Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004.
Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul bantuan pendidikan untuk anak-anak saya. Sejak menjadi orang tua tunggal di tahun 2019, saya tidak pernah membayangkan bisa menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi. Keinginan itu ada, tentu saja. Namun dengan kondisi saya saat itu, rasanya amat sangat tidak mungkin—jauh panggang dari api, kata orang Minang.
Alhamdulillah, pada tahun 2020, Allah membuka jalan yang tak pernah saya duga. Kehadiran negara melalui Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) dan memberikan kompensasi kepada para korban terorisme masa lampau, sangat besar manfaatnya bagi kami para penyintas. Tanpa pikir panjang, seluruh dana itu saya niatkan untuk mengkuliahkan anak pertama saya, Acha. Banyak yang menganggap saya nekat, tidak berpikir panjang, bahkan egois—karena masih ada Lala dan Keisha yang juga membutuhkan biaya kala itu. Namun yang ada di kepala saya saat itu hanya satu: selamatkan dulu yang satu ini, dengan harapan kelak ia menjadi anak yang berhasil dan dapat membantu adik-adiknya.
Baca juga: Nanda Olivia, Perempuan Tangguh Korban Terorisme
Di tahun yang sama, pandemi melanda. Tabungan kuliah Acha perlahan terkuras, demi untuk bertahan hidup dan menjaga kewarasan. Lagi-lagi, negara hadir memberi bantuan pendidikan. Lala dan Keisha mendapatkan Kartu Jakarta Pintar (KJP), sementara Acha memperoleh KJMU untuk melanjutkan kuliahnya. MasyaAllah…
Pada 12 Desember 2025, akhirnya Acha wisuda dengan predikat cumlaude! Tapi sedihnya saya tidak bisa hadir memberikan pelukan hangat dan support terbaik saya. Mungkin karena Allah tahu saya akan senorak apa nantinya. Haha! Rasa bangga, haru, sedih, dan bahagia bercampur menjadi satu—nano-nano rasanya! Semua ini tidak mungkin terwujud tanpa ijin Allah Yang Maha Memampukan, serta dukungan keluarga besar saya terutama mama, papa, suami, kakak dan adik-adik saya, juga para sahabat yang setia menjadi “tong sampah” saya.
Di tahun yang sama, Juni 2025 lalu, anak kedua saya, Lala, diterima di ITB Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian. MasyaAllah…from one tears to another! Puji syukur tidak henti-hentinya saya panjatkan atas semua berkah dan karunia Allah SWT. Lagi-lagi negara hadir memberikan supportnya melalui KIPK. Lala yang diterima melalui jalur mandiri, alhamdulillah mendapat keringanan biaya kuliah melalui KIPK. Meskipun sedih tidak bisa hadir di hari bahagia mereka, tapi saya yakin mereka tahu betapa saya sayang sama mereka dan betapa inginnya saya hadir di samping mereka. Semoga kelak Acha, Lala, dan Keisha tumbuh menjadi perempuan yang bermartabat dan bermanfaat bagi banyak orang. So proud of you, three!
Sungguh 22 tahun yang penuh berkah. Terima kasih, ya Allah…
*Dedicated to my three daughters:
“whatever sacrifice I made, is none of your bussines. Your job is to be happy, be kind and be succesful.”
