HomeInspirasiAspirasi DamaiBelajar Perdamaian dari Shinjuku

Belajar Perdamaian dari Shinjuku

Shinjuku kala itu dingin, di malam pengujung pergantian musim gugur menuju musim salju (November 2016). Terlintas dibenak saya dan beberapa teman dari Indonesia untuk mencicipi salah satu makanan favorit dari Negeri Sakura, ramen. Semangkuk mie diseduh dengan bumbu kaldu yang lezat dan disajikan dengan potongan ayam, sayuran, khas cita rasa Jepang. Rasanya sangat pas untuk menghangatkan perut kami dikala udara dingin menyergap.

Sebetulnya banyak sekali restoran di Jepang yang menyajikan hidangan ramen, tetapi karena kami muslim maka harus sedikit lebih teliti mencari ramen yang halal. Kami memutuskan untuk mencoba salah satu restoran halal di Shinjuku, satu kawasan di sudut kota Tokyo. Menurut beberapa teman yang pernah berkunjung kesana, warung bernama Shinjyukugyoen Ramen Ouka cukup laris dan terkenal terutama bagi wisatawan muslim. Tak jarang pembeli rela menunggu hingga dua jam lamanya demi mencicipi ramen halal. Benar saja, setibanya kami disana terlihat beberapa pengunjung sedang antre, banyak dari mereka adalah wisatawan muslim asalIndonesia.

Restoran tersebut tidak terlalu besar, kapasitas yang bisa masuk sekitar 10 sampai 15 orang. Untuk bisa makan ramen kami harus antre menunggu giliran sampai pengunjung lainnya selesai makan. Setelah menunggu sekitar satu jam, kami diperbolehkan masuk dan memesan. Tak ingin membuang waktu karena perut semakin lapar,juga menghormati pengunjung lain yang masih menunggu di luar, saya segera memesan menu favorit di restoran tersebut,Spicy Ramen Set.

Pembuatan ramen itu sendiri cukup lama, sekitar 45 menit. Sementara menunggu ramen dimasak dandihidangkan, saya melihat-lihat ke sekeliling restoran. Ternyata tidak semua pengunjungnya muslim. Saya lihat ada juga wisatawan nonmuslim yang berasal dari Eropa danAmerika. Sungguh menarik, ternyata menyediakan makanan halal tidak membuat restoran ini dihindari oleh pengunjung nonmuslim, atau dengan kata lain makanan halal tidak menghalangi umat nonmuslim untuk menikmatinya.

Pemilik restoran tersebut sepasang suami istri asli Jepang.Yang menarikdari pasangan usahawan ramen itu adalahsang istri yangmengenakan hijab. Ya, mereka telah memeluk agama Islam sekitar satu tahun yang lalu. Sebelumnyamereka membuka restoran ramen nonhalal selama 15 tahun di daerah Yokohama. Setelah memeluk agama Islam, mereka memutuskan menutup usaha yang lama dan membuka restoran halal di daerah Shinjuku.

Sang suami adalah juru masak utama di restoran tersebut. Mereka mempekerjakan 5 pegawai dengan jadwal kerja atau shift yang berbeda setiap harinya. Karyawannya berasal dari Jepang, Indonesia dan Malaysia .Keyakinan mereka beragam, ada yang muslim, ada juga yang nonmuslim. Meskipun demikian, perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk menyediakan makanan halal.

Selain soal ramennya yang halal, ada hal lain yang menarik dan terkenang dipikiran saya. Senang memang rasanya menemukan restoran halal yang dikelola pasangan pribumi muslim di negeri sakura, tetapi kemudian banyak pertanyaan muncul di benak saya. Bagaimana dan seperti apa ya kehidupan sosial mereka? Mengapa begitu berani meninggalkan langganan di restoran yang terdahulu dan memulai dari awal di tempat baru?Apa suka duka menjadi muslim di negara yang mayoritas penduduknya bukan muslim, apalagi dengan penampilan sang istri yang mengenakan hijab? Tidakkah mendapat perhatian dan perlakuan yang berbeda dari lingkungan sekitarnya?

Saat sang istri menghidangkan ramen pesanan kami, saya memberanikan diri untuk mengobrol dengannya. Menjawab keingintahuan saya, perempuan berhijab itu bercerita panjang lebar sembari melakukan pekerjaannya. Dia mengatakan tidak ada gangguan atau perlakuan berbeda dari warga sama sekali, termasuk dari pemerintah Jepang sekali pun. Ia dan suami dengan bebas melakukan ibadah sesuai agama yang diyakini tanpa ada kecaman dari pihak lain. Memang, tak jarang apabila bepergian dengan transportasi umum banyak yang melihat kearahnya kemudian bertanya tentang pakaian yang dikenakannya (hijab), mengapa memilih memeluk agama Islam dan sebagainya. Tetapi, gangguan yang membuat dia dan suami tidak nyaman beribadah tak pernah dialami.

Dia juga menceritakan bahwa keluarga besar baik dari pihak suami maupun istri tidak mempermasalahkan keyakinan yang mereka pilih. Justru menurutnya, dukungan untuk tidak perlu khawatir menjadi minoritas banyak datang dari keluarga dan orang-orang dekat di lingkungan mereka tinggal. Sejumlah teman mendukung mereka membuka restoran makanan Jepang yang bisa dinikmati siapa saja, termasuk umat muslim. Semua orang harus mencicipi cita rasa masakan Jepang berikut cerita di balik pembuatannya. Filosofi itu yang semakin memantapkan hati mereka berbisnis ramen halal. Dia menambahkan, para pelanggan dan penikmat ramen baik lokal maupun manca, dengan berbagai macam agama yang diyakini, yang setia berkunjung menjadi penyemangat tersendiri bagi pasangan mualaf itu.

“Banyak sekali yang datang kembali, rela antre berjam-jam, dari tempat jauh di luar Tokyo, hanya untuk mencicipi ramen halal kami. Memang ada rasa yang berbeda dibandingkan dengan ramen nonhalal, tapi pelanggan tetap ingin mencicipi ramen halal yang menurut mereka memiliki cita rasa yang khas. Jadi, tak hanya mereka yang muslim saja yang ingin datang kesini, orang nonmuslim dari Jepang dan luar Jepang juga datang,” kata dia. Padahal,awalnya dia dan suamisempat meragukan jika membuka restoran ramen halal tidak akan ada pengunjung lokal yang datang. “Ternyata mendapat tanggapan yang baik, di luar ekspektasi,” imbuhnya.

Saya tersenyum mendengar kisahnya. Di negara yang mayoritas penduduknya bukan muslim itu orang-orang saling menghormati, menghargai dan mendukung pilihan orang lain. Terbangun kehidupan yang toleran dan harmonis di sana. Saya belajar satu hal bahwa kehidupan yang damai tercipta bukan karena kesamaan melainkandari ketidaksamaan. Manusia diciptakan berbeda secara ras, suku, agama dan faktor lainnya. Dari perbedaan itulahmanusia dituntut untuk mengupayakan perdamaian, bukan membuat semua menjadi sama agar tercipta perdamaian.

Lama mengobrol, aroma sedap ramen yang telah tersaji menggoda penciuman saya. Sambil menikmati hangatnya masakan, terlintas kepuasan tiada tara dalam pikiran. Saya puas mendapatkan pengalaman baru serta merasa beruntung mendengarkan kisah inspiratif tentang perdamaian dari saudara sesama muslim di negeri sakura. Dari perjalanan ke Shinjuku saya menyimpulkan, kita umat manusia ini harus bisa menerima perbedaan bukan menolaknya, menjaga perbedaan bukan merusaknya, mendukung perbedaan bukan menjatuhkannya, sehingga kehidupan damai yang kita inginkan di dunia ini dapat terwujud.

 

 

*Oleh Intan Ryzki Dewi

Staff AIDA (Aliansi Indonesia Damai)

[SWD]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...

Berusaha Tegar dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga menjadi pukulan sangat berat bagi Ni Luh Erniati, salah satu janda korban bom Bali 2002. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta Bali,...

Perdamaian Harus Dijaga

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati mengajak generasi muda untuk terus menjaga perdamaian. Menurut dia perdamaian harus tetap dijaga karena perdamaian itu indah. “Untuk bisa menjaga perdamaian diperlukan kesabaran. Kita harus mampu berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan,”...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education; Pengajar Program Doktoral Psikologi Universitas Surabaya Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Juli 2026 Anak bungsu saya memasuki halaman sekolah dengan langkah kecil yang diberani-beranikan. Maklum, pagi di pengujung musim panas itu adalah hari pertama...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...