HomeOpiniBahaya Laten Bullying di...

Bahaya Laten Bullying di Sekolah

Oleh: Adhitya Yoga Pratama,
guru PPKn SMP IT Daarul Hidayah, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah

Bullying adalah bahaya laten. Sering terjadi di lingkungan sekolah. Salah satu jenis bullying yang paling umum adalah ejekan. Menurut laporan UNICEF, pada 2018 sekitar 41% pelajar Indonesia berusia 15 tahun pernah mengalami bullying, sebanyak 22% mengalami bullying berupa ejekan dari murid lain.

Ejekan sering kali meninggalkan trauma psikologis pada korban. Mereka mengalami ketidakpercayaan diri, kecemasan, depresi, dan kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat.

Bullying berupa ejekan dapat memengaruhi proses belajar pada diri korban. Rasa takut dan stress yang ditimbulkan ejekan dapat mengganggu konsentrasi dan motivasi belajar sehingga memengaruhi prestasi akademik mereka.

Baca juga Kebangkitan Digital Nasional

Bullying semacam ini dapat memicu siklus kekerasan. Korban yang terus-menerus diejek cenderung merasa terisolasi dan putus asa sehingga mendorong mereka melakukan tindakan agresif sebagai balasan atau pemenuhan kebutuhan akan kontrol.

Laporan UNICEF yang menunjukkan laki-laki lebih banyak mengalami bullying ketimbang perempuan. Ini sesungguhnya menandakan pola perilaku sosial murid di sekolah perlu dipahami  lebih dalam lagi.

Terutama faktor-faktor perubahan nilai dan norma sosial, proses sosialisasi yang tidak sempurna, differential association, dan budaya sekolah yang memengaruhi prevalensi bullying harus segera dimengerti.

Baca juga Kuliah Mahal di Kampus Negeri

Dalam konteks ejekan, menurut saya, faktor differential association berperan besar meningkatkan prevalensi bullying di lingkungan sekolah. Jika pengaruh lingkungan sosial tempat murid berinteraksi menganggap ejekan sebagai candaan atau lelucon, siap-siap saja bullying menimpa siapa pun korbannya, dimana pun tempatnya, dan kapan pun waktunya.

Faktor differential association menjelaskan individu belajar perilaku kriminal melalui interaksi dengan orang-orang di sekitarnya. Teman sebaya di sekolah dapat menjadi agen differential association yang kuat.

Jika seorang murid berada di lingkungan tempat bullying dianggap norma atau budaya yang diterima, kemungkinan besar dia akan terpengaruh untuk ikut serta dalam perilaku tersebut.

Baca juga Menjaga Api Harapan di Pesantren

Eksposur bullying melalui media sosial dan hiburan juga dapat memperkuat differential association. Ketika murid terpapar konten yang menampilkan bullying sebagai sesuatu yang lucu atau kuat, mereka mungkin mencoba meniru perilaku yang serupa.

Lingkungan keluarga juga memainkan peran penting dalam membentuk differential association terkait bullying. Jika seorang murid tinggal di lingkungan tempat perilaku agresif atau merendahkan orang lain dianggap sebagai cara yang sah untuk menyelesaikan konflik, dia mungkin lebih cenderung meniru perilaku tersebut di sekolah.

Faktor lain yang memengaruhi differential association adalah kekuatan dan frekuensi interaksi sosial. Semakin sering murid terpapar teman-teman yang terlibat bullying, semakin besar kemungkinan untuk mengadopsi perilaku tersebut.

Baca juga Mengabaikan Surga

Kurangnya pengawasan dan intervensi dari otoritas sekolah juga dapat memperkuat differential association tentang bullying. Jika murid merasa bahwa mereka bisa melakukan bullying tanpa konsekuensi yang nyata, mereka mungkin merasa lebih bebas untuk melanjutkan perilaku tersebut.

TPPK di Sekolah

Membentuk tim pencegahan dan penanganan kekerasan (TPPK) di sekolah merupakan langkah yang sangat konkret dalam memerangi dan mencegah bahaya laten bullying. TPPK bertugas memonitor, menangani, dan mencegah bullying serta menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan inklusif bagi semua murid.

Kebijakan sekolah yang berpotensi menimbulkan terjadinya bullying harus segera dihapuskan. Segala kebijakan tertulis maupun tidak tertulis yang mengakibatkan ejekan tidak boleh dianggap suatu hal wajar. TPPK berhak membatalkan kebijakan sekolah tersebut tanpa tedeng aling-aling.

Baca juga Sekolah Bahagia

Di sinilah, menurut saya, TPPK berfungsi melakukan pendekatan proaktif dalam membangun budaya sekolah yang tidak menoleransi bullying. Dengan mengadakan program-program pendidikan dan kesadaran yang terintegrasi ke dalam kurikulum, TPPK dapat membantu murid memahami dampak negatif bullying dan menginternalisasi nilai-nilai penghormatan, empati, dan toleransi.

Sedangkan tanggung jawab merancang dan mengimplementasikan kebijakan anti-bullying yang jelas dan tegas di sekolah bukan terletak pada guru bimbingan konseling (BK), melainkan TPPK yang melaksanakan program anti-bullying.

Hal ini termasuk pembuatan prosedur yang jelas untuk melaporkan kasus bullying serta sanksi yang sesuai bagi pelaku bullying. Memfasilitasi pelatihan dan pembinaan guru dan karyawan sekolah tentang cara mengidentifikasi, menangani, dan mencegah bullying juga merupakan tugas TPPK.

Baca juga Jalan Panjang Menuju Palestina Merdeka

Dengan meningkatkan pemahaman dan keterampilan mereka dalam mengelola kasus bullying, guru dan karyawan dapat lebih efektif memberikan dukungan kepada korban dan mengintervensi pelaku.

TPPK yang anggotanya terdiri atas orang tua dan masyarakat sangat mudah menggalang dukungan dan partisipasi dalam mencegah bullying. Melibatkan orang tua dalam pemahaman tentang peran mereka mendorong perilaku yang positif dan mendukung anak-anak mereka dalam mengatasi bullying berkemungkinan besar meminimalkan kasus bullying di sekolah.

Kerja sama TPPK dengan lembaga dan organisasi lain, seperti pusat kesehatan mental atau lembaga perlindungan anak, untuk menyediakan sumber daya dan dukungan tambahan bagi korban bullying sangat penting dilakukan.

Baca juga Antara Rafah, Tel Aviv, dan Riyadh

Hal ini untuk memastikan korban mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan untuk mengatasi dampak bullying secara fisik, emosional, dan psikologis. Dengan demikian bahaya laten bullying dapat diberantas ketika pemangku kepentingan mempunyai kemauan kuat membentuk dan mengoptimalkan TPPK di sekolah.

Dengan demikian, sekurang-kurangnya fungsi manifes sekolah menyelamatkan potensi, minat, bakat. dan keterampilan anak dengan sehormat-hormatnya bukan mimpi pada siang bolong. Mungkin begitu.

*Artikel ini terbit di solopos.com, Kamis 4 April 2024

Baca juga Paradoks Pendidikan dan Keterpinggiran

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....