HomeOpiniMenjaga Api Harapan di...

Menjaga Api Harapan di Pesantren

Oleh: Anggi Afriansyah,
peneliti Sosiologi Pendidikan di Pusat Riset Kependudukan BRIN

Orangtua memiliki banyak harapan ketika memasukkan anak-anak mereka ke pesantren. Ketika masuk ke pesantren, doa-doa dilangitkan agar anak-anak mendapat bimbingan yang baik, tertempa mental dan karakter, memiliki ilmu agama yang memadai untuk diamalkan untuk diri dan masyarakat. Dengan pengetahuan dan pengalaman masing-masing orangtua memilih pesantren yang diharapkan dapat membantu anak-anak mereka menjadi anak-anak saleh-salehah.

Namun, kasus-kasus yang terjadi di pesantren belakangan ini perlu menjadi perhatian khusus. Cerita tentang kekerasan yang terjadi di pesantren sesungguhnya bukan perkara baru. Namun, kisah-kisah tersebut seringkali redup tenggelam. Penyelesaian secara kekeluargaan, seperti kasus-kasus perundungan di sekolah, menjadi salah satu alasan mengapa kasus-kasus kekerasan, kekerasan seksual, perundungan nampak sulit diselesaikan.

Baca juga Mengabaikan Surga

Meski ada bukti-bukti bahwa kekerasan tersebut telah mengakibatkan korban, bahkan hingga meninggal, tampak kita belum begitu ‘peduli’ terhadap kasus-kasus tersebut. Kita ramai sebentar, kemudian lupa kembali, hingga akhirnya ada kasus-kasus baru hadir. Alarm tanda bahaya terkait dengan perundungan, kekerasan sekolah, atau kasus-kasus di sekitar relasi anak-guru-orangtua di sekolah atau di pesantren tampak tak pernah diperhatikan secara seksama dan diselesaikan secara menyeluruh. Akhirnya ketika kasus-kasus muncul dan viral, semua baru menaruh perhatian secara detil pada kasus-kasus tersebut.

Jika membaca kasus-kasus tersebut, dapatkah kita memposisikan diri sebagai orangtua korban –membayangkan anak tercinta yang disayangi sejak kecil tiba dengan kondisi memar, dan kemudian harus dimakamkan? Anak yang kita harapkan pulang ke rumah berubah akhlak dan pengetahuan keagamaannya. Anak yang setiap detik didoakan itu kemudian kembali dalam keadaan tak bernyawa. Bahkan tak bisa lagi mengadu kepada kita, orangtuanya, tentang hal-hal rumit yang mereka temukan dalam dunia keseharian. Tentang sulitnya menghadapi masa muda, soal pertemanan, atau senangnya belajar di pesantren dengan berbagai dinamikanya.

Baca juga Sekolah Bahagia

Jika melalui pendekatan tersebut, kita tak hanya memandang korban secara kuantitatif. Satu, dua, tiga korban semata dari segi angka-angka. Kita akan melihat dari segi atau jiwa yang hilang, ada anak yang dicintai, ada harapan yang hilang. Pada porsi tersebut, penanganan kasus-kasus kekerasan dan perundungan harus diperhatikan. Para aparatur hukum, pengelola pesantren dan lembaga pendidikan harus memberi simpati dan empati yang porsinya pas pada korban.

Yang repot, ketika menghadapi kasus-kasus seperti ini, pihak-pihak yang seharusnya menjadi aktor utama untuk menyelesaikan kasus lebih mendahulukan penyelesaian masalah secara kekeluargaan, yang alih-alih mengutamakan korban, malah justru lebih menguntungkan mereka yang menjadi pelaku. Pelaku melenggang bebas, tanpa hukuman memadai. Sementara korban, dalam berbagai derajat luka yang tersisa baik mental atau fisik harus tetap merana. Bahkan ketika meninggal, orangtua dan keluarga adalah pihak terakhir yang setiap saat memendam duka mendalam.

Baca juga Jalan Panjang Menuju Palestina Merdeka

Jika tujuan utama pesantren adalah mendidik anak, maka tindakan kekerasan yang terjadi di pesantren perlu dinihilkan, bahkan jika itu didasarkan pada upaya pendisiplinan. Meski perlu diakui, bahwa dalam konteks pendisiplinan sering kali penegakan menggunakan kekerasan masih mewarnai ruang pendidikan kita, termasuk di pesantren. Jika cara pandang ini dipertahankan, tentu relevansi pendidikan atau pendidikan pesantren akan semakin dipertanyakan. Jika orangtua saja tidak pernah menggunakan kekerasan pada anak, mengapa pihak lain boleh menggunakan kekerasan tersebut kepada anak-anak atau santri-santri?

Perlu ada metode-metode yang lebih arif bijaksana dalam mendisiplinkan anak. Bukan dalam arti membebaskan anak untuk melakukan apa saja yang mereka inginkan, tetapi memberikan rambu-rambu yang perlu ditaati anak. Dalam terminologi psikologi sering disebut self-disciplined, di mana anak-anak didik mentalnya untuk memahami pentingnya disiplin diri. Artinya, pada tahap awal anak-anak perlu dibangun kesadaran mengapa disiplin itu penting.

Baca juga Antara Rafah, Tel Aviv, dan Riyadh

Dalam konteks ini, jika menggunakan terminologi Simon Sinek, start with why? Mengapa para santri harus disiplin, mengapa disiplin itu penting, mengapa setiap cita-cita dapat dicapai dengan disiplin yang tangguh, dan pertanyaan-pertanyaan lain.

Apalagi sudah terbukti, mereka yang memiliki disiplin diri adalah sosok-sosok yang dapat meraih harapan-harapan di masa depan. Para penghafal Al Quran adalah sosok yang kokoh disiplin dirinya. Para ahli tafsir, untuk mengasah diri, perlu membaca Al Quran secara berulang, memahami makna, hingga mendapatkan tafsir yang memadai dengan konteks sosial. Dalam proses tersebut mereka menempa diri dan memiliki disiplin diri yang tangguh.

Baca juga Paradoks Pendidikan dan Keterpinggiran

Maka dari itu, seperti yang sudah dicontohkan melalui pendidikan pesantren di masa lalu, disiplin diri menjadi penting. Nilai-nilai penghormatan pada yang memiliki ilmu pengetahuan menjadi poin penting dalam proses pendidikan di pesantren. Tak mengherankan jika para santri dengan mudah patuh dan taat kepada para pengelola pesantren. Poin ini juga perlu menjadi penekanan. Ketika para pengelola merupakan sosok terhormat karena ilmu pengetahuan yang dimiliki, maka proses pendisiplinan dan internalisasi ilmu serta akhlak akan lebih mudah diupayakan. Sebab, secara batiniah, santri-santri lebih tergerak untuk menghormati sosok-sosok mumpuni tersebut.

Para pengelola pesantren pun perlu secara terbuka menyampaikan kepada orangtua bagaimana pola pendidikan yang diberikan di pesantren. Pola pendisiplinan yang dilakukan, dan kerja sama yang perlu dilakukan untuk menjadikan anak-anak yang memiliki akhlakul karimah serta wawasan keagamaan yang mumpuni. Apalagi, harapan untuk menjadi anak-anak yang dapat bermanfaat bagi kemanusiaan setelah lulus menjadi doa dari orangtua yang menitipkan anak-anaknya ke pesantren.

Baca juga Tantangan Pendidikan Indonesia

Gus Dur (2001) dalam karyanya Menggerakkan Tradisi: Esai-esai Pesantren menjelaskan dengan sangat presisi peran seorang kiai bagi pesantren. Gus Dur menjabarkan betapa kiai memiliki kewibawaan moral yang besar dengan hal tersebut menjadi bagian penting untuk menyelamatkan santrinya dari kesesatan. Wibawa moral tersebut juga mengikat para santri, sehingga menjadikan para kiai sebagai sumber inspirasi dan penunjang moral dalam kehidupan pribadi, dan oleh sebab itu dalam banyak aktivitas serta kehidupan para santri terbiasa berkonsultasi dan mengikuti petunjuk-petunjuk kiai.

Jika memperhatikan uraian Gus Dur, tingginya tanggung jawab moral kiai juga dibangun oleh keteladanan mereka. Tak mungkin mereka diikuti dengan sepenuh hati jika tidak ada keteladanan di dalam diri para kiai. Jika meminjam Max Weber (1947), para kiai memiliki charismatic authority. Karisma, merujuk pada Weber, merupakan kualitas tertentu dari kepribadian seseorang yang membuatnya berbeda dari orang biasa dan dianggap memiliki kekuatan atau kualitas supernatural, superhuman, atau memiliki kualitas yang luar biasa. Jika menggunakan terminologi Weber, maka hal tersebut sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Gus Dur terkait dengan wibawa moral.

Baca juga Buku di Bayang-bayang Kecerdasan Buatan

Posisi tersebut menempatkan kiai pada posisi terhormat baik dalam pandangan santri-santrinya ataupun masyarakat secara keseluruhan. Karisma tersebut menggerakkan kehidupan pesantren, dan menularkan kepada kehidupan masyarakat lewat alumni-alumni pesantren yang hadir di masyarakat.

Peristiwa kekerasan tersebut tentu menjadi salah satu penanda terkait perlunya kembali meninjau pesantren-pesantren di Indonesia, bukan dalam konteks pengawasan, tetapi dalam arti memberi perhatian mendasar terkait bagaimana kehidupan pesantren digerakkan. Secara struktural, Kementerian Agama memiliki tanggungjawab untuk memastikan gerak langkah pesantren tetap sebagai bagian penjaga moral bangsa ini.

Baca juga Tidak Semua Orang Bisa Menjadi Pendidik

Dan, dari segi orangtua, orangtua perlu lebih selektif dalam menilai pesantren-pesantren yang memiliki kewibawaan moral yang terjaga dalam rekam jejak selama ini, sehingga menjadi institusi yang tepat dalam mendidik anak-anak mereka. Kita tentu berharap, pesantren tetap menjadi institusi penting dalam menjaga obor harapan dalam menjadi penjaga moral di tengah kompleksitas kehidupan bangsa ini.

*Artikel ini terbit di detik.com, Jumat 17 Maret 2024

Baca juga Berlarilah Menuju Allah

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi...

Menjaga Relevansi Program Studi lewat Transformasi

Oleh Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso,...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...

Menjaga Relevansi Program Studi lewat Transformasi

Oleh Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Mei 2026 Setiap tahun perguruan tinggi Indonesia meluluskan sekitar 1,9 juta sarjana. Namun, banyak di antaranya kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai. Wacana penataan program studi yang dilontarkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek)...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah mengaku ia bersama rekan-rekannya di komunitas Yayasan Lingkar Perdamaian aktif merangkul dan mengajak mereka yang masih berpemikiran ekstrem untuk kembali ke jalan perdamaian. “Saya berusaha supaya mereka tidak melakukan aksi kekerasan lagi, bahkan yang masih...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menerima banyak tantangan saat hijrah dari pemikiran ekstrem ke pemikiran moderat (wasathiyah) dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu kami terjerumus ke pemikiran radikal, terus kembali atau berubah pemikirannya,...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...