Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta
Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026
Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan hingga merancang organisasi bayangan agar terlihat kredibel—menjadi pukulan telak bagi marwah perguruan tinggi.
Alih-alih merawat forum ilmiah sebagai ruang kurasi gagasan dan perdebatan metodologis, acara-acara tersebut direkayasa murni sebagai mesin pendulang keuntungan finansial semata. Peristiwa ini melampaui sekadar pelanggaran administratif biasa; ini adalah patologi kronis yang secara telanjang menandai runtuhnya integritas akademik di tingkat tertinggi.
Secara sosiologis, anomali masif ini dapat dibedah melalui kerangka Pierre Bourdieu mengenai pertarungan dalam arena (field) akademik. Ruang intelektual saat ini tampak nyata telah terkooptasi oleh nalar kapitalistik yang pragmatis. Di dalam sistem tersebut, ”modal kultural”—seperti gelar akademik, riwayat publikasi, dan prestise partisipasi tingkat global—secara paksa dikonversi menjadi ”modal ekonomi” demi akumulasi kapital segelintir elite kampus.
Praktik manipulatif ini tumbuh subur akibat kuatnya tekanan struktural yang akhirnya membentuk habitus birokratisasi. Para dosen sering kali tersandera oleh fetisisme terhadap metrik angka. Beban berat dari pemenuhan beban kinerja dosen (BKD), tuntutan mengumpulkan angka kredit kumulatif (kum) demi mengejar promosi jabatan, hingga obsesi berlebihan institusi pada pemeringkatan indikator kinerja utama (IKU) dan internasional, kerap menyingkirkan rasionalitas keilmuan.
Ketika sistem terus menuntut kuantitas tanpa diimbangi ekosistem riset yang memadai, pragmatisme mengambil alih. Para oportunis melihat celah pasar, tingginya keputusasaan untuk meraih sertifikat instan bertemu dengan penawaran konferensi palsu. Inilah puncak komodifikasi, saat karya pemikiran direduksi habis menjadi sekadar prasyarat administratif.
Umberto Eco (1981) pernah melontarkan premis bahwa semiotika pada hakikatnya adalah disiplin untuk mempelajari segala hal yang bisa dipakai untuk berbohong. Keberadaan konferensi abal-abal ini adalah manifestasi paling sempurna dari kebohongan struktur tanda tersebut. Dalam kerangka pemikiran strukturalis Ferdinand de Saussure, sebuah tanda (sign) mengikat penanda (signifier) dan petanda (signified). Secara historis, ”konferensi internasional” adalah penanda yang memiliki petanda mulia: dialektika intelektual lintas negara dan dedikasi pada verifikasi kebenaran. Namun, dalam kasus ini, terjadi pengosongan petanda secara radikal.
Mengacu semiotikawan Roland Barthes, maka tanda asli itu telah dibajak untuk memproduksi signifikasi orde kedua. Konferensi internasional telah menjelma menjadi sebuah mitos; tampak mentereng di permukaan, tetapi hampa dari esensi. Maknanya bergeser jauh dari ”pengembangan ilmu” menjadi sekadar ”transaksi bisnis jalan pintas”.
Lebih jauh, jika didekati melalui semiotika teater Tadeusz Kowzan (Aston dan Savona 1991), seluruh rangkaian konferensi ini tak ubahnya sebuah teks panggung pertunjukan. Atribut visual dan tekstual—seperti pencatutan nama pakar asing sebagai penelaah, situs web dengan foto destinasi wisata eksotis, hingga pemilihan hotel mewah—hanyalah tata rias, kostum, dan properti panggung. Elemen-elemen ini dirangkai secara sistematis untuk membangun ilusi realisme, memanipulasi kesadaran publik seolah-olah tengah berlangsung sebuah peristiwa akademik yang valid. Para guru besar bertindak sebagai aktor sekaligus sutradara naskah kebohongan. Di atas panggung artifisial tersebut, kebenaran ilmiah tidak pernah mendapat tempat; yang tersisa hanyalah pameran performativitas yang semu.
Dampak jangka panjang panggung sandiwara ini amat destruktif. Pertama, terjadi devaluasi nilai keilmuan yang memicu inflasi gelar akademik. Saat gelar profesor tidak lagi merepresentasikan kapasitas intelektual yang orisinal, kepercayaan publik terhadap mutu perguruan tinggi akan merosot tajam.
Kedua, hancurnya standar evaluasi akademik di tingkat akar rumput. Menjadi ironi yang sangat kelam; sangat sulit membayangkan bagaimana standar mutu, orisinalitas riset, dan ketajaman metodologi mahasiswa dapat dievaluasi secara obyektif jika para pengujinya sendiri justru menjadi pihak yang merawat kultur manipulasi keilmuan.
Ketiga, praktik ini secara langsung meracuni generasi akademisi muda. Ketika barisan pendidik pemula menyaksikan senior mereka melenggang ke puncak karier melalui jalan pintas, reproduksi budaya instan ini perlahan akan dianggap sebagai kelaziman. Energi yang semestinya dikerahkan untuk memecahkan persoalan riil masyarakat justru terkuras habis untuk ”bermain peran” demi memenuhi metrik birokrasi.
Investigasi atas ladang bisnis konferensi internasional fiktif ini adalah alarm darurat. Secara semiotik, deretan peristiwa ini mengonfirmasi terjadinya krisis makna yang mendalam: institusi keilmuan telah terlucuti dari integritasnya dan direndahkan sebatas komoditas ekonomi transaksional. Perguruan tinggi harus segera ditarik kembali ke garis khitahnya sebagai penjaga nilai kebenaran. Tanpa ada perombakan membongkar habitus koruptif ini, masa depan pendidikan tinggi kita kelak hanya akan memproduksi barisan panjang gelar mentereng yang menari secara ironis di atas pusara integritas.
