HomeInspirasiAspirasi DamaiPengorbanan Tanpa Batas

Pengorbanan Tanpa Batas

Hari Ibu, yang diperingati setiap 22 Desember, adalah momen istimewa untuk mengapresiasi cinta, pengorbanan, dan ketangguhan para ibu. Di balik kehidupan kita, tersembunyi kisah-kisah luar biasa dari para ibu yang tidak hanya menjadi pilar keluarga, tetapi juga sumber inspirasi dan harapan.

Salah satu kiprah perjuangan kaum Hawa yang layak diteladani muncul dari sosok ibu bernama Nyoman Rencini. Perempuan yang kini berusia 50 tahun itu harus melanjutkan hidup sebagai single parent setelah kehilangan suaminya dalam tragedi bom Bali 2002.

Rencini dan suaminya, Ketut Sumerawat, menjalani kehidupan dengan bahagia bersama tiga buah hatinya sebelum serangan bom menerjang kawasan Kuta Bali pada Sabtu malam 12 Oktober 2002. Kala bom meledak di depan restoran tempatnya bekerja, Ketut sedang sibuk melayani para tamu yang kebanyakan wisatawan asing.

Baca juga 9 Tahun Bom Jakarta; Ikhtiar Penyintas Berdamai dengan Trauma (Bag. 1)

Saat mendengar kabar duka, Rencini merasa seperti kehilangan separuh jiwanya dan menghadapi ketidakpastian masa depan keluarganya.

Duka mendalam tidak menghalangi Rencini untuk bangkit. Ia sadar bahwa ketiga buah hatinya membutuhkan kekuatan dan cinta dari ibunya. Rencini berusaha dengan pelbagai cara untuk melanjutkan hidup dan menafkahi keluarganya. Dengan tekad yang kuat, ia mulai mengais rejeki.

Ia juga aktif bergabung dengan komunitas Yayasan Penyintas Indonesia (YPI) yang ada di Bali. Dari komunitas itu, Rencini tidak hanya mendapatkan kawan, tetapi juga dukungan moral yang membantunya melalui masa-masa sulitnya.

Baca juga Argumentasi Agama Perdamaian

Rencini memiliki satu tujuan utama yaitu memastikan anak-anaknya tetap bisa bersekolah. Ia percaya bahwa pendidikan adalah kunci untuk mengubah masa depan. Meski penghasilannya terbatas, Rencini selalu menyisihkan uang untuk kebutuhan sekolah ketiga anaknya. “Saya ingin mereka tumbuh menjadi orang yang kuat dan bisa menyelesaikan pendidikan mereka. Itulah yang membuat saya terus semangat,” ujarnya dalam suatu kegiatan AIDA beberapa waktu lalu.

Rencini juga berusaha untuk selalu hadir untuk anak-anaknya, mendampingi belajar, dan menjadi tempat curhat mereka. Ia ingin anak-anaknya tetap merasakan cinta dan perhatian meskipun ayahnya telah tiada.

Baca juga Pentingnya Membudayakan Perdamaian Sejak dalam Pikiran

Rencini salah satu gambaran nyata pengorbanan seorang ibu. Ia membuktikan bahwa cinta seorang ibu tidak mengenal batas, bahkan ketika menghadapi kehilangan yang sangat berat. Di Hari Ibu ini, mari kita hargai perjuangan para ibu kita. Mereka tidak hanya merawat dan membesarkan anak-anak, tetapi juga menjadi pelita harapan di saat gelap.

Hari Ibu adalah saat yang tepat untuk memberikan penghormatan kepada ibu-ibu luar biasa seperti Rencini. Mari tunjukkan rasa cinta dan terima kasih kita kepada mereka, karena ibu adalah sosok yang tak tergantikan dalam hidup kita.

Baca juga Memaafkan, Melampaui Derita

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menjaga Keharmonisan di Tengah Masyarakat

Islam mengajarkan pemeluknya untuk menjaga persaudaraan atau perdamaian antarsesama. Dalam kehidupan...

Menemukan Kedamaian di Tengah Kegelapan

Aliansi Indonesia Damai- Memaafkan mudah diucapkan, namun tidak semua orang mampu...

Hari Internasional bagi Korban Terorisme: Mengenang dan Menguatkan Semangat Kemanusiaan

Setiap 21 Agustus, dunia memperingati Hari Internasional Peringatan dan Penghormatan bagi...

Menerima untuk Mengikhlaskan

Dalam dunia konflik dan kekerasan, kita seringkali mendengar cerita tentang penderitaan...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Oleh Hasibullah Satrawi, Penulis adalah pecinta Timnas Indonesia. Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara,...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...