HomeOpiniMengabaikan Surga

Mengabaikan Surga

Oleh: Muhsin Al-jufri,
salah satu pendiri Fosmil Solo

Seorang sahabat penduduk Madinah, memiliki kebun kurma yang tumbuh subur di sekeliling rumahnya. Satu pohon yang berbuah sangat lebat, tangkainya menjulur hingga ke halaman tetangganya yang miskin. Sewaktu panen, ia mengambil semua buah yang ada tanpa memberi kepada tetangganya. Bahkan kurma yang jatuh, saat diambil oleh anak tetangganya pun direbut kembali.

Tetangga yang miskin mengadu kepada Rasulullah SAW tentang perlakuan buruk pemilik kebun kurma tersebut. Mendengar pengaduan ini, Beliau SAW mendatangi pemilik pohon kurma dan berkata, “Berikanlah kepadaku pohon kurma yang mayangnya menjulur ke rumah tetanggamu, dan sebagai gantinya kamu akan mendapatkan pohon kurma di surga.”

Baca juga Sekolah Bahagia

Tanpa disangka, ternyata pemilik pohon menolak dengan mengutarakan berbagai alasan yang dicari-cari. Penawaran yang disampaikan oleh Rasulullah SAW, kebetulan didengar oleh sahabat lain. Ia segera mendatangi Rasulullah dan bertanya, “Apakah penawaran Tuan tadi juga berlaku bagiku, jika pohon kurma tersebut kubeli?”

Setelah dibenarkan oleh Rasulullah, ia segera mendatangi pemilik kurma. Merasa dibutuhkan, pemilik kurma kembali menyampaikan berbagai alasan, hingga dipotong oleh sahabat tadi dengan bertanya, “Apakah kamu mau menjualnya?”

Ia kembali berdalih macam-macam, hingga akhirnya bersedia jika diganti dengan 40 pohon kurma.

Baca juga Jalan Panjang Menuju Palestina Merdeka

Harga yang sangat tidak masuk akal, namun karena sahabat tersebut mendambakan janji Rasulullah, maka ia pun bersedia membayarnya. Setelah menyelesaikan “transaksi”, ia mendatangi dan menyerahkan kepemilikan pohon kurma kepada Rasulullah. Dengan gembira Beliau SAW mendatangi rumah sahabat yang miskin, dan berkata, “Ambillah pohon kurma itu untukmu dan keluargamu.”

Karena peristiwa di atas, turun Surat Al-Lail (Q.S. 92: 5-11). Setelah diawali dengan sumpah, Allah berfirman, “Ada pun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Ada pun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.”

Baca juga Antara Rafah, Tel Aviv, dan Riyadh

Pemilik pohon kurma tidak tertarik dengan penawaran surga, padahal yang menjanjikan adalah Rasulullah SAW. Sementara sahabat lain yang mendengar penawaran tersebut, walau harus ditebus dengan harga yang sangat mahal, tetap bersedia membelinya. Tidak ada alasan lain, kecuali kembali kepada keimanan yang ada di dalam dada. Keyakinan akan apa yang dijanjikan Rasulullah kelak di akhirat.

Karena itu juga, dalam Surat Al-Baqarah (Q.S.2: 3) yang menjelaskan mengenai tanda mereka yang bertakwa, diawali dengan percaya kepada yang gaib. “(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”

Baca juga Paradoks Pendidikan dan Keterpinggiran

Mengapa penyebutan percaya kepada yang gaib mendahului salat, zakat? Sebagian ulama tafsir menjelaskan bahwa percaya kepada yang gaib, bagai kunci untuk masuk kepada keimanan yang lain. Dengan percaya kepada yang gaib; alam barzakh, surga, neraka, hari pembalasan, janji Allah dan Rasul-Nya, maka seseorang termotivasi untuk beramal. Di sisi lain, dengan percaya kepada yang gaib, membuat seseorang meninggalkan apa yang di larang Allah.

Percaya dengan adanya malaikat juga termasuk perkara gaib. Mereka para malaikat memiliki tugas masing-masing, seperti malaikat pengawas yang mencatat amal perbuatan seseorang. “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi, yang mulia dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. 82; 10 – 12 )

Baca juga Tantangan Pendidikan Indonesia

Sedang puncak dari percaya kepada yang gaib adalah keimanan tentang adanya pengawasan Allah kepada hamba-Nya, atau yang dikenal juga dengan ihsan. Yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan kita melihat-Nya, dan jika belum mampu melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat kita. Inilah tingkatan tertinggi dari keimanan dan ketakwaan seseorang.

Memang tidak mudah untuk mencapai tingkat tersebut, tetapi setidaknya kita terus berusaha mencapainya. Jika belum mampu, jangan sampai mengabaikan semua yang gaib, yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Karena bila demikian, sama saja dengan kisah di atas. Jangankan pahala biasa, janji surga saja diabaikan.

*Artikel ini terbit di solopos.com, Minggu 31 Maret 2024

Baca juga Buku di Bayang-bayang Kecerdasan Buatan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id...

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag menyatakan negara telah hadir untuk mendukung pondok pesantren. “Kita melihat bukti-bukti negara telah hadir di pondok pesantren,” ujar Basnang saat berbincang dengan redaksi di kantornya Jakarta dua pekan lalu.Basnang menjelaskan bukti...