HomeBeritaMenakar Pembubaran JI

Menakar Pembubaran JI

Sepanjang tahun 2023-2024, Indonesia sukses mengalami nihil serangan teroris. Selain itu pada tahun 2024 jumlah penangkapan tersangka terorisme di Indonesia juga menurun drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, yakni 49 orang. Fakta lain yang menggembirakan dalam konteks penanggulangan ekstremisme kekerasan adalah pembubaran Jamaah Islamiyah (JI) pada akhir Juni 2024. Pembubaran tersebut bisa menjadi indikator hilangnya sebagian besar ancaman terorisme di Indonesia.

Baca juga: JI Kembali ke NKRI: Menyimak Penuturan Mantan Petingginya (Bag. 1)

Pernyataan optimistis tersebut diungkapkan oleh Solahudin, ahli jaringan terorisme, saat berbicara dalam forum Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan AIDA bekerja sama dengan Direktorat Jendral Pemasyarakatan Kementerian Imipas, beberapa waktu silam.

Solahudin menerangkan, mengacu teori deradikalisasi kolektifnya Omar Ashour, ada beberapa alat ukur untuk menguji sejauh mana keseriusan perubahan yang terjadi di tubuh JI.

Baca juga JI Kembali ke NKRI: Menyimak Penuturan Mantan Petingginya (Bag. 2)  

Pertama, perubahan ideologi. Menurut Solah, sapaan akrab Solahudin, JI telah mengalami evolusi perubahan ideologi secara bertahap. Awalnya mereka tidak mengkafirkan aparat pemerintah, namun masih mengkafirkan sistem pemerintahannya. Kemudian berubah dengan menyatakan bahwa NKRI bukan negara kafir tapi tidak juga Islam, merujuk pada fatwa Ibnu Taimiyah tentang “Ahlul Maridin”.

“Terakhir mereka berkesimpulan bahwa Indonesia adalah negara Islam dengan merujuk kepada kitab-kitab turats/klasik. Dalam kitab-kitab tersebut dijelaskan bahwa syarat minimal negara Islam adalah jika di dalamnya umat muslim diizinkan beribadah,” ucap Solahudin.

Baca juga JI Kembali ke NKRI: Menyimak Penuturan Mantan Petingginya (Bag. 3)

Kedua, perubahan perilaku. Sejak Para Wijayanto memimpin JI, ia membawa organisasi yang sebelumnya terlibat dalam serangkaian aksi pengeboman itu meninggalkan jalan kekerasan.

Ketiga, perubahan organisasi, yaitu demiliterisasi personil JI dengan menyerahkan seluruh senjata, amunisi, dan bom yang tersisa kepada pemerintah Indonesia. “Terakhir JI menyerahkan 2 bom yang disimpan di Lombok dan kesediaan para anggota JI di Suriah untuk pulang ke Indonesia dan menjalani proses hukum,” kata Solahudin.  

Baca juga JI Kembali ke NKRI: Menyimak Penuturan Mantan Petingginya (Bag. 4-terakhir)

Sebagai informasi, kegiatan ini dilaksanakan pada 27-28 Mei 2025 di Yogyakarta. Peserta yang berpartisipasi dalam kegiatan ini berjumlah 25 orang petugas pemasyarakatan perwakilan dari lapas-lapas yang membina narapidana teroris. (FKR)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan...

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...