HomeOpiniMemenangkan Solusi Dua Negara

Memenangkan Solusi Dua Negara

Oleh Hasibullah Satrawi

Pengamat politik Timur Tengah dan dunia Islam

Artikel ini terbit di laman Nu.or.id edisi 9 Agustus 2025

Konferensi Solusi Dua Negara yang diadakan di Markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tidak lama ini (28-29/07) terus menimbulkan reaksi dari banyak negara, baik reaksi yang bersifat negatif maupun reaksi yang bersifat positif.  

Ibarat bola salju, reaksi atas konferensi yang diinisiasi dan didukung oleh Arab Saudi dan Prancis ini terus semakin membesar dengan kebanyakan reaksi yang bersifat positif terkait pengakuan atas kemerdekaan Palestina sekaligus pengakuan atas eksistensi negara Israel, sesuai solusi dua negara.

Baca juga Deklarasi New York dan Masa Depan Solusi Dua Negara

Steve Witkoff sebagai Utusan Khusus Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, sempat melakukan kunjungan ke Israel dan Gaza pada Jumat lalu (Aljazeera.net, 01/08/2025). Kunjungan Witkoff kali ini yang hanya berselang beberapa hari dari kunjungannya ke Roma (24/07) bisa dikatakan sangat mendadak. 

Sebagaimana dimaklumi, pada 24 Juli kemarin Witkoff berkunjung ke Roma dan direncanakan akan lanjut berkunjung ke Timur Tengah untuk memberikan sentuhan terakhir atas draf gencatan senjata yang telah dikaji oleh tim perunding sejak 06 Juli lalu di Doha, Qatar. Alih-alih, Witkoff (dan kemudian juga Israel) secara sepihak dan mendadak menarik pulang delegasinya dari Qatar sembari menuduh Hamas tidak sungguh-sungguh ingin mencapai kesepakatan gencatan senjata. 

Sedangkan Hamas sendiri merasa aneh dan terkejut dengan sikap Witkoff karena kelompok perlawanan ini merasa sudah sangat kooperatif sekaligus positif dalam menghadapi perundingan yang ada, termasuk dalam merespons konsep gencatan senjata mutakhir yang diajukan oleh para mediator.

Oleh karenanya, secara politik kunjungan Witkoff kali ini ke Timur Tengah bisa dipahami sebagai “dampak tidak langsung” dari Konferensi Solusi Dua Negara yang diadakan oleh Prancis dan Arab Saudi. 

Baca juga Timur Tengah Baru

Terlebih, beberapa negara berpengaruh di Barat sempat menyatakan akan ikut turut serta mengakui kemerdekaan Palestina pada September mendatang, seperti Prancis, Kanada bahkan Inggris.  Berbeda dengan negara-negara yang lain, sikap dan rencana Inggris untuk mengakui kemerdekaan Palestina bahkan dikaitkan secara langsung dengan gencatan senjata di Gaza sekarang. Manakala Israel tidak melakukan gencatan senjata dan terus melakukan aksi pelaparan yang sangat tidak manusiawi terhadap warga Gaza, maka Inggris akan secara resmi mengakui kemerdekaan Palestina pada September mendatang. Demikian kurang lebih sikap Inggris sebagaimana disampaikan oleh Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer (27/07). 

Perang Kelompok Ekstrem

Pada tahap tertentu, perang Israel-Hamas yang terjadi sejak 7 Oktober 2023 bisa dikatakan sebagai perang di antara kelompok ekstrem, atau pihak-pihak yang selama ini hanya mengakui solusi satu negara (one state solution). Yaitu Hamas yang mendukung solusi satu negara bagi Palestina (Israel harus dihancurkan) dengan pemerintahan Israel yang dipimpin oleh Benjamin Netanyahu yang juga mendukung solusi satu negara bagi Israel (dengan mengusir paksa atau menghancurkan Palestina). 

Perang antara kelompok ekstrem ini menjadi “lebih sempurna” dengan dukungan seorang Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang juga merupakan pendukung solusi satu negara, yaitu negara Israel.

Baca juga Manuver Trump di Timur Tengah

Pada awalnya, perang kelompok ekstrem masih ada batasan-batasan tertentu. Hal ini tak lain karena AS pada awal-awal perang ini masih dipimpin oleh Presiden Joe Biden yang merupakan pendukung solusi dua negara (two state solution). Walaupun sama-sama mendukung Israel secara tanpa batas, tapi sikap AS di bawah kepemimpinan Joe Biden “masih terlihat” menghormati kemanusiaan ketimbang apa yang dilakukan oleh Presiden Trump saat ini. 

Sikap-sikap kritis dari Joe Biden terhadap ambisi Netanyahu bisa dijadikan sebagai contoh dari yang telah disampaikan di atas, seperti kritik keras AS (saat itu) atas ambisi Israel untuk menduduki Rafah, sikap kritis AS terhadap Israel yang hendak menjajah Gaza, bahkan juga keputusan Joe Biden untuk melarang pengiriman bom-bom berat ke Israel. 

Namun karena perang ini terjadi bersamaan dengan Pemilu Presiden AS, sikap kritis AS terhadap Israel nyaris tidak bisa berjalan maksimal. Demi alasan kepentingan elektoral, Joe Biden yang mendukung Kamala Harris pada Pilpres 2024 harus tampak mendukung Israel (bahkan Netanyahu) untuk mendapatkan dukungan dari kelompok Yahudi di AS.  

Dilema inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh Netahyau untuk menjalankan strategi “pasir isap” untuk menggerus elektabilitas Joe Biden dan Kamala Harris; gerakan apa pun yang dilakukan Biden dan Harris akan semakin menenggelamkan popularitasnya dan elektabilitasnya. Hingga akhirnya Harris benar-benar kalah dalam Pilpres AS 2024.

Apa yang saat ini terjadi di Gaza bisa disebut sebagai perang sempurna antara kelompok ekstrem yang nyaris tak menyisakan rasa kemanusiaan. Sebaliknya, kemanusiaan juga dijadikan alat dan strategi perang untuk memaksa dan mengalahkan pihak lawan.


Baca juga Gaza dan Kemanusiaan Perang

Inilah yang membuat warga Gaza sekarang terus dibiarkan mati kelaparan. Inilah yang membuat warga Gaza ditembaki pada saat berupaya untuk mencari bantuan. 

Dan sampai di batas paling kritis seperti ini, para pihak tetap tak mau kompromi sebagai titik tengah menuju kesepakatan sekaligus gencatan senjata. Alih-alih, pemerintahan Israel justru menyangkal terjadinya aksi kelaparan dan pelaparan di Gaza.     

Delegitimasi Kekerasan

Dalam hemat penulis, hal yang paling memilukan sekaligus memalukan dari perang Israel-Hamas saat ini bukan semata-mata karena perang ini terus menimbulkan korban warga sipil dari kedua belah pihak. Bukan juga karena perang ini terus memakan korban jiwa dalam jumlah yang terus bertambah, bahkan bukan juga karena perang ini sampai pada batas menggunakan politik pelaparan dan penyanderaan.  

Hal yang lebih memilukan dan memalukan dari semua di atas adalah diamnya kelompok-kelompok lain yang selama ini mendukung solusi damai dalam persoalan Palestina-Israel melalui perjuangan perdamaian dan perundingan.

Baca juga Timur Tengah 2025

Harus diakui bersama, secara jumlah kelompok atau poros perundingan jauh lebih banyak dibanding poros perlawanan. Namun poros perdamaian selama ini tersandera oleh pola permainan poros kekerasan, baik di internal Palestina, Israel, dunia Arab bahkan masyarakat global sekalipun. Hal ini seakan menegaskan bahwa solusi konflik Israel-Hamas memang harus melalui jalur kekerasan dan peperangan dengan semangat solusi satu negara.

Konferensi Solusi Dua Negara yang dilakukan oleh Arab Saudi dan Prancis sejatinya bisa dijadikan sebagai momentum oleh poros perdamaian untuk mengkonsolidasi diri sebagai langkah awal untuk mewujudkan solusi damai terkait konflik Palestina-Israel, yaitu solusi dua negara yang mendukung kemerdekaan negara Palestina dan mengakui eksistensi negara Israel. 

Pengakuan atas eksistensi Israel nantinya tak hanya dilakukan oleh Palestina, melainkan juga oleh negara-negara Arab secara umun dan juga negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, tak terkecuali Indonesia. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa solusi krisis Israel-Palestina bisa juga melalui jalur perdamaian dan perundingan dengan semangat solusi dua negara.

Baca juga Menyambut Gencatan Senjata Israel-Hamas

Pada tahap awal ini, konsolidasi poros perdamaian dibutuhkan untuk mengurangi cara-cara kekerasan yang dilakukan oleh pemerintahan Israel, Hamas atau bahkan pemerintahan Presiden Trump (kalau tidak berubah). Pada tahap selanjutnya, konsolidasi poros perdamaian bisa memaksakan terjadinya gencatan senjata antara Israel-Hamas seperti disampaikan oleh Perdana Menteri Inggris.  

Puncak dari konsolidasi perdamaian ini adalah bulan September sebagai momen puncak dunia mengakui kemerdekaan Palestina dan mengakui eksistensi negara Israel yang berdampingan secara damai dengan Palestina merdeka. 

Apa bila solusi dua negara ini benar-benar bisa ditegakkan pada September mendatang, maka hal ini akan mendelegitimasi peperangan yang sekarang terjadi antara Israel dengan Hamas dan kelompok-kelompok perlawanan Palestina lainnya. Mengingat perang ini terjadi tak lain akibat realitas penjajahan yang dilakukan oleh Israel. Sebagaimana perang ini bisa dipahami sebagai cara untuk menegakkan solusi satu negara. 

Manakala Palestina sudah merdeka maka hal itu berarti tidak ada lagi penjajahan. Karenanya tidak perlu ada lagi yang namanya kelompok perlawanan. Sebaliknya, dengan kemerdekaan Palestina maka kedua bangsa (Israel dan Palestina) yang masih terikat tali persaudaraan historis ini bisa hidup damai dan saling menghormati. Inilah substansi solusi dua negara. Dan inilah yang perlu terus diperjuangkan ke depan hingga negara Palestina yang merdeka benar-benar berdiri kokoh berdampingan secara damai dengan Israel sekaligus saling mengakui eksistensi masing-masing.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 1)

Setiap orang butuh rumah. Baik dalam arti fisik, tempat di mana ia berasal dan menuju pulang, maupun secara substantif ruang di mana ia selalu diterima dan dicintai oleh keluarga. Choirul Ihwan, pria asal Madiun, Jawa Timur, ialah satu dari sekian orang yang merasa kehilangan rumah itu sejak...

Syariat Allah Memerintahkan Kebaikan

Aliansi Indonesia Damai- Syariat Allah Swt itu memerintahkan umat manusia untuk berbuat kebaikan bukan keburukan atau kejahatan. Siapa pun yang melakukan kejahatan atau keburukan maka telah melanggar syariat Allah Swt. Demikian pernyataan mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery...

Tangguh Menghadapi Ujian

Oleh Nur Aliyah, pengasuh Ponpes Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten* Dalam kehidupan ini, ujian dan cobaan adalah keniscayaan. Ia datang silih berganti, tanpa pernah memandang waktu, usia, atau status sosial. Sebagai muslim, kita diajarkan untuk tidak sekadar pasrah, melainkan tangguh. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: ketangguhan macam apa yang seharusnya...

Tidak Larut dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Agus Kurnia, penyintas bom Thamrin 14 Januari 2016, mengaku sejak menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta, dirinya memutuskan untuk tidak larut dalam kesedihan dan kemarahan. Menurutnya, apa yang sudah terjadi tidak mungkin kembali seperti semula. Pada 14 Januari 2016, Agus...

Santri Belajar Perdamaian dari Penyintas dan Mantan Pelaku

Aliansi Indonesia Damai- “Perasaan saya setelah mengikuti kegiatan ini bangga. Bangga kenapa? Bangga karena tidak ikut-ikutan jadi teroris.” Seorang santri Pondok Pesantren Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten menyampaikan kesan tersebut saat mengikuti Pengajian & Diskusi dengan tema ‘Menyerap Ibroh dari Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme’ beberapa waktu lalu. Dalam...