsur penting dalam membangun perdamaian dan harmoni...

Trauma dan Potensi Kekerasan yang Meluas

Oleh: Muhammad Saiful Haq,Master Psikologi dari UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Salah satu...

Argumentasi Agama Perdamaian

Islam merupakan salah satu agama dengan jumlah pemeluk  terbesar di dunia....

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...