HomeOpiniKebangkitan Digital Nasional

Kebangkitan Digital Nasional

Oleh: Eko Wahyuanto,
Dosen Sekolah Tinggi Multi Media-STMM MMTC Yogyakarta

Transformasi digital menandai ”kebangkitan nasional” sektor teknologi informasi. Gebrakan akselerasi digitalisasi mengantarkan masyarakat ke depan pintu gerbang visi Indonesia Emas 2045, ditandai berbagai program inisiatif dalam praktik layanan publik di pemerintahan.

Seluruh kebijakan strategis dirancang dalam sistem e-goverment secara kolaboratif, guna mengurai kompleksitas persoalan. Implementasi digitalisasi pada format e-government terus dipacu melalui adopsi teknologi, tata kelola, ekosistem organisasi, dan transisi regulasi.

Baca juga Kuliah Mahal di Kampus Negeri

Diperlukan manajemen infrastruktur digital (MID) sebagai instrumen strategis dalam pengelolaan infrastruktur teknologi informasi (TI). E-government sebagai ”back bone” layanan pemerintah secara efektif, efisien, dan inovatif harus sinkron dalam satu pintu kebijakan nasional. Di sinilah peran MID sebagai parameter sejauh mana infrastruktur digital berfungsi optimal, aman, dan memberi benefit.

Potensial pasar

Jumlah pengguna internet kini meningkat tajam, mencapai 78,19 persen pada 2023 atau naik 1,17 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ini bisa menjadi tolok ukur bahwa layanan sektor publik berbasis digital menjadi pilihan tepat.

Peningkatan supply and demand juga mewarnai proses bisnis internet broadband. Survei Speedtest by Ookla menyebutkan, penetrasi fixed broadband dalam lingkup rumah tangga masih di bawah 20 persen. Sementara hasil kajian McKinsey dan AT Kaerney menyebut, pangsa fixed broadband baru tergarap 15 persen.

Baca juga Menjaga Api Harapan di Pesantren

Sayangnya, potensi menggeliat itu belum dibarengi ketersediaan infrastruktur digital. Rendahnya penetrasi fixed broadband, kecepatan internet, biaya layanan tinggi, keterbatasan listrik, dan hambatan regulasi masih menjadi kendala.

Digital Government in the Decade of Action for Sustainable Development yang dilakukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi Open Government Data Index (OGDI) untuk membantu mengidentifikasi kekuatan dan peluang, sekaligus mempertajam implementasi kebijakan dan strategi pengembangan sistem pemerintahan berbasis internet.

Baca juga Mengabaikan Surga

Variabel yang digunakan meliputi indeks pelayanan daring (online) atau online service index (OSI), indeks infrastruktur telekomunikasi atau telecommunication infrastructure index (TII), dan indeks sumber daya manusia atau human capital index (HCI). Indonesia mencatatkan skor 0,6824 untuk OSI, 0,5669 untuk TII, dan 0,7342 untuk HCI.

Skor tersebut berada di atas skor rata-rata dunia dan masuk deretan negara-negara very high e-participation index, sejajar dengan Denmark, Jerman, Perancis, Amerika Serikat, Korea, Jepang, China, dan negara maju lain. Kondisi tersebut merupakan potensial pasar yang harus diperebutkan industri telekomunikasi.

Tantangan dan ancaman

Serangkaian perubahan bakal terjadi dalam 20 tahun ke depan. Megatrend 2045 ditandai ledakan demografi global, dengan penduduk dunia menembus angka 9,45 miliar. Kawasan Asia menjadi daratan dengan tingkat populasi terpadat. Jumlah warga lanjut usia membengkak, menambah beban negara. Sekitar 68 persen penduduk dunia memilih bertahan tinggal di kota sehingga rentan terjadi masalah baru.

Arus perdagangan internasional meningkat pesat, dan Asia menjadi episentrum ekonomi dunia. Keuangan global terintegrasi dalam sistem jejaring internasional. Di satu sisi hal ini menciptakan peluang pertumbuhan, di sisi lain menimbulkan ancaman akibat adanya kendali dan monopoli kelompok negara kuat.

Baca juga Sekolah Bahagia

Krisis sumber daya alam, seperti air, energi, dan pangan, terus mengancam. Dikhawatirkan ini menimbulkan konflik sosial akibat kesenjangan dan ketidakstabilan. Kondisi ini diperburuk perubahan iklim, seperti kenaikan permukaan laut, cuaca ekstrem, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Sementara kemajuan teknologi, seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), robotika, dan bioteknologi, akan semakin membanjiri sisi kehidupan manusia.

Itulah sebabnya, Visi Indonesia 2045 harus melakukan pengarusutamaan transformasi digital melalui pengembangan superplatform, percepatan transformasi digital, dan pencetakan sumber daya manusia bertalenta digital. Transformasi digital harus mengacu pada prinsip dasar pembangunan adaptif, inklusif, memberdayakan, berdaulat, dan berkelanjutan.

Kebangkitan baru

Bonus demografi tidak selalu menguntungkan. Pemanfaatan teknologi digital secara masif tidak selalu berdampak positif. Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, pada 2045 diperkirakan penduduk Indonesia usia 15-64 tahun mencapai 214,2 juta jiwa dari total populasi 329,1 juta jiwa. Artinya, kelompok usia produktif akan besar dan menyumbang 65 persen total populasi.

Peluang pertumbuhan ekonomi dan permintaan pasar kerja akan terus dinamis. Dengan menerapkan transformasi digital, diprediksi pemerintah dapat menciptakan 9 juta-12 juta peluang kerja baru.

Baca juga Jalan Panjang Menuju Palestina Merdeka

Masalahnya, digitalisasi juga menggerus potensi pasar kerja. Sekitar 60 persen penduduk usia kerja di Indonesia di enam sektor utama, seperti pertanian, perhutanan, perikanan, perdagangan, ritel, manufaktur, layanan akomodasi, kuliner, konstruksi, dan pendidikan, berisiko terancam program otomatisasi.

Peradaban baru mewarnai setiap sisi kehidupan, membangun relasi serbainstan, dan tanpa batas. Namun ”dividen” teknologi itu belum serta-merta mendorong kesadaran untuk mengoptimalkan potensi positif dalam praktik pemerintahan yang berkeadilan di atas kesetaraan sosial dan hukum. Media yang diharapkan dapat membangun pesan-pesan ketuhanan (divinity) dan kemanusiaan (humanity), serta membangkitkan spirit kebangkitan, acap kali malah berbalik arah merusak cita-cita itu sendiri.

Baca juga Antara Rafah, Tel Aviv, dan Riyadh

Maka, pada momentum Hari Kebangkitan Nasional kali ini, ada baiknya dilakukan kontemplasi, bagaimana bangsa ini mampu mencapai kejayaan melalui teknologi, tetapi tetap bersandar pada nilai kebangkitan nasional, yakni bangkit berjiwa nasionalisme, memiliki rasa persatuan dan kesatuan menuju peradaban baru Indonesia Emas.

*Artikel ini terbit di kompas.id, Senin 20 Mei 2024

Baca juga Paradoks Pendidikan dan Keterpinggiran

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sekolah Aman Dimulai dari Budaya, bukan Regulasi

Oleh Nurhattati Fuad Guru Besar Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta,...

Pemikiran JAD Sangat Berbahaya

Aliansi Indonesia Damai- Pemikiran kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung...

Sjahrir dan Ujian Kesetiaan

Oleh Virdika Rizky Utama, Mahasiswa Doktoral Public Policy and Global Affairs,...

Meneladani Pemaafan Nabi Muhammad

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kuningan, Josuwa Ramos mengaku sempat marah...

Sekolah Aman Dimulai dari Budaya, bukan Regulasi

Oleh Nurhattati Fuad Guru Besar Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, Anggota Dewan Pendidikan Nasional SEKOLAH seharusnya menjadi ruang paling aman setelah keluarga. Dalam rumah, anak tertanam kesadaran, peroleh pengetahuan dan pengalaman langsung untuk membangun persaudaraan, empati, persahabatan, kepercayaan diri, dan belajar menghargai sesama. Namun, kenyataan nya, sangat...

Pemikiran JAD Sangat Berbahaya

Aliansi Indonesia Damai- Pemikiran kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia sangat ekstrem dan berbahaya. Bahkan, saking ekstrem dan bahayanya, mereka mengkafirkan dirinya sendiri. Demikian dinyatakan Iskandar alias Alexander Rumatery, mantan amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), dalam Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang...

Sjahrir dan Ujian Kesetiaan

Oleh Virdika Rizky Utama, Mahasiswa Doktoral Public Policy and Global Affairs, Nanyang Technological University, Singapura Pada 27 Juni 1946, Perdana Menteri Sutan Sjahrir diculik di Surakarta. Penculiknya sesama Republiken, sekelompok perwira dan politisi yang yakin perundingan dengan Belanda sama artinya dengan menjual kemerdekaan yang baru berumur sepuluh bulan....

Meneladani Pemaafan Nabi Muhammad

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kuningan, Josuwa Ramos mengaku sempat marah dan dendam terhadap pelaku terorisme. Akibat bom yang meledak di depan tempat kerjanya Kedutaan Besar Australia, ia mengalami luka-luka dan kehilangan beberapa rekan kerjanya. Hingga sekarang ia masih melakukan perawatan medis dan minum obat secara rutin. “Setelah...

Fathudin, Sempat Euforia Ada Amaliyat (Bag. 2)

Mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, membuka suara mengenai dinamika internal, aliran dana, hingga strategi teror yang pernah dijalankan oleh kelompoknya. Pengakuan ini disampaikannya dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, pada September...

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair) untuk Asosiasi Pembangunan Internasional (International Development Association/IDA) ke-22 di Bank Dunia (World Bank); Menteri Keuangan RI (2005-2010; 2016-2024; 2024-2025) ”Jangan pernah lelah mencintai Indonesia.” Kalimat ini sering saya ucapkan dalam berbagai kesempatan. Mencintai Indonesia memerlukan ketahanan, kesabaran,...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa merumuskan Undang-Undang Dasar 1945, mereka menegaskan bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir. Kemerdekaan adalah awal perjalanan panjang bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan berperan nyata dalam mewujudkan tata kehidupan dunia yang damai. Untuk itu,...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah kewajiban yang mulia bagi seluruh anak bangsa, termasuk umat muslim. Sebab membela negara itu bagian dari agama. Demikian ditegaskan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...