Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib.
Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat terkena ledakan bom terorisme, 9 September 2004 silam. “Jujur saja traumanya susah hilang bahkan, sampai sekarang traumanya masih ada,” ujar Sudirman dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN 2 Makassar, Sulawesi Selatan, yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA), September 2024 lalu.
Baca juga: Belajar dari Semangat Sudirman Mengejar Mimpi
Pria asal Bima, Nusa Tenggara Barat ini selalu berupaya untuk tidak terus takut dan trauma. Menurut dia, jika terus takut dan trauma maka dirinya tidak akan pernah maju dan menjadi lebih baik. Sementara di dalam keluarganya, ia menjadi tulang punggung.
“Saya menyadari bahwa saya menjadi tulang punggung keluarga dan adik-adik membutuhkan saya, serta saya pun masih membutuhkan masa depan,” tutur Sudirman.
Kesadaran itulah yang mendorong Sudirman untuk melawan traumanya. “Saya melawan rasa takut untuk masa depan saya yang lebih baik. Saya melawan rasa takut untuk membantu keluarga dan membantu kebutuhan adik-adik saya sekolah,” ujar dia. [AS]
