Aliansi Indonesia Damai- Tasdik Saputra, penyintas Bom Kampung Melayu 2017, mengaku dukungan dari sesama korban terorisme sangat besar pengaruhnya bagi proses kebangkitan dirinya. Menurut dia dukungan sesama korban telah menguatkan dirinya untuk tidak terus larut dalam trauma, mampu bangkit dari keterpurukan, bahkan bisa memaafkan mantan pelaku terorisme.
“Awalnya sebagai manusia biasa pasti ada perasaan marah dan benci kepada pelaku terorisme karena kita tidak tahu apa-apa tiba-tiba disakiti dengan ledakan bom terorisme,” ujar Tasdik dalam kegiatan Dialog Interaktif: Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh di MA Darul Abidin Lombok Timur, Oktober 2024 silam.
Namun, lanjut Tasdik, dengan saling berkumpul, saling mendukung dan saling menguatkan sesama korban, dirinya mampu memaafkan mantan pelaku terorisme setahun pascakejadian. Ia pun telah menerima takdirnya dengan ikhlas.
Baca juga: Penyintas Bom Kampung Melayu: Terkena Ledakan Kala Menolong Korban (Bag. 1)
“Saya menerimanya karena sudah takdir saya. Saya sudah ikhlas. Saya juga bisa berteman dengan mantan pelaku,” tutur dia.
Tasdik terkena ledakan bom terorisme saat dirinya hendak menolong korban. Saat itu, 24 Mei 2017 pukul 21.00 WIB, ledakan bom terorisme terjadi di kawasan Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur. Tasdik memutuskan berhenti dan turun dari sepeda motornya untuk menolong korban.
Ketika hendak menolong, terjadi ledakan bom kedua. Ledakan tersebut melukai Tasdik. Urat tendonnya putus, punggungnya pun terluka dan pendengarannya rusak. Hingga sekarang pendengarannya masih belum normal dan telinganya sering berdengung.[AS]
