HomeBeritaKisah Korban dan Peran...

Kisah Korban dan Peran Pembimbing Kemasyarakatan untuk Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengalaman penyintas aksi terorisme serta bimbingan dari petugas Balai Pemasyarakatan (Bapas) dinilai memainkan peran penting dalam mendukung proses rehabilitasi dan reintegrasi sosial klien pemasyarakatan.

Pandangan tersebut diutarakan oleh Kepala Pokja dan Upaya Keadilan Restoratif Kemasyarakatan, Darma Lingganawati, dalam Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai Pemasyarakatan (PK Bapas) di Purwokerto akhir Maret 2024 lalu.

Kegiatan hasil kerja sama AIDA dan Ditjen Pas tersebut, kata Lingga, mengemas formula khusus yang dirancang untuk memberikan pemahaman mendalam tentang perspektif korban terorisme kepada para PK Bapas yang membina klien pemasyarakatan kasus terorisme.

Klien pemasyarakatan adalah istilah untuk mengidentifikasi, salah satunya, warga binaan pemasyarakatan (WBP) atau narapidana yang mendapatkan hak untuk keluar tahanan lebih cepat dari masa ekspirasi hukuman yang telah ditentukan, atau lazim disebut bebas bersyarat.

Menurut Lingga, peran korban dilibatkan dalam pembinaan klien pemasyarakatan dikenal sebagai metode victim-offender reconciliation. Model ini memungkinkan korban dan mantan pelaku terorisme mampu berdialog secara langsung, mengungkapkan perasaan, dan mencari solusi bersama.

Lingga pun menjelaskan lebih lanjut metode ini juga dapat membantu dalam mengurangi tingkat balas dendam, mempromosikan pemulihan yang berkelanjutan, serta mendorong tanggung jawab sosial yang lebih besar. Dari sisi mantan pelaku, model pembinaan ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih harmonis dan mendukung untuk proses rehabilitasi dan reintegrasi sosial.

Pelibatan korban dalam pembinaan klien pemasyarakatan demi tujuan melestarikan perdamaian, kata Lingga, sangatlah penting. Ia berharap ke depan para Pembimbing Kemasyarakatan bisa lebih proaktif menjaga silaturahmi dengan korban terorisme seusai kegiatan.

“Kami, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, menyambut baik kerja sama dengan AIDA dalam Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Kemasyarakatan, yang saat ini pelatihan-pelatihan kompetensi di seluruh petugas kemasyarakatan masih sangat jarang,” ujarnya.

Lingga pun berharap kerja sama setelah kegiatan bisa berlanjut sehingga terbentuk satu kurikulum panduan PK Bapas dalam membina klien pemasyarakatan kasus terorisme. Terkhusus bagi para peserta Pelatihan, ia mengingatkan untuk memetik wawasan baru guna meningkatkan kualitas pembinaan klien pemasyarakatan kasus terorisme.

“Kami juga mengharapkan agar para peserta yang sudah mengikuti pelatihan ini bisa saling berbagi kepada semua petugas pemasyarakatan di tempat tugasnya masing-masing untuk melakukan hal yang sama,” ujarnya memungkasi pidato. [MSH]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Previous article
Next article

More from Author

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...