HomeOpiniDari Mashhad, Pesan tentang...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia

Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026

Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa sang ulama akan menjaga jarak karena ia memiliki keyakinan yang berbeda.

Sang ulama justru merawatnya. Dan, untuk meyakinkan bahwa perbedaan keyakinan tidak seharusnya memisahkan orang-orang, ia mengutip seorang Indonesia yang ia kagumi: Presiden Sukarno. Ia menceritakan pidato Presiden Sukarno yang berapi-api di Konferensi Bandung bahwa dasar persatuan negara-negara berkembang bukanlah kesamaan agama, sejarah, atau budaya, melainkan kesatuan kehendak.

Ulama muda itu bernama Ali Khamenei. Ia menuliskan kisah ini dalam memoarnya, puluhan tahun kemudian, setelah menjadi Pemimpin Tertinggi Iran.

Saya teringat kisah itu Jumat pekan lalu, ketika berdiri di Mashhad untuk menyampaikan penghormatan terakhir kepada Almarhum, atas undangan Pemerintah Iran. Kami berangkat pada saat yang tidak mudah. Langit kawasan belum tenang dan kabar tentang eskalasi masih datang silih berganti. Namun, justru karena itu kami merasa perlu datang.

Persahabatan yang hanya hadir pada masa aman bukanlah persahabatan. Saya datang bersama Ketua MPR Ahmad Muzani, didampingi Ketua Umum PBNU serta Ketua PP Muhammadiyah Bidang Hubungan dan Kerja Sama Internasional, membawa pesan sederhana dari Presiden Prabowo Subianto dan rakyat Indonesia: dalam duka, sahabat hadir.

Sebagai sahabat, Indonesia memastikan bahwa kehadirannya membawa pesan dari seluruh elemen. Negara hadir melalui pemerintah dan lembaga perwakilan rakyat. Umat hadir melalui dua organisasi Islam terbesar di Indonesia. Hubungan Indonesia dan Iran tidak pernah semata urusan antarpemerintah, tetapi juga hubungan antarmasyarakat. Hubungan yang telah mengakar jauh lebih tua dari kedua Republik inilah yang membentuk fondasi erat persahabatan kedua negara.

Para saudagar Persia sudah berlabuh di bandar-bandar Nusantara berabad-abad sebelum Jakarta dan Teheran saling mengirim duta besar. Bahkan, kata ”pasar” yang kita ucapkan setiap hari berakar pada kata Persia, bazar. Ketika kedua negara membuka hubungan diplomatik pada 1950 dan menandatangani perjanjian persahabatan pada 1958, keduanya sesungguhnya hanya meresmikan pertalian yang sudah lama ada.

Namun, kisah dari penjara itu mengingatkan saya pada pertalian yang lain: pertalian gagasan. Pada April 1955, Iran adalah satu dari 29 delegasi yang berkumpul di Gedung Merdeka di Bandung. Dari forum itu, Indonesia menawarkan kepada dunia sebuah cara pandang: bangsa-bangsa yang berbeda agama, sejarah, dan budaya dapat bersatu karena memiliki kehendak yang sama.

Tujuh dasawarsa kemudian, kehendak itu semakin nyata: perdamaian, jalan menuju kemakmuran dan tatanan internasional yang adil. Pembangunan mustahil dilakukan di tengah perang. Keadilan pun hanya menjadi impian jika hukum internasional hanya dihormati di saat menguntungkan dan dibutuhkan.

Kehendak negara-negara untuk memenuhi kesejahteraan rakyatnya juga merupakan kehendak Indonesia. Semua sangat paham ketika kawasan Timur Tengah bergolak dan Selat Hormuz menjadi berita utama dalam setengah tahun terakhir, semua negara memahami satu hal: prioritas utama adalah melindungi warga negara serta mengamankan pasokan energi dan pangan bagi rakyat. Bagi Indonesia, kepentingan itu terasa lebih dekat lagi. Jutaan warga kita bekerja, belajar, dan menunaikan ibadah di kawasan tersebut.

Itulah sebabnya, dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi di Mashhad, pesan Indonesia jelas untuk mendorong semua pihak menahan diri, kembali ke jalan dialog, dan menghormati hukum internasional serta tujuan dan prinsip Piagam PBB. Indonesia menghargai setiap upaya mediasi yang tengah berjalan dan siap mendukung proses menuju de-eskalasi dan penyelesaian damai yang berkelanjutan. Pesan yang sama kami sampaikan, baik kepada seluruh negara sahabat di kawasan maupun pada dunia Barat.

Presiden Prabowo kerap mengingatkan: seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak. Prinsip itu satu tarikan napas dengan politik luar negeri bebas aktif yang diwariskan para pendiri bangsa. Karena bersahabat dengan semua, Indonesia dapat berbicara dengan semua. Dan, karena itu dapat berbuat sesuatu untuk perdamaian, bukan sekadar mengomentarinya dari kejauhan.

Persahabatan itu pula yang kami rawat untuk masa depan. Di Mashhad, Indonesia dan Iran sepakat memperdalam kerja sama di berbagai bidang prioritas kedua negara. Dari perdagangan yang landasannya telah tersedia melalui perjanjian preferensial kedua negara yang ditandatangani pada 2023, hingga ketahanan pangan dan energi yang menjadi agenda besar Indonesia. Pertemuan Ketua MPR dengan Ketua Parlemen Iran memperkokoh pilar persahabatan di jalur antarparlemen dan antarmasyarakat. Persahabatan yang telah terjalin berabad-abad ini masih menyimpan banyak halaman yang belum ditulis.

Gagasan yang lahir di Bandung pernah berjalan jauh: menembus dinding penjara, mengilhami seorang tahanan muda, dan diingat seumur hidup oleh pemimpin sebuah bangsa besar.

Pekan lalu, giliran kami yang diingatkan oleh gagasan itu: bahwa yang mempersatukan bangsa-bangsa bukanlah kesamaan, melainkan kehendak yang satu. Dan, kehendak dunia yang paling mendesak hari ini adalah perdamaian.

Untuk itulah Indonesia hadir di Mashhad. Dan, Indonesia akan terus hadir, di mana pun perdamaian perlu diperjuangkan.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...