HomeOpiniSekolah Bahagia

Sekolah Bahagia

Oleh: Y Priyono Pasti,
Guru di SMP/SMA St Fransiskus Asisi Pontianak, Kalimantan Barat

Upaya penghapusan tiga dosa besar pendidikan—yakni kekerasan seksual, perundungan, dan intoleransi—masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi jagat pendidikan di Indonesia. Perlu implementasi kebijakan yang konkret, penegakan aturan yang tegas, dan penciptaan kondisi pembelajaran yang membahagiakan agar kejadian negatif-destruktif tersebut tidak terus berulang.

Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat, sepanjang 2023 terjadi 30 kasus perundungan di satuan pendidikan. Jumlah ini meningkat sembilan kasus dari tahun sebelumnya, menandakan aturan yang dibuat belum terealisasi dengan optimal.

Baca juga Jalan Panjang Menuju Palestina Merdeka

Dari 30 kasus tersebut, setengahnya terjadi di jenjang SMP, 30 persen di jenjang SD, 10 persen di jenjang SMA, dan 10 persen di jenjang SMK. Di jenjang SMP paling banyak terjadi perundungan, baik yang dilakukan peserta didik kepada teman sebaya maupun yang dilakukan pendidik.

Faktor penting

Di tengah kondisi yang demikian, adakah para siswa kita merasa tenang, nyaman, senang, dan bahagia mengikuti proses pembelajaran di sekolah-sekolah kita? Kebahagiaan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting untuk mengatasi krisis pembelajaran.

Siswa yang senantiasa bahagia lebih termotivasi untuk belajar, berpartisipasi aktif dan berkontribusi positif dalam pembelajaran, dan mencapai hasil belajar yang lebih baik.

Baca juga Antara Rafah, Tel Aviv, dan Riyadh

Secara lebih spesifik, siswa yang senantiasa dilingkupi suasana bahagia ketika mengikuti proses pembelajaran akan memiliki motivasi belajar yang tinggi, mengalami peningkatan kesejahteraan mental, lebih aktif dan berpartisipasi positif dalam kegiatan sekolah, memiliki hubungan sosial yang kuat dengan komunitas sekolah, serta mampu meningkatkan hasil belajar yang semakin baik.

Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) dalam laporan terbarunya menempatkan kebahagiaan sebagai pusat kebijakan pendidikan. Kebahagiaan di sekolah menjadi faktor penting dalam mengatasi krisis pembelajaran.

Baca juga Paradoks Pendidikan dan Keterpinggiran

Dilansir dari Unesco.org, Minggu (14/4/2024), Stefania Giannini, Asisten Direktur Jenderal Pendidikan UNESCO, menegaskan bahwa ketika siswa dipupuk oleh pengalaman belajar yang membahagiakan di lingkungan sekolah, mereka akan menjadi orang dewasa yang berdaya dan mampu terlibat secara positif dengan diri mereka sendiri, orang lain, dan dunia di sekitar mereka.

Bagaimanapun, fondasi perdamaian terletak pada pikiran generasi mendatang.

Lingkungan sekolah yang membahagiakan dan menumbuhkan pedagogi menarik akan meningkatkan pengalaman belajar sehingga menghasilkan capaian yang baik. Oleh karena itu, kita perlu menghentikan keyakinan bahwa prestasi, keunggulan, dan ketelitian di sekolah tak bisa dibarengi dengan kegembiraan dan kebahagiaan.

Baca juga Tantangan Pendidikan Indonesia

Senada dengan Giannini, analis senior di Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), Mario Piacentini, mengatakan, berdasarkan temuan dari penilaian Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, rasa memiliki dan hubungan sosial jadi pendorong utama kepuasan hidup siswa.

Pendidikan bukan hanya tentang prestasi akademis, melainkan juga mengenai pengasuhan secara keseluruhan.

Baca juga Buku di Bayang-bayang Kecerdasan Buatan

Perhatian terhadap hubungan antara kebahagiaan dan pembelajaran perlu ditingkatkan. Siswa menjalin hubungan dengan teman-teman dan guru mereka disertai dengan rasa aman dan rasa percaya diri.

Pendekatan holistik

Publikasi UNESCO itu menganjurkan pendekatan holistik untuk meningkatkan kebahagiaan di sekolah dalam kebijakan dan praktik pendidikan.

Dalam konteks Indonesia (kita), konsep happy schools atau sekolah bahagia harus jadi gerakan nasional untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Bagaimana upaya kita mewujudkan sekolah bahagia itu?

Baca juga Tidak Semua Orang Bisa Menjadi Pendidik

Untuk mewujudkan sekolah yang membahagiakan siswa, proses pendidikan dan pembelajaran harus berlangsung memikat dan menyenangkan.

Dalam mendidik dan mengajar, guru hendaknya tidak mengasingkan anak dari kebahagiaan ”kekinian” anak yang penuh dengan dinamika dan spontanitas. Guru hendaknya tidak mencerabut kebahagiaan ”masa kini” anak hanya karena alasan demi ”masa depan” anak yang belum tentu pasti.

Jika guru (sekolah) terlalu berambisi memaksakan kehendak, tidak mustahil hal itu justru akan berakibat fatal bagi si anak. Saat ini mungkin mereka akan menjadi anak-anak manis yang penurut, tetapi jangan heran jika suatu saat nanti mereka akan menjadi pemberontak-pemberontak yang tak terkendali.

Baca juga Berlarilah Menuju Allah

Guru harus mendidik dan mengajar siswanya dengan cinta. Guru harus menciptakan suasana yang menyenangkan, kondusif; situasi pembelajaran yang bebas dari rasa takut, mengayomi, penuh kasih sayang, tulus, penuh empati, bersahabat, terbuka, menyemangati, mengampuni, partisipatif dalam proses pendidikan dan pembelajaran.

Anak dipandang dengan kekhasannya dan bukan dilihat sebagai orang dewasa yang harus dipaksa menjalankan peran dan mempelajari nilai-nilai yang hanya berlaku bagi orang dewasa (Doni Koesuma, 2006).

Dengan proses pembelajaran yang membahagiakan (berbasis cinta) yang menghargai anak sebagai pribadi (unik) ini, anak merasa dicintai dan dihargai eksistensinya. Anak merasa ”dimanusiakan” dan ini sungguh menyenangkan dan membahagiakan anak.

Baca juga Efek Kobra Publikasi Ilmiah

Kebahagiaan yang dialami anak di masa kini akan memainkan peranan penting bagi kebahagiaannya di masa depan. Kesenangan dan kebahagiaan di masa kini akan menjadi landasan berpijak bagi anak untuk merenda masa depannya.

Anak-anak yang tidak mengalami kesenangan dan kebahagiaan di masa kini akan mengalami kesulitan untuk menemukan kesenangan dan kebahagiaan di masa yang akan datang.

Situasi perlakuan yang dialami anak di masa kini (termasuk dalam proses pembelajaran di sekolah) akan menjadi cetak biru (blue print) bagi sikap dan perilaku anak di masa depannya. Jika kesenangan dan kebahagiaan mereka alami dan rasakan saat ini, situasi yang sama pun akan mereka rasakan di masa depannya. Demikian pula sebaliknya.

Baca juga Islam dan Kerangka Etik Perubahan Sosial

Menyadari betapa pentingnya situasi yang membahagiakan (yang didasari oleh kekuatan cinta yang tulus) itu bagi perkembangan sikap dan perilaku anak di masa depan, Tsunesaburo Makiguchi dalam bukunya, Education for Creative Living, mengusulkan agar kebahagiaan menjadi tujuan utama pendidikan.

Pendidikan hendaknya membuat anak merasa senang, bahagia, dan damai, bukan hanya di masa depan, melainkan juga di masa kini.

Sekolah bahagia hendaknya selalu melingkupi keseharian anak-anak. Mereka sejak dini diajak untuk merasakan dan mengalami kebahagiaan.

Baca juga Mencegah Perundungan di Sekolah: dari Kebijakan ke Gerakan

Sejak dini mereka perlu diberi pengertian bahwa kebahagiaan bukan sekadar terpenuhi kebutuhan-kebutuhan yang materialistik-konsumtif, terpenuhi ambisi-ambisi pribadi, menang dalam setiap pertandingan dan perlombaan, mengabaikan sesama yang memerlukan bantuan.

Kebahagiaan tidak hanya didapat dengan to have more, tetapi juga to give more.

Dalam konteks inilah, pedagogi educatio cura personalis est jadi sangat penting untuk kita refleksikan dan laksanakan dalam setiap aksi pendidikan dan pembelajaran di sekolah-sekolah kita. Alasannya, pedagogi ini sangat menekankan perhatian pada martabat pribadi manusia. Dalam pedagogi ini, pribadi manusia menjadi inti pendidikan itu sendiri.

Baca juga Membendung Perundungan dengan Sinergitas Tripusat Pendidikan

Ada tiga pilar utama yang terkandung dalam pedagogi educatio cura personalis est ini, yaitu perhatian pada pribadi manusia, penghormatan pada keunikan setiap individu, dan man with and for others (lihat A Warsono, 2003).

Pendekatan hati

Educatio cura personalis est mengedepankan pendekatan hati. Dengan pendekatan ini, seorang pendidik (dan lembaga pendidikan) diharapkan mendidik siswanya pertama-tama bukan dengan fisik dan otaknya, melainkan dengan hatinya yang penuh cinta. Karena itu, perhatian pada setiap pribadi manusia menjadi penting.

Pedagogi ini juga menghormati keunikan setiap individu. Dasar dari penghormatan itu adalah bahwa setiap individu diciptakan Tuhan secara unik, khas dan tidak ada duanya.

Baca juga Merindukan Kebiasaan Membaca Buku di Mana Saja

Oleh karena itu, setiap individu dengan segala keunikannya harus dihormati untuk bertumbuh dan berkembang secara bertanggung jawab. Penyeragaman yang berlebihan akan menghambat kreativitas dan keunikan individu.

Pedagogi ini juga tidak hanya mendidik manusia bagi dirinya sendiri, tetapi lebih dari itu menjadi manusia bersama dan untuk orang lain, to be man/woman with and for others.

Ini berarti segala bentuk egosentrisme individualisme dikikis habis. Menjadi manusia bagi orang lain berarti mengembangkan toleransi, solidaritas, dialog, dan kerja sama dengan orang lain.

Baca juga Selepas Ramadhan Berlalu

Itulah sebabnya, Thomas Aquinas (1224-1274) (Doni Koesuma, 2006) menekankan, pendidikan terutama diarahkan pada penyempurnaan akal budi manusia melalui pengajaran (ratio perfectior ad instruendum) yang memuncak pada pendidikan bagi jiwa (instructione quantum ad animan).

Ini hanya mungkin terjadi kalau guru dalam proses pendidikan dan pembelajarannya senantiasa penuh sukacita, kebahagiaan, dan penuh cinta di hati. Ini hanya mungkin diwujudkan kalau sekolah-sekolah kita adalah sekolah yang membahagiakan.

*Artikel ini terbit di kompas.id, Rabu 8 Mei 2024

Baca juga Publikasi Ilmiah dan Pematangan Intelektual

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016,...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....