HomeOpiniManuver Trump di Timur...

Manuver Trump di Timur Tengah

Oleh: Hasibullah Satrawi

(Pengamat Politik Timur Tengah dan Dunia Islam)

Artikel ini terbit di laman mediaindonesia.com, 14 Mei 2025

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melakukan kunjungan ke tiga negara kaya minyak di Timur Tengah, yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Kunjungan selama tiga hari (13-16 Mei) itu sangat bermakna mengingat ini perjalanan luar negeri perdana Trump setelah menjadi Presiden AS untuk kedua kalinya.

Israel tidak ada dalam daftar negara tujuan dari kunjungan Trump ke Timur Tengah sekarang. Ini bisa jadi sebuah strategi, tapi juga bisa jadi sebuah ironi bagi Israel, terlebih lagi Israel sejauh ini menjadi negara asing pertama yang pemimpinnya diterima Trump di Gedung Putih setelah dilantik pada 20 Januari lalu.

Di sini tampak ada dinamika negatif dalam hubungan Trump dengan Netanyahu yang semakin hari semakin terbuka luas. Bahkan, dengan merujuk pada sumber orang-orang terdekat Trump dan Netanyahu, sebagian media di Timur Tengah menyebut hubungan kedua pemimpin dalam kondisi paling rendah, bahkan Trump diberitakan memutus komunikasi (qat’ul ittishal) dengan Netanyahu (Aljazeera.net, 9/5).

Dalam perkembangan terbaru, Trump mengumumkan gencatan senjata dengan Houthi secara sepihak (tanpa melibatkan Israel). Sementara itu, dalam konteks Iran, AS berupaya melanjutkan perundingan yang ada. Semua perkembangan ini (sebagaimana diakui oleh sebagian sumber) menjadi kabar buruk bagi Israel karena justru berbalik arah dengan kebijakan yang diharapkan oleh Netanyahu. Bahkan pembebasan sandera tentara Israel berkebangsaan AS, Edan Alexander, oleh Hamas kemarin (12/5) mengabaikan Netanyahu, baik dari sisi Hamas maupun dari sisi AS.

Baca juga Strategi “Dua Tangan” Trump di Timur Tengah

Bagaimana memahami perkembangan politik Timur Tengah mutakhir, terutama dalam bayang-bayang kebijakan Trump yang penuh misteri tapi sangat menentukan? Dalam hemat penulis, apa yang dilakukan oleh Trump merupakan sebuah manuver untuk mendapatkan atau mengamankan kepentingan AS, khususnya kepentingan ekonomi yang menjadi perhatian utama Trump. Di sisi lain, kebijakan perang yang dilakukan Israel justru dianggap mulai mengganggu kepentingan ekonomi AS.

Meski demikian, apa pun perkembangannya, rasanya tidak mungkin Trump meninggalkan Netanyahu dan Israel, alih-alih memusuhinya. Hal terjauh ialah, melalui kebijakan-kebijakan sepihaknya terkait Timur Tengah (seperti dalam konteks Houthi, perundingan dengan Iran, bahkan pembebasan Alexander), Trump mencoba memaksa Netanyahu untuk memilih jalan perdamaian daripada peperangan. Paling tidak, Trump mencoba memaksa Netanyahu agar tidak selalu mengambil kebijakan yang ‘menguras’ anggaran AS.

Dengan kata lain, di balik kebijakan Trump yang mendukung Israel dengan sangat kuat, ada batasan yang tidak disampaikan secara langsung, yakni kepentingan ekonomi AS. Manakala kebijakan yang diambil Israel (dalam bentuk perang yang berkepanjangan, bahkan cenderung meluas seperti ke Suriah dan Yaman) mengancam kepentingan ekonomi AS, maka Trump memilih untuk mengutamakan kepentingan AS dengan semangat America First yang sangat ditekankan. Dan, dalam konteks membangun sekaligus membela kepentingan ekonomi AS, Trump meletakkan seluruh negara di posisi yang sama; harus menguntungkan AS, termasuk Israel.

Baca juga Timur Tengah 2025

Inilah yang bisa menjelaskan kenapa Trump juga memberlakukan kebijakan tarif cukup tinggi kepada Israel (17%). Padahal selama ini AS sangat dekat dengan Israel. Bahkan ada yang mengatakan Israel seperti AS kecil, sebagaimana AS tak ubahnya Israel besar.

Dalam hemat penulis, inilah yang membuat Netanyahu harus kembali berkunjung ke AS pada awal Maret kemarin (7/3), padahal tak lama sebelumnya dia sudah berkunjung ke AS pascapelantikan Trump. Menurut sebagian sumber, kunjungan dan pertemuan Netanyahu-Trump yang kedua tak lepas dari kebijakan tarif yang juga diberlakukan Trump kepada Israel. Mengingat ekonomi Israel tidak sedang baik-baik saja setelah terlibat dalam perang panjang sekaligus multifront seperti sekarang.

Benturan kepentingan

Pada tahap tertentu, kepentingan Trump dan Netanyahu tampaknya tak lagi sejalan, justru bertabrakan. Kepentingan Netanyahu bisa mengancam kepentingan Trump; mengamankan ekonomi AS. Pun demikian sebaliknya, kepentingan Trump bisa menghancurkan kepentingan Netanyahu: melanjutkan perang sekaligus melanjutkan kepemimpinannya.

Persoalannya, dalam konteks Timur Tengah secara umum, keputusan dan kepentingan AS masih menjadi faktor yang paling menentukan, termasuk terhadap Israel. Dengan kata lain, manakala kepentingan AS menginginkan perang Gaza berakhir, maka besar kemungkinan ini pula yang akan terjadi, bahkan walaupun hal itu ditentang oleh Israel sekalipun.

Situasi di Suriah juga menjadi ajang perbedaan antara Israel di bawah kepemimpinan Netanyahu dan AS di bawah kepemimpinan Trump. Sebagaimana kerap disampaikan, Trump menyatakan tidak tertarik untuk terlibat lebih dalam terkait konflik di Suriah setelah lengsernya rezim Assad. Bahkan AS terus mengurangi jumlah tentaranya yang ada di Suriah.

Berbeda dari kebijakan AS, Israel justru tampak semakin ambisius untuk menciptakan Suriah yang lebih aman dan tidak mengancam keberadaan negara Yahudi itu. Dalam perkembangan terakhir, Israel menyerang lokasi dekat Istana Kepresidenan Suriah di Damaskus sebagai peringatan agar pemerintahan Suriah yang baru tidak menyerang kelompok minoritas Druze. Padahal, kelompok Druze sendiri masih terpecah antara pihak yang pro dan kontra soal dukungan oleh Israel.

Baca juga Menyambut Gencatan Senjata Israel-Hamas

Perbedaan sikap antara AS dan Israel terkait dengan perkembangan politik di Suriah akhirnya juga menjalar pada perbedaan keduanya dalam konteks pemerintahan Turki di bawah kepemimpinan Erdogan. Sejak Assad meninggalkan Suriah pada 8 Desember 2024 lalu, Trump menyambut baik peran Turki. Beberapa hari setelah Assad lengser, Trump bahkan pernah memuji Erdogan sebagai sosok yang sangat cerdas dan akan memegang kunci perkembangan Suriah ke depan.

Sebaliknya Israel justru tidak bahagia dengan peran Turki yang semakin besar di Suriah seusai lengsernya Assad. Bagi Israel, Suriah dimanfaatkan oleh Turki untuk kepentingan negeri Ottoman itu, termasuk dalam pengembangan persenjataannya yang pada waktunya berarti ancaman bagi Israel. Menurut sebagian sumber di Timur Tengah, ketika pasukan udara Israel menyerang lokasi dekat Istana Kepresidenan Suriah beberapa waktu lalu, pesawat tempur Turki sempat turun tangan secara langsung.

Inilah yang bisa menjelaskan kenapa Trump hanya berkunjung ke tiga negara kaya minyak di atas, kenapa Trump tidak mampir ke Israel. Bahkan ini pula yang bisa menjelaskan, kenapa Trump melakukan gencatan senjata dengan Houthi dan bersepakat dengan Hamas (dalam pembebasan Alexander) tanpa melibatkan Netanyahu.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....