HomeBeritaLiputan Terorisme Jangan Jadikan...

Liputan Terorisme Jangan Jadikan Korban Sebagai Komoditas

Aliansi Indonesia Damai- Dosen ilmu komunikasi Universitas Multimedia Nusantara, Hanif Suranto mengingatkan para jurnalis untuk tidak menjadikan korban sebagai komoditas saat meliput aksi terorisme yang menimbulkan korban jiwa maupun korban luka. Pasalnya, kata dia, belajar dari liputan kasus terorisme di masa lalu, media massa kurang berpihak pada korban.

“Pemberitaan tentang korban selama ini kebanyakan hanya berfokus pada tingkat emosional korban saat menjadi sasaran aksi terorisme. Media belum banyak meliput dampak lain yang dialami korban secara berkepanjangan, seperti dampak psikologis maupun sosial,” ujar Hanif saat menyampaikan materi Realitas Media dalam Peliputan Isu Terorisme dalam kegiatan Short Course Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme di Jakarta, awal September lalu.

Pelatihan selama dua hari tersebut diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) dalam rangka meningkatkan kesadaran perspektif korban terorisme dalam pemberitaan media kepada awak media massa. Pelatihan diikuti 26 jurnalis dari 22 media massa.

Hanif mengimbau agar dalam meliput korban terorisme awak media jangan sampai mengkomodifikasi penderitaan yang sudah dirasakan korban. Menurutnya, liputan isu terorisme beberapa tahun lalu banyak memberi porsi pada sudut pandang kengerian yang ditimbulkan oleh aksi teror, seperti menampilkan korban atau pelaku yang mengalami luka dan bersimbah darah, serta cenderung terburu-buru menginformasikan identitas pelaku teror.

“Namun belakangan ini, liputan isu terorisme sudah mulai memunculkan perspektif lain, misalnya mengangkat tema simpati kepada para korban yang menjadi suguhan utama di samping fakta terjadinya peristiwa teror itu sendiri,” tuturnya.

Hanif juga mengingatkan para jurnalis dan media massa dalam pemberitaan kasus terorisme agar jangan sampai ada simbiosis mutualisme antara pelaku terorisme dan media karena hal tersebut sangat membahayakan. Menurut dia, memang ada hubungan yang menarik antara media dengan terorisme. 

“Media butuh peristiwa terorisme untuk dijadikan berita, sementara kelompok teroris butuh media untuk menyampaikan pesan-pesannya. Ini justru menjadi simbiosis mutualisme yang berbahaya,” tandasnya.

Ia pun menegaskan pemberitaan kasus terorisme jangan hanya fokus kepada pelakunya karena tidak berimbang. Menurutnya, jurnalis juga harus memberitakan tentang korbannya sehingga pemberitaannya berimbang.

“Penting juga para jurnalis ikut memberitakan tentang kompensasi korban, solidaritas antara korban, hingga ikut mendorong korban dalam mengembangkan narasi kontra-terorisme,” ucapnya.[AS]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....