Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14 Januari 2016 silam, namun ia tidak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan.
“Pesan saya jangan balas kekerasan dengan kekerasan. Jika kekerasan dibalas kekerasan maka tidak akan berhenti sampai di situ, kekerasan akan terus bertambah,” ujarnya dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN 4 Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA), Juli 2024 lalu.
Andin, begitu sapaan akrabnya, menceritakan untuk bisa memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme prosesnya diawali dengan berdamai dengan diri sendiri. Menurut dia, jika sudah bisa memaafkan diri sendiri maka akan bisa memaafkan orang lain.
Baca juga: Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua
“Alhamdulillah dengan rasa damai dan memaafkan yang saya punya, saya bisa duduk berdampingan dengan mantan pelaku mengampanyekan perdamaian ke masyarakat,” tutur Andin.
Ia menceritakan pengalaman pribadinya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme. Saat itu ia merasa deg-degan dan takut bertemu mantan pelaku terorisme karena dalam benak pikirannya apakah mantan pelaku benar-benar bertobat. Ketakutannya tersebut karena ia tidak ingin menjadi korban untuk kedua kalinya.
“Alhamdulillah ada AIDA yang mendampingi dan saya juga melihat banyak perubahan dan perbedaan pada sosok mantan pelaku,” ujar dia. [AS]
