HomeBeritaSetahun Bom Thamrin, Korban...

Setahun Bom Thamrin, Korban Saling Menguatkan

Puluhan orang berkaos putih tampak berkumpul di sudut sebuah perempatan di Jalan Muhammad Husni Thamrin Jakarta Pusat pagi itu. Sebagian mereka membentangkan spanduk berisi ajakan perdamaian dan stop kekerasan, sementara yang lain terlihat sibuk membagikan selebaran kepada pengguna jalan yang berhenti di depan lampu lalu lintas.

Mereka adalah keluarga besar penyintas terorisme di Indonesia. Kumpul mereka pagi itu bertujuan untuk memperingati tragedi aksi teror yang terjadi di tempat yang sama setahun silam. Bukan untuk mengungkit kembali rasa takut yang timbul akibat aksi teror, para penyintas memperingati peristiwa itu untuk saling mendukung dan menguatkan satu sama lain.

Kegiatan yang digelar Sabtu (14/1) pagi itu diprakarsai oleh Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bersama Yayasan Penyintas Indonesia (YPI) dan Sahabat Thamrin. Aksi simpatik mengawali rangkaian acara Peringatan Bom THamrin. Tepat pukul 10.05 WIB, sekira sepuluh peserta aksi berjalan kaki menuju ke tengah perempatan, tepatnya di pos polisi depan Mall Sarinah dengan pengawalan dan pengamanan Kepolisian Daerah Metro Jaya.

Di pos polisi tersebut mereka melakukan tabur bunga dan mengheningkan cipta sejenak untuk mengenang orang-orang yang menjadi korban kekejian aksi teror. Setelah itu mereka kembali ke tempat semula dan menyampaikan pernyataan sikap bersama. Secara bergiliran AIDA, YPI dan Sahabat Thamrin membacakan sejumlah poin pernyataan sikap.

“Kami mengajak masyarakat luas untuk mengantisipasi terjadinya aksi terorisme. Tanpa kesigapan dan peran dari semua pihak, aksi terorisme bisa terjadi kapan pun dan menimpa siapa pun,” kata Hasibullah Satrawi, Direktur AIDA, mengawali pembacaan pernyataan sikap bersama.

Ajakan tidak membalas kekerasan dengan kekerasan, serta tidak membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan termasuk poin penting yang disuarakan para peserta aksi. Dalam pernyataan sikap bersama tersebut disebutkan pula dorongan kepada pemerintah dan parlemen untuk segera menyelesaikan revisi Undang-Undang No. 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang di dalamnya memuat hak korban. Diharapkan, jaminan pemenuhan hak-hak korban lebih diperhatikan, termasuk jaminan pembiayaan medis korban pada masa-masa kritis serta hak kompensasi.

Secara khusus tentang hak kompensasi, AIDA mengusulkan agar pemenuhannya tidak mensyaratkan adanya putusan pengadilan melainkan diberikan dengan mekanisme assessment yang dilakukan oleh lembaga negara yang ditunjuk. Ipda Denny Mahieu, korban Bom Thamrin, mengaku hingga kini masih harus mengeluarkan uang sendiri untuk biaya perawatan jalan lukanya di tangan, kaki dan bagian kepala. “Kata dokter, kepala saya ini sebelah kanan masih akan terasa berat dan sakit sampai dua tahun lagi. Ini luka di tangan dan kaki kadang kambuh, sakit sekali,” ujarnya saat ditanya wartawan.

Korban bom lainnya, Dwi Siti Romdhoni mengaku hingga sekarang kesehatannya tidak sebugar seperti sebelum mengalami kejadian teror. Pusing dan sakit di bagian tengkuk belakang kepala sering terasa sakit. Kalau dalam kondisi parah, dia bisa pingsan. Meski demikian, Dwiki, panggilan akrabnya, mengaku dengan adanya aksi ini ia menyeru pada seluruh masyarakat agar saling menjaga kedamaian.

Usai aksi simpatik, para peserta menuju ke Gedung Dewan Pers untuk mengikuti Diskusi Terbatas tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak Korban dalam Revisi UU Terorisme. Sebelum acara diskusi dimulai, para peserta menikmati makan siang terlebih dahulu.

Acara diskusi siang itu berlangsung dengan penuh suasana kekeluargaan. Keluarga besar penyintas saling bersilaturahim dan menjalin keakraban. Penuturan kisah Mahanani Prihrahayu, korban Bom JW Marriott 2003, dan Nanda Olivia Daniel, korban Bom Kuningan 2004, menjadi bagian dari kegiatan. Satu persatu korban Bom Thamrin juga berbagi kisah dalam forum diskusi.

Selain para penyintas, hadir pula dalam diskusi seorang mantan anggota kelompok teroris, Nasir Abbas. Dalam kesempatan itu Nasir sempat menyampaikan permintaan maaf kepada para korban terorisme. Ia juga mengaku kini telah meninggalkan jalan kekerasan dan mendukung para korban untuk mengampanyekan perdamaian.

AIDA sebagai lembaga yang concern dengan kampanye perdamaian khususnya melalui kisah korban mendukung penuh kegiatan seperti aksi simpatik dan diskusi hari itu. Forum penyintas serupa bisa berfungsi sebagai ajang untuk memperkuat persaudaraan serta ajang saling menguatkan antarkorban. “Sangat penting kita saling memotivasi sehingga kita bisa maju dan berkembang bersama,” kata Hasibullah. (AM) [SWD]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...

Berusaha Tegar dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga menjadi pukulan sangat berat bagi Ni Luh Erniati, salah satu janda korban bom Bali 2002. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta Bali,...

Perdamaian Harus Dijaga

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati mengajak generasi muda untuk terus menjaga perdamaian. Menurut dia perdamaian harus tetap dijaga karena perdamaian itu indah. “Untuk bisa menjaga perdamaian diperlukan kesabaran. Kita harus mampu berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan,”...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education; Pengajar Program Doktoral Psikologi Universitas Surabaya Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Juli 2026 Anak bungsu saya memasuki halaman sekolah dengan langkah kecil yang diberani-beranikan. Maklum, pagi di pengujung musim panas itu adalah hari pertama...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...