Oleh Ridho Pratama Satria, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman
Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Juni 2026
Dalam perkembangan dunia pendidikan sekarang, pelajar yang berprestasi bukan hanya pelajar yang tinggi nilai akademiknya. Pelajar yang punya catatan juara juga layak disebut pelajar berprestasi. Catatan juara ini bisa mencakup juara di perlombaan olahraga, seni, hingga lomba yang bernuansa akademik seperti Olimpiade mata pelajaran tertentu.
Masalahnya, pihak institusi pendidikan seperti sekolah atau kampus lebih sering mengapresiasi para pelajar yang berhasil meraih juara. Adapun pelajar yang kalah dan tidak meraih juara jarang diberikan apresiasi. Padahal, pada kondisi inilah sekolah atau kampus harus hadir untuk mereka yang kalah supaya mereka tidak merasa usaha dan perjuangan yang telah mereka berikan sia-sia saja. Salah satu bentuk kehadiran institusi bisa diwujudkan dengan memberikan pendidikan kekalahan.
Apa itu pendidikan kegagalan
Pendidikan, dalam pengertian sederhana, bisa dipahami sebagai proses pembelajaran bagi peserta didik untuk dapat mengerti, paham serta lebih kritis dalam berpikir (Pay, 2023). Adapun kekalahan, yang memiliki kata dasar kalah, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bisa dipahami sebagai kondisi di mana seseorang diungguli lawan; tidak menang atau dalam keadaan tidak menang.
Jadi, pendidikan kekalahan bisa dipahami pendidikan yang bertujuan untuk menyiapkan seseorang berhadapan dengan kekalahan. Pendidikan kekalahan juga bisa diartikan sebagai proses pembelajaran bagi seseorang untuk memahami kondisi di mana mereka harus kalah.
Lewat pendidikan kekalahan, para pelajar yang kalah dalam berlomba bisa diberikan pengertian tentang esensi kekalahan yang mereka dapatkan supaya mereka tidak terpuruk dan bisa menerima kekalahannya dengan kondisi emosional yang stabil dan lapang dada.
Di saat yang bersamaan, pendidikan kekalahan bisa disertai dengan proses evaluasi kepada para pelajar yang kalah bertanding. Mereka bisa mengulas apa yang menyebabkan mereka kalah sehingga mereka bisa memperbaiki kekurangan tersebut untuk memenangkan perlombaan selanjutnya.
Pentingnya pendidikan kekalahan
Posisi pendidikan kekalahan sangat penting untuk kalangan para pelajar. Lewat pendidikan kekalahan, para pelajar akan mendapatkan beberapa poin penting sehingga mereka siap berhadapan dengan kekalahan. Poin yang paling krusial adalah menjaga kondisi mental pelajar untuk tetap terjaga sehingga mereka tidak terpuruk saat menghadapi kekalahan.
Mau diakui atau tidak, para pelajar tidak dipersiapkan untuk kalah. Semua pelajar pasti dipersiapkan untuk menang. Akibatnya, mental mereka rentan terpuruk saat mereka kalah. Mereka pasti terjebak dengan ekspektasi kemenangan yang tidak tercapai, serta memikirkan usaha mereka terbuang sia-sia.
Lewat pendidikan kekalahan, para pelajar bisa diajarkan pola pikir yang lebih luas mengenai kekalahan. Mereka harus diberikan pengertian jika kemenangan bukanlah hal yang bisa didapat dengan mudah dan instan. Kemenangan baru bisa didapatkan dengan perjuangan dan usaha yang panjang sehingga kekalahan akan dianggap sebagai proses yang harus mereka lalui sebelum mereka meraih kemenangan.
Ketika pola pikir ini terbentuk, maka para pelajar akan menjalani proses pendewasaan secara emosional. Jadi, mereka tidak larut dalam emosi-emosi negatif saat mereka kalah, bahkan mereka bisa mengutamakan emosi-emosi positif demi menjaga mental mereka tidak terpuruk.
Setelah proses pendewasaan emosional dicapai, para pelajar siap untuk menjalani proses evaluasi. Mereka akan mempelajari apa saja kesalahan dan kekurangan yang mereka lakukan saat berlomba kemarin. Hasil ulasan bisa dijadikan sebagai pedoman untuk perlombaan-perlombaan selanjutnya. Kesalahan yang telah dilakukan akan dihindari dan kekurangan yang masih ada akan ditingkatkan. Apabila hal ini benar-benar dikerjakan, peluang para pelajar untuk menang pada perlombaan selanjutnya pasti lebih besar.
Pendidikan kekalahan sangat diperlukan
Seperti yang disinggung di atas, para pelajar selalu disiapkan untuk menang. Karena itulah, pemberian pendidikan kekalahan sering terlupakan begitu saja. Di saat yang bersamaan, konstruksi sosial mendorong kita untuk lebih menghargai pihak yang menang. Contohnya bisa dilihat dari meriahnya seremoni pemberian piala untuk para juara.
Konstruksi sosial di atas menyebabkan masyarakat mudah melupakan pihak yang kalah karena masyarakat larut dengan arak-arakan yang disiapkan untuk sang pemenang. Bahkan, pihak yang kalah sering diberikan kritikan yang tajam. Kondisi semakin parah dengan kehadiran media sosial. Pihak yang kalah malah mendapatkan hujatan-hujatan yang menyakitkan atas kekalahannya.
Apalagi sekarang kita hidup di zaman yang penuh tipu daya. Persaingan bisa terjadi di mana-mana dan segala cara digunakan untuk meraih kemenangan. Dengan pendidikan kekalahan yang memadai, para pelajar tahu jika esensi bersaing dalam sebuah perlombaan dimaksudkan untuk tumbuh dan berkembang, bukan untuk saling sikut demi mengejar juara atau piala.
Oleh karena itu, pendidikan kekalahan sangat diperlukan sekarang, terutama untuk kalangan para pelajar. Jangan sampai, kita hanya menuntut embel-embel juara dari mereka. Namun, di saat mereka kalah dan butuh dukungan, kita malah meninggalkan mereka terpuruk sendirian dalam kekalahan itu.
