HomeBeritaMembangun Damai dari Lapas

Membangun Damai dari Lapas

Para peserta dan pejabat Ditjen Pemasyarakatan berfoto bersama dalam kegiatan Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan (11/7/2017).

 

Hampir lima belas tahun berlalu, Ni Ketut Jontri masih mengingat betul perjuangannya mencari jenazah almarhum suaminya, I Ketut Candra, yang menjadi korban aksi teror bom di Legian, Bali, 12 Oktober 2002. Bersama keluarganya, ia berulangkali mendatangi seluruh rumah sakit yang merawat korban Bom Bali. Tiga bulan lamanya upaya tersebut baru menuai hasil. Jasad suaminya berhasil diidentifikasi di Rumah Sakit Sanglah Denpasar.

“Tubuhnya sudah hancur, nyaris tidak dapat dikenali, tapi ada beberapa tanda tubuhnya yang masih bisa saya kenali,” ujar Ketut Jontri dalam kegiatan Pelatihan Penguatan Perspektif  Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan di Makassar, pertengahan Agustus lalu.

Dalam kegiatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) sebanyak 16 petugas dari 14 lembaga pemasyarakatan (Lapas) di wilayah Sulawesi hadir sebagai peserta.

Saat peristiwa terjadi, suami Jontri yang bekerja sebagai pengemudi sedang menunggu tamu di sekitar lokasi ledakan. Sesaat sebelum peristiwa, Jontri dihinggapi perasaan tak enak. Anaknya yang masih kecil menangis terus-menerus. Sehari sebelum kejadian dia juga bermimpi buruk.

Trauma sangat mendalam akibat kehilangan seorang ayah dirasakan oleh anak-anaknya. Anak kedua sempat sangat marah saat melihat berita penangkapan para pelaku Bom Bali di televisi. “Dia bahkan  ingin melempari TV-nya,” kata Jontri mengenang.

Seiring waktu Jontri dan anaknya terus berusaha mengikhlaskan peristiwa itu. Kini dia bekerja sebagai penjahit untuk menafkahi dua buah hatinya.

Dalam kegiatan ini hadir pula Joshua Ramos, korban Bom Kuningan 2004. Ia adalah petugas keamanan Kedutaan Besar Australia. Saat peristiwa bom terjadi, ia terlempar beberapa meter ke belakang. Saat kesadarannya pulih, ia menolong rekannya yang mengalami cedera parah dan mengantarkannya ke rumah sakit terdekat.

Saat tiba di rumah sakit, ia merasa kakinya tak bisa digerakkan lagi. “Ternyata ada logam masuk ke tempurung lutut. Setelah dioperasi, saya dipersilakan pulang. Saat itu rawat inap diprioritaskan bagi korban yang terluka parah,” ucapnya.

Dalam proses rawat jalan, ditemukan sejumlah cedera lain yang mengharuskan Joshua menjalani pengobatan terus-menerus. Hingga sekarang, 13 tahun setelah tragedi teror, dia masih harus mengonsumsi obat rekomendasi dokter.

Secara psikis, Joshua juga sempat terguncang. Sebab, saat teror bom terjadi, ia belum lama memeluk agama Islam. Para pelaku aksi teror juga muslim yang mengatasnamakan aksinya sebagai perjuangan membela agama. Ia sempat berpikir, apakah keputusannya memeluk Islam adalah kesalahan. Setelah melalui pergulatan pikiran dan mental, Joshua memutuskan tetap menjadi muslim dan bekerja di Kedubes Australia hingga sekarang.

Selain korban, dalam kegiatan ini hadir pula Tim Perdamaian -penyintas dan mantan pelaku terorisme yang telah berekonsiliasi- yaitu Suyanto, penyintas Bom Bali 2002, dan Kurnia Widodo, mantan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme yang telah meninggalkan dunia kekerasan.

Suyanto mengaku bersyukur dapat selamat dari tragedi yang meluluhlantakkan bangunan tempatnya bekerja. Dia menyebut kehidupannya saat ini sebagai nikmat hidup kedua yang diberikan Tuhan.

Sementara itu, Kurnia menceritakan pengalamannya dahulu terjerumus ke dalam jaringan teroris. Pada pertengahan 2010, ia tertangkap dan menjalani hukuman di Lapas Cipinang. Selama di Lapas ia mulai menyadari kesalahannya di masa lalu. Ketika bebas, ia banyak bergaul dan berdiskusi dengan tokoh-tokoh ekstrem yang sudah berubah. Kesadarannya untuk berubah semakin kuat ketika bertemu para korban terorisme. Dia mengaku penderitaan para korban menumbuhkan empati dalam dirinya serta membuatnya menyesali perbuatan masa lalunya saat bergabung dengan kelompok kekerasan. Kini ia merintis usaha kecil-kecilan sembari mengajar les privat anak-anak sekolah. “Bagi saya hal kecil untuk perdamaian lebih bernilai ketimbang hal besar untuk kekerasan,” kata dia.

Dalam kesempatan tersebut, Kurnia membeberkan sejumlah doktrin yang diterimanya saat bergabung dalam kelompok ekstrem, antara lain mengafirkan pemerintah dan aparatnya, antiupacara bendera dan simbol-simbol demokrasi, menghalalkan kekerasan seperti perampokan (fai’) dan konfrontasi langsung untuk mencapai tujuan, menghindari salat berjamaah di masjid umum, serta tidak makan daging yang dijual di pasar. “Kalau ada saudara atau teman kita yang perilakunya seperti itu, tanda-tanda dia sudah terkena doktrin radikalisme,” dia menerangkan.

Suyanto dan Kurnia telah melampaui masa-masa sulit dan kini berekonsiliasi menjadi Tim Perdamaian untuk mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat.

Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, menjelaskan bahwa dari kehadiran para korban, petugas Lapas dapat menyaksikan langsung dampak terorisme. Para peserta diharapkan mendapatkan potret utuh korban. “Sementara dari mantan pelaku terorisme, para peserta dapat memahami proses dan tahapan perubahan pikiran dan perilaku WBP terorisme,” kata dia.

Dengan melihat dampak terorisme dalam diri korban, diharapkan komitmen petugas dalam mencegah terorisme semakin kuat. Lebih dari itu, para petugas dapat menyampaikan kisah-kisah korban saat berbincang dengan WBP di dalam Lapas. Kisah korban diharapkan dapat memancing empati dan pikiran kritis WBP terhadap ideologi kekerasan yang diyakini sebagai kebenaran.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Sulawesi Selatan, Sahabuddin Kilkoda, membuka kegiatan dengan membacakan sambutan dari Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen Pas), I Wayan Kusmiantha Dusak. Dalam sambutannya, Dirjen Pas mengapresiasi kegiatan AIDA karena menawarkan pendekatan baru dalam sistem pembinaan WBP kasus terorisme di Lapas. Sahabuddin sendiri mengapresiasi kegiatan ini digelar di wilayah kerja yang ia pimpin. [MSY]

 

*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA “Suara Perdamaian” edisi XIV Oktober 2017.

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag menyatakan negara telah hadir untuk mendukung pondok pesantren. “Kita melihat bukti-bukti negara telah hadir di pondok pesantren,” ujar Basnang saat berbincang dengan redaksi di kantornya Jakarta dua pekan lalu.Basnang menjelaskan bukti...

Orientasi Pesantren Terwujudnya Indonesia Harmoni

Aliansi Indonesia Damai- Ke depan setiap pesantren siapa pun pendirinya harus selalu berorientasi pada terwujudnya Indonesia yang harmoni, Indonesia yang damai, Indonesia yang toleran.Pernyataan tersebut ditegaskan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag saat berbincang dengan redaksi di kantornya...