HomeBeritaKetika Korban Ledakan Bom...

Ketika Korban Ledakan Bom dan Mantan Teroris Kampanyekan Perdamaian

Meskipun sudah 13 tahun berlalu, perempuan kelahiran Purwakarta ini ingat betul bagaimana musibah itu merenggut nyawa orang tak bersalah.

“Ketika kami menunggu di lobby, sekitar pukul satu siang, tiba-tiba ada dentuman, dan refleks saya melihat ke dentuman itu. Pada saat menoleh, bola api dan dentuman sangat keras seperti mau melahap kami, saya dan orang disekitar hotel.”

“Saya tidak sadarkan diri, dan saya baru sadar setelah membuka mata dengan kondisi sangat gelap dan pengap,” ungkap Vivi Normasari, menceritakan kisahnya di sela kegiatan Short Course Penguata­n Perspektif Korban d­alam Peliputan Isu Te­rorisme bagi Insan Me­dia di Surabaya, Minggu (23/10/2016).

Dalam musibah itu, Vivi mengalami luka bakar dan kecacatan permanen pada tangan. Namun semua itu tak menyurutkan dirinya untuk bangkit meski diakui sempat ada rasa trauma dan minder.

“Menjelang pernikahan saya memutuskan tidak menyelenggarakan pernikahan dengan kekasih saya. Pernikahan saya di November itu diundur dua kali. Saya merasa tidak pantas mendampingi calon saya, karena tidak lagi berguna, anggota tubuh saya alami kecacatan,” paparnya.

Titik balik anak kedua dari empat bersaudara ini seketika itu berubah ketika berjumpa dengan korban bom lainnya. Sikap yang sebelumnya tertutup akibat kecacatan yang dialami perlahan terbuka. Bahkan Ia juga tak sungkan lagi berbagi cerita.

Baginya, dengan bercerita setidaknya bisa membuka mata hati pelaku bom bahwa tindakan mereka mengakibatkan orang lain cacat seumur hidup dan trauma.

“Setelah kejadian saya di undang JW Marriott Hotel untuk memperingati satu tahun bom Marriott dan saya bertemu korban juga, securty JW Marriott, namanya Bambang. Ia mengalami luka bakar hampir 70 persen, kehilangan telinga, tangan dua-duanya pakai tangan palsu, kakinya juga sama.”

“Saya melihat kok mereka tidak ada rasa sedih. Disitu saya mulai berpikir luka saya tidak seberapa. Saya berkaca dari mereka untuk bangkit,” terangnya.

Vivi mengaku sekarang ini tidak menaruh dendam terhadap kelompok pelaku meskipun organ tubuhnya tidak lagi normal. Pertemuan dengan Ali Fauzi Manzi, mantan teroris sekaligus adik kandung Amrozi dan Ali Imron seakan menjadi misi baru mengampanyekan pencegahan terorisme di Indonesia.

“Memang pada saat itu kondisi saya marah. Saya belum diperkenalkan secara pribadi. Namun pada saat titik Pak Ali nangis, mulai saya introspeksi wah saya jahat. Pak Ali nangis dan bilang dia tak tahan berada di ruangan ini. Saya merasa kok saya jahat. Akhirnya kami saling memaafkan,” urainya.

Ali Fauzi menyatakan kasus teror bom yang terjadi merupakan bentuk pembelokan akidah. Penyesalanpun tumbuh ketika yang menjadi korban adalah orang tidak bersalah.

Ali juga menerangkan bagaimana dia direkrut hingga dididik menjadi seorang yang ahli merakit bom. Namun ternyata ilmu yang dimiliki justru membawa bencana sehingga jatuh banyak korban.

“Saya remuk pertama kali ditemukan kawan-kawan korban bom. Disitu saya seperti diadili. Tapi saya sudah niatkan apapun yang keluar, apapun hujatan dari korban, saya akan terima karena bagi saya itu merupakan konsekwensi dari perdamaian,” terang Ali Fauzi.

 

Perhatian Pemerintah Kurang

Penyembuhan luka dan psikologis korban bom bukanlah perkara mudah. Rasa traumatik yang berkepanjangan dan rasa sakit yang dialami seakan menjadi tantangan bagi pemerintah untuk memberikan yang terbaik. Alih-alih melindungi warganya, pemerintah dinilai belum hadir secara maksimal. Hal itulah yang dirasa Mulyono Sutrisman, korban Bom Kuningan.

Meski Mulyono mengaku memori daya ingatnya melemah akibat ledakan bom, namun masih mengingat kejadian 2004 itu. Dari serangkaian kejadian hingga dagunya hilang akibat bom, ada memori yang masih melekat, dimana rumah sakit tidak mau menangani karena tidak adanya jaminan.

“Rumah sakit tidak ada jaminan, tidak mau nangani. Sore baru ditangani karena ada jaminan dari kantor. Di evakuasi ke Singapura Jumat malam. Dan akhirnya Pemerintah Australia memberikan bantuan,” katanya.

Pemerintah, lanjut Mulyono, harus hadir, termasuk soal masalah biaya kesehatan. Sebab, proses penyembuhan pastilah lama dan membutuhkan proses.

Mulyono yang juga Ketua Forum Kuningan ini juga menyayangkan bantuan pengobatan LPSK yang akan dihentikan karena keterbatasan anggaran.

“Harusnya itu tidak terjadi. Kalau dihentikan kan sakit tidak bisa dihentikan, itu realitasnya. Semestinya ada dana tersendiri bagi korban maupun keluarga korban terkena bom,” urainya.

Terkait masalah pendidikan anak korban ledakan bom juga menjadi sorotan Mulyono. Tulang punggung yang sebelumnya bisa menafkahi keluarga, kini  tidak lagi. Ledakam bom yang terjadi menyebabkan kecacatan permanen bahkan kematian.

“Yang terjadi ada korban meninggal. Kami mencoba mendapatkan beasiswa bagi anak-anak karena kondisi ekonomi benar-benar jatuh pada saat Ayahnya meninggal. Pendayaan ekonomi juga perlu karena pada saat jatuh, kondisi ekonomi juga jatuh,” terang Mulyono.

Harapan sama juga diutarakan Ni Wayan Leniasih, istri dari korban Bom Bali yang menjadi korban. Praktis sejak musibah terjadi, Leniasih harus membanting tulang menghidupi dua anaknya yang masih kecil.

“Saya benar-benar kewalahan. Saat ini saya belum rasakan bantuan pemerintah. Tulang punggung saya sekarang tidak ada. Ya saya berharap ada bantuan pendidikan dan kesehatan,” beber Leniasih.

Direktur Aliansi Indonesia, Damai Hasibullah Satrawi, mengatakan pemerintah harus lebih memperhatikan korban. Berdasarkan pengakuan dari beberapa korban, pada waktu kejadian pemboman, tidak sedikit dari mereka yang harus menunggu selama berjam-jam untuk mendapatkan layanan medis karena menunggu jaminan pembiayaan dari pemerintah.

“Ini harus ada dana khusus, agar tak kesulitan mengeluarkan dana. Anggaran untuk korban terorisme. Kita mendorong Kemenkeu menggunakan dana cadangan supaya bisa dikeluarkan sewaktu-waktu,” pungkasnya. (Ben/WDA) [SWD]

 

Artikel ini pernah dimuat di rri.co.id, 23 Oktober 2016.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...