HomeOpiniAntara Rafah, Tel Aviv,...

Antara Rafah, Tel Aviv, dan Riyadh

Oleh: Ibnu Burdah,
Guru Besar Kajian Dunia Arab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tekanan gencatan senjata dan perdamaian di Gaza makin kuat. Akankah Hamas dan Israel bersepakat?

Negosiasi gencatan senjata dan pertukaran tawanan antara Hamas dan Israel berjalan sangat alot. Masing-masing pihak berkukuh pada pendiriannya. Hamas yang sudah diserang habis-habisan secara militer berkeras menginginkan gencatan senjata permanen dan Israel segera keluar dari Jalur Gaza. Sementara itu, Israel yang merasa secara militer di atas angin hanya menginginkan kembalinya para tawanan dengan memberikan konsesi gencatan senjata sementara seminimal mungkin, bukan permanen.

Para pimpinan di Israel sangat yakin mereka akan mencapai tujuan perang yang sejak awal digembar-gemborkan, yaitu menghancurkan kekuatan Hamas, dengan menginvasi Rafah. Tarik-ulur dua hal itu, penghancuran Hamas atau pembebasan tawanan, hingga saat ini terjadi secara konstan dalam proses pengambilan kebijakan di Tel Aviv.

Baca juga Paradoks Pendidikan dan Keterpinggiran

Sudah ada semacam ijmak di Israel bahwa mereka bertekad menghancurkan Hamas dengan biaya sebesar apa pun. Namun kartu tawanan yang dimainkan Hamas sejak awal membuat Israel benar-benar kelabakan antara mementingkan penyelamatan sandera dan tujuan penghancuran Hamas.

Bola invasi ke Rafah sekarang ada di tangan Israel. Namun gelombang tekanan terhadap Israel terus bertambah, terutama dari universitas terkemuka di Amerika Serikat, Eropa, dan Australia. Universitas-universitas di Timur Tengah juga mulai bergerak. Di Indonesia, gerakan serupa sudah menjalar di berbagai universitas yang berpotensi menjadi gerakan masif.

Baca juga Tantangan Pendidikan Indonesia

Kuatnya tekanan grass root ini sepertinya cukup berpengaruh pada kebijakan AS terhadap Israel. Pemerintah AS memberikan tekanan yang lebih kuat lagi terhadap pemerintah Israel untuk menerima gencatan senjata yang dimediasi Mesir melalui diplomasi intens yang digencarkan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken. Seperti diketahui, beberapa hari ini, Blinken menggencarkan diplomasi ke Riyadh, Yordania, dan Israel.

AS juga memainkan “kartu” Arab Saudi yang sejak beberapa tahun ini gelagatnya akan menormalisasi hubungan dengan Israel. Israel mendapat iming-iming besar jika mengurungkan niatnya menginvasi Rafah dan mau menerima gencatan senjata. Iming-iming itu berupa normalisasi hubungan dengan negara sangat penting di Timur Tengah dan dunia Islam, yaitu Arab Saudi.

Baca juga Buku di Bayang-bayang Kecerdasan Buatan

Normalisasi hubungan ini merupakan “hadiah” yang tak main-main bagi Israel yang selama ini terisolasi di kawasan. Bahkan normalisasi hubungan dengan Arab Saudi merupakan salah satu cita-cita besar Israel yang terus mereka kejar. Namun Riyadh menyatakan bahwa tidak semudah itu Israel akan memperoleh hubungan normal dengan Arab Saudi. Pengakuan negara Palestina harus berdasarkan Inisiatif Damai Arab 2002 sebagai acuan. Tentu Arab Saudi berusaha menjaga muruahnya di publik dunia Islam.

Israel tentu dibuat pusing atas pilihan-pilihan itu. Sebab, batal menginvasi Rafah bisa dianggap kegagalan dari misi utama perang kali ini, yaitu menghancurkan Hamas. Jika memilih invasi ke Rafah, Israel akan kehilangan kesempatan penting membebaskan sejumlah sandera dan normalisasi dengan Arab. Israel juga makin terisolasi di dunia internasional.

Baca juga Tidak Semua Orang Bisa Menjadi Pendidik

Faktor baru lainnya juga sangat penting. Kekuatan-kekuatan sayap kanan Israel yang tergabung dalam koalisi pemerintahan Netanyahu kali ini juga mengancam akan membubarkan pemerintahan jika perjanjian gencatan senjata ditandatangani dan invasi ke Rafah tak jadi dilaksanakan. Kubu kanan Israel menganggap pembatalan invasi ke Rafah sama artinya dengan menyerah kepada Hamas.

Seperti diketahui, Israel menganut sistem parlementer yang mensyaratkan pemerintahan didukung minimal 60+1 anggota parlemen. Pemerintahan Netanyahu hanya didukung 64 kursi. Dari tujuh partai pendukung pemerintahan Netanyahu, ada beberapa partai kanan, yaitu Partai Shah, Mifdel, Otzma Yehudit, dan United Torah. Keempatnya memiliki suara lebih dari 20 kursi di Knesset sehingga ancaman penarikan satu atau dua partai itu saja bisa menjatuhkan pemerintahan Netahyahu sekarang ini.

Baca juga Berlarilah Menuju Allah

Kelompok-kelompok garis keras ini berpandangan bahwa pembatalan invasi ke Rafah tidak hanya kegagalan perang membalas aksi Thufan al-Aqsha pada 7 Oktober, tapi juga membahayakan keamanan Israel. Kelompok-kelompok ini sering dituduh “berkolaborasi” dengan Netanyahu yang memang secara pribadi cenderung pada opsi melanjutkan perang. Berhentinya perang bisa menjadi awal kehancuran karier politik Netanyahu, bahkan ia terancam diadili di dalam negeri dan berpotensi menjadi buron dari Mahkamah Kejahatan Internasional (ICC).

Pertimbangan-pertimbangan seperti inilah yang berseliweran dalam perdebatan para pengambil keputusan dan suara publik Israel. Dampak kemanusiaan yang sudah sedemikian mengerikan dan kehancuran masif di Gaza sedikit sekali muncul ke permukaan. Akibat-akibat perang yang sudah sedemikian menjijikkan yang terus disuarakan oleh media-media tak banyak menjadi pertimbangan. Suara-suara semacam gerakan Peace Now Movement dianggap pinggiran di publik Israel.

Harapan Gencatan Senjata

Invasi darat Israel secara besar-besaran ke Kota Rafah terancam pecah pada hari-hari ini jika negosiasi itu gagal mencapai kesepakatan. Namun muncul kabar yang membawa harapan. Bocoran dari para “akademikus” di Mesir mengenai adanya kemajuan dalam proses negosiasi sungguh menggembirakan. Namun berita mengenai detail kemajuan yang dimaksudkan masih simpang siur.

Baca juga Efek Kobra Publikasi Ilmiah

Salah satu kabar itu adalah kedua pihak bersedia menurunkan tuntutan masing-masing. Pembebasan sejumlah tawanan Israel oleh Hamas akan dibalas dengan gencatan senjata dalam waktu yang cukup panjang, kabarnya sekitar enam pekan. Namun, hingga saat ini, kabar ini juga belum dikonfirmasi secara resmi sehingga segala kemungkinan bisa terjadi.

Sementara itu, di lapangan, Israel sudah bergerak mengepung Kota Rafah dari berbagai penjuru. Hamas diperkirakan juga sudah mempersiapkan diri untuk pertempuran di kota itu. Banyaknya bantuan yang datang dan adanya vakum pertempuran beberapa waktu belakangan jelas memberikan kesempatan kepada Hamas untuk mengumpulkan dan mengkonsolidasikan kekuatan.

Baca juga Islam dan Kerangka Etik Perubahan Sosial

Pucuk pimpinan Israel, Benjamin Netanyahu, dan pucuk pimpinan lapangan Hamas, Yahya Sinwar, diperkirakan memilih opsi melanjutkan perang ketimbang perjanjian gencatan senjata. Bagaimanapun penentu utama dalam pengambilan keputusan ini adalah dua orang tersebut. Hal ini yang benar-benar dikhawatirkan. Rakyat Gaza yang sudah sedemikian menderita harus berhadapan dengan potensi pertempuran baru yang tak kalah mengerikan.

Menguatnya tekanan internasional melalui kampus-kampus terhadap pemerintah AS jadi harapan tersisa. Presiden Biden membutuhkan kesuksesan perdamaian ini untuk menjawab tekanan itu. Semoga Netanyahu dan Sinwar bisa dipaksa mengambil opsi gencatan senjata ini meski sementara sehingga tragedi kemanusiaan di depan mata bisa dihindari, setidaknya untuk sementara.

*Artikel ini terbit di tempo.co, Senin 6 Mei 2024

Baca juga Mencegah Perundungan di Sekolah: dari Kebijakan ke Gerakan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...