Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme.
Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kemenimipas di Surabaya pertengahan November 2025 lalu.
Ali mengatakan akar terorisme tidak tunggal, bahkan saling berkaitan. Karena itu, menurut dia, cara penanganannya juga tidak bisa dilakukan dengan metode tunggal, melainkan harus banyak aspek, perspektif dan metodologi.
“Ibarat sebuah penyakit, terorisme ini termasuk penyakit yang mengalami komplikasi, butuh dokter spesialis dan obat yang tepat. Kegagalan pengobatan sering terjadi karena faktor diagnosa yang salah,” tegas Ali.
Baca juga: Petugas Lapas Garda Terdepan Pembinaan Napiter
Adik kandung Ali Imron ini menyarankan petugas Lapas untuk menghindari diskusi mendalam terkait ideologi jihad dengan WBP kasus terorisme jika belum memahami masalahnya. Menurut dia, diskusi sebaiknya dilakukan dengan menonjolkan keadaan atau kondisi keluarganya di rumah, siapa yang bertanggung jawab, dan sekolah anak-anaknya.
“Oleh karena itu, WBP kasus terorisme jangan dijauhi, harus diajak diskusi. Jangan terlalu membesarkan, perlakukan mereka dengan biasa saja sebagaimana manusia biasa. Bisa dicoba berdiskusi dengan istilah-istilah tadi yang disebutkan,” ujarnya.
Dahulu, lanjut dia, sebelum ada pelatihan-pelatihan seperti ini, penanganan WBP kasus terorisme di Lapas sama dengan WBP pidana umum sehingga kurang berhasil. Namun setelah ada pelatihan seperti AIDA, para petugas Lapas mulai memahami cara menghadapi WBP kasus terorisme.
Baca juga: Meningkatkan Pengetahuan dan Profesionalisme Petugas Lapas
Ali menyarankan petugas Lapas agar bisa menumbuhkan kepercayaan WBP kasus terorisme terhadap mereka. Salah satu caranya, kata dia, dengan menggunakan bahasa yang biasa mereka gunakan saat berkomunikasi seperti antum, ana, zaujah. Penggunaan bahasa-bahasa tersebut untuk mengambil hati mereka. [AS]
